Akalasia Esofagus

Akalasia esofagus merupakan jenis kelainan pada esofagus (kerongkongan) yang gagal melakukan gerakan peristaltik (yaitu gerak otot kerongkongan agar makanan terdorong ke lambung). Kelainan akalasia dikenal juga sebagai namasimple, ectasia, kardiospasme dan megaesofagus.[1]

Pada pasien yang sehat, normalnya lower eshopageal sphincter (LES) akan mengendur jika ada makanan sehingga makanan masuk ke perut. Namun, berbeda pada penderita akalasia, LES tidak mengendur dengan baik, sehingga makanan tertahan di bagian bawah kerongkongan kemudian naik kembali(muntah).[2]

Berdasarkan data dari International Society for Disease of Esophagus (ISDE) angka kejadian akalasia berada di 0,7-1,6 kasus tiap 100.000 populasi. Di Indonesia sendiri hanya ada 48 kasus pada rentang tahun 1984-1988 di RSCM. Sedangkan pada tahun 2009-2010 di RSUD Dr. Soetomo hanya terdapat 5 kasus. Oleh karena itu, penyakit akalasia dikategorikan sebagai penyakit yang langka.[3][2][1]

Faktor dan gejala

Faktor penyebab akalasia belum diketahui secara pasti. Namun faktor genetika, penuan, kerusakan saraf, autoimun(Sjogren, lupus dan uveitis) dan infeksi penyakit diduga ada kaitannya dengan munculnya akalasia. Gejala khusus dari penyakit akalasia adalah kesulitan menelan baik berupa padatan maupun cair. Terjadi pula regurgitasi, nyeri dada substernal, penuruan berat badan serta dispepsia. Gejala lain yang ditunjukkan berupa bantuk di malam hari, aspirasi dan pneumonia.[1][3][2]

Penanganan medis

Sebagai penanganan awal, biasanya penderita menjalani pemeriksaan radiologi dan endoskopi. Bagi rumah sakit yang sudah lengkap, biasanya dilakukan juga manometri sebagai standar baku. Setelah menjalani pemeriksaan, barulah dilakukan terapi. Terapi yang bisa dijalani ada terapi medik, terapi businasi/dilatasi, injeksi botolium tiep A dan operasi Heller.[3]

Komplikasi

Akalasia punya risiko komplikasi ke organ lain. Berikut rinciannya:

• Regurgitasi yaitu naiknya asam lambung/makanan ke kerongkongan

• Pneumonia yang disebabkan masuknya makanan ke paru-paru

• Perforasi esophagus yaitu robeknya dinding kerongkongan

• Kanker esofagus[2]

Referensi

  1. ^ a b c "Garuda - Garba Rujukan Digital". garuda.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 2022-06-23.
  2. ^ a b c d Endris, Atma (2021). Ensiklopedi Macam-Macam Penyakit. Hikam Pustaka. hlm. 3–4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ a b c "Manajemen Akalasia dengan Kandidiasis dan Bradikardi". Unair News (dalam bahasa American English). 2021-02-09. Diakses tanggal 2022-06-23.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.