Asjraq

Asjraq
Edisi April 1925
FrekuensiBulanan
Terbitan pertamaJanuari 1925; 101 tahun lalu (1925-01)
Terbitan terakhir1928; 97 tahun lalu (1928)
NegaraHindia Belanda
Berpusat di
BahasaMelayu

Asjraq atau Alsjarq ("Timur"), kemudian bernama Soeara Kaoem Iboe Soematera (EYD: Suara Kaum Ibu Sumatera), adalah sebuah majalah perempuan yang terbit di Sumatera Barat, Hindia Belanda (kini Indonesia) antara 1925 hingga 1930-an. Semula dewan redaksinya terdiri atas laki-laki, tetapi setelah beberapa edisi kepemimpinan diambil alih oleh perempuan dari beragam organisasi perempuan di sana. Artikel-artikel yang dimuat dalam Asjraq secara terbuka mengkritik perlakuan terhadap perempuan dalam masyarakat Minangkabau dan mendorong kemajuan pendidikan. Tema-tema seruipa juga ditemukan dalam cerita pendek yang dimuat di dalamnya.

Sejarah

Edisi pertama majalah Asjraq diterbitkan pada bulan Januari 1925 dan dicetak oleh De Volharding. Judulnya diambil dari kata asyraq, yang berarti "timur" dalam bahasa Arab. Setiap edisi majalah Asjraq menggunakan dua sistem penanggalan, yaitu kalender Hijriah dan Kalender Gregorius.[1] Majalah ini disediakan untuk khalayak umum,[2] dengan biaya pelangganan satu gulden per tiga bulan.[3] Majalah Asjraq diterbitkan secara bulanan oleh Sarikat Kaoem Iboe Soematra.[4][5] Kantor redaksinya beralamat di Alang Lawas.

Pada awalnya, majalah Asjraq dipimpin oleh dewan redaksi yang seluruh anggotanya laki-laki, yaitu R. Effendi, M. Rasjid Manggis [min], dan Abisin Abbas.[1] Untuk memperluas jangkauan majalah Asjraq dan lebih melibatkan anggota organisasi perempuan, tiga orang redaktur ini melakukan safari ke empat kota di Sumatera Barat, yaitu ke Koto Gadang, Fort de Kock (sekarang Bukittinggi), Payakumbuh, dan Padang Panjang. Dengan menghubungi berbagai organisasi perempuan—yakni Meisjesbond, Perserikatan Kaoem Iboe, Vrouwenbond, dan Meisjesvereeniging, mereka hendak menjadi menjadi wadah federasi organisasi perempuan.[6] Pada edisi keempat, yang terbit di bulan April 1925, dewan redaksi ini mengumumkan bahwa mereka sudah menuntaskan kewajiban mereka sebagai lelaki dan "membawa saudara-saudara [mereka] ke dalam balairung permufakatan kaum ibu".[1] Mereka diganti oleh tiga dewan redaksi baru, yang terdiri dari T. S. Moro, Fatimah, dan Rawani di Kota Padang, S. Ramalah, Sjafiah, dan Anjus Almatsir di Fort de Kock, dan Sjamsoe, Aisjah, Ratna, dan Ramulnas di Payakumbuh. Semua anggota dewan redaksi ini merupakan perempuan.[3] Untuk memperlancar distribusi majalah Asjraq, setiap organisasi perempuan yang terlibat dalam penerbitannya menetapkan seorang agen. Penerbitan majalah Asjraq didanai dengan hasil penjualan kerajinan tangan Nawa Poeteri.[4]

Sejak tahun ketiga tahun 1927, Asjraq berganti menjadi Alsjarq.[2] Pada edisi pertama tahun 1929, Alsjarq mengumumkan telah memindahkan kantor redaksi dari Padang ke Bukittinggi karena di sana "lebih banyak ibu-ibu yang berpendidikan".[7] Majalah dicetak oleh percetakan Agam.[8] Pada kepala majalah, nama berbagai perkumpulan perempuan di Sumatera Barat sudah disebut sebagai cabang Sarikat Kaoem Iboe Soematra (ditulis sebagai cabang Padang, Padang Pandjang, Fort van der Capellen, Pariaman, Payakumbuh, dan Fort de Kock) .[9] Namun, tak lama setelah itu, Asjraq berhenti terbit karena kekurangan tulisan/sumbangan dari para penulis perempuan yang bekerja sama di dalamnya.[8]

Berdasarkan hasil kongres 16 Agustus 1929, Alsjarq diambil alih oleh Sarikat Kaoem Iboe Soematra, yang sudah menjadi organisasi payung dari pelbagai organisasi perempuan di Sumatera Barat, dan diberi nama Soeara Kaoem Iboe Soematera (SKIS).[10][11] SKIS dipimpin oleh Rasminanturi Sumpit dan Djoesair. Kantornya pusatnya berlokasi di Padang Panjang dalam sekolah guru.[12] Sampai akhir tahun, SKIS hanya terbit dua edisi karena "beberapa hambatan" (salah satunya adalah nomor kongres pada November).[13] SKIS kembali terbit pada Oktober 1930.[14] Edisi 12 pada Januari 1931 memuat hasil rapat tahunan yang menetapkan Djoesair sebagai pimpinan redaksi dibantu Sariamin dan Saleha .[15][16]

Tidak diketahui kapan SKIS berhenti terbit, tapi menurut sejarawan Ahmat Adam, usianya tidak panjang.[17] Pada 1938, SKIS menerbitkan lagi berkala dengan nama Soeara Kaoem Iboe Seoemoemnja.[18]

Isi

Majalah Asjraq tidak menggunakan gambar sampul, tetapi dilengkapi dengan kutipan inspirasional dari tokoh-tokoh terkemuka. Misalnya, edisi April 1925 dihiasi oleh kutipan dari Rabindranath Tagore.[4]

Majalah Asjraq memiliki beberapa rebrik yang diisi dengan beragam informasi, termasuk berita organisasi, resep, dan saran.[4] Majalah ini memperjuangkan emansipasi perempuan Minangkabau dan secara gamblang mengkritisi ketidakadilan yang mereka hadapi.[7] Majalah Asjraq mengkoarkan perlunya peningkatan kualitas pendidikan, yang menurut salah satu artikel diperlukan karena kaum ibu-lah yang pertama-tama mendidik anak.[19] Artikel lain bersuar untuk keterlibatan perempuan dalam dunia politik dan ruang publik, sehingga struktur sosial yang opresif dapat ditantang,[20] dan mengkritisi praktik perkawinan anak.[21] Menurut sejarahwan Jeffrey Hadler, majalah Asjraq merupakan "salah satu organisasi perempuan Minangkabau pertama yang memperjuangkan agenda politik dan publik secara terbuka."[22]

Majalah Asjraq juga menerbitkan karya fiksi pendek serta puisi.[4] Rubrik "Senggama Poestaka Melajoe" memuat sejumlah cerita pendek karangan "Si Tjantik", yang sering berlatar budaya Minangkabau; menurut Salsabila Yumna Al-Insyi dan Wannofri Samry dari Universitas Andalas, cerita-cerita ini menyiratkan kritik kultural dan menantang praktik seperti perjodohan. Karya fiksi lain yang dimuat dalam majalah Asjraq termasuk serial "Djoerang Jang Tiada Dapat di Djembatani" karangan Rineff dan "Manakah Tjinta jang Sebenarnja!" karangan Roselty.[23]

Rujukan

  1. ^ a b c Setiawati 2008, hlm. 67.
  2. ^ a b Al-Insyi & Samry 2025, hlm. 69.
  3. ^ a b Setiawati 2008, hlm. 69.
  4. ^ a b c d e Setiawati 2008, hlm. 70.
  5. ^ Mahayana, Maman S. (2023-03-01). Gerakan Emansipasi: Suara Pers Perempuan (1908—1928). Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-623-321-212-0.
  6. ^ Setiawati 2008, hlm. 68.
  7. ^ a b Al-Insyi & Samry 2025, hlm. 73.
  8. ^ a b Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers. 1930. No. 2.
  9. ^ Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers. 1929. No. 10.
  10. ^ Hadler 2009, hlm. 162; Hanani 2018, hlm. 80
  11. ^ Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers. 1930. No. 2.
  12. ^ Hadler 2009, hlm. 162.
  13. ^ Asmuni, Marleily (1983). H. Sariamin Ismail (Selasih/Selaguri): hasil karya dan pengabdiannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
  14. ^ Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers. 1931. No. 4.
  15. ^ Overzicht van de Inlandsche en Maleisisch-Chineesche pers. 1931. No. 12.
  16. ^ P, Devi Kusumastuti; Winda, Dian Andika; Iswari, Mahtisa; Mansur, Puteri Soraya; Nuryanti, Reni (2020-10-05). Seabad Pers Perempuan: Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa. I:BOEKOE. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)
  17. ^ Hadler 2009, hlm. 181.
  18. ^ Adam, Ahmat. Suara Minangkabau: Sejarah dan Bibliografi Akhbar dan Majalah di Sumatera Barat (dalam bahasa Melayu). The University of Malaya Press. ISBN 978-983-100-937-6.
  19. ^ Al-Insyi & Samry 2025, hlm. 74.
  20. ^ Hanani 2018, hlm. 80.
  21. ^ Hadler 2009, hlm. 83.
  22. ^ Hadler 2009, hlm. 161.
  23. ^ Al-Insyi & Samry 2025, hlm. 76.

Karya yang dirujuk

  • Al-Insyi, Salsabila Yumna; Samry, Wannofri (2025). "Asjraq Magazine 1925–1928: Minangkabau Women and Modernity" [Majalah Asjraq 1925–1928: Perempuan Minangkabau dan Modernitas]. Jurnal Sejarah Peradaban Islam (dalam bahasa Inggris). 9: 68–79. doi:10.30829/juspi.v9i1.22920.
  • Hadler, Jeffrey (2009). Muslim dan Matriarki: Resiliansi Budaya di Indonesia dengan Jihad dan Kolonialisme (dalam bahasa Inggris). Singapore: NUS Press. ISBN 978-9971-69-484-5.
  • Hanani, Silfia (2018). "Women's Newspapers as Minangkabau Feminist Movement Against Marginalization in Indonesia" [Koran Perempuan sebagai Gerakan Feminis Minangkabau Melawan Marginalisasi di Indonesia]. Global Journal Al-Thaqafah (dalam bahasa Inggris). 8 (2): 75–83. doi:10.7187/GJAT122018-7.
  • Setiawati, Devi Hajar Nur (2008). "Asjraq: Perempuan Bersatu Tak Bisa Dikalahkan". Dalam Setyowati, Hajar Nur (ed.). Seabad Pers Perempuan: Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa. Yogyakarta: I:boekoe. hlm. 67–70. ISBN 978-979-1436-08-3. Pemeliharaan CS1: Lokasi penerbit (link)

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.