A’dinging-dinging


A’dinging-dinging adalah tradisi adat tahunan masyarakat Kampung Tenro, Desa Bontolempangan, Kecamatan Buki, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun sejak abad ke-17 dan masih dilaksanakan hingga masa kini. A’dinging-dinging dipandang sebagai salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Selayar yang mengandung nilai religius, sosial, dan budaya.[1][2]

Etimologi dan Makna

Secara etimologis, istilah A’dinging-dinging berasal dari kata dinging yang berarti “dingin”. Istilah ini merujuk pada kegiatan saling menyiram air di antara peserta ritual hingga seluruh tubuh menjadi basah dan terasa dingin. Secara filosofis, A’dinging-dinging dimaknai sebagai upacara tolak bala, yakni ritual untuk memohon perlindungan dari marabahaya, bencana, dan penyakit dengan menggunakan air sebagai simbol penyucian dan keselamatan.[2][3]

Sejarah

Ritual A’dinging-dinging diyakini telah muncul sejak abad ke-17, bersamaan dengan perkembangan awal permukiman di Kampung Tenro. Awalnya, tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan syukur atas kemenangan tokoh lokal bernama Bakka Bo’di Butung serta peringatan hari lahir kampung tersebut. Dalam perkembangannya, A’dinging-dinging juga berfungsi sebagai media untuk mempererat solidaritas sosial serta sarana pelestarian warisan budaya leluhur.[1][3]

Waktu Pelaksanaan

Tradisi A’dinging-dinging diselenggarakan setiap tahun pada hari Senin terakhir di bulan Muharram dalam penanggalan Islam. Waktu tersebut dipilih karena dianggap membawa berkah serta memiliki makna spiritual yang erat dengan nilai-nilai religius masyarakat setempat.[1]

Rangkaian Prosesi

Pelaksanaan A’dinging-dinging berlangsung selama empat hari dan melibatkan beberapa tahapan ritual utama. Tahapan pertama adalah Songkabala, yaitu penentuan waktu pelaksanaan ritual yang dipimpin oleh tokoh adat setempat. Tahapan berikutnya adalah Angrajo-rajo, yaitu prosesi ziarah ke makam para leluhur dengan diiringi tabuhan gendang dan nyanyian tradisional. Setelah itu dilaksanakan Panggalleang Je’ne ri Buhung Lateya, yaitu pengambilan air suci dari sumur Lateya yang diyakini memiliki kekuatan spiritual. Tahapan selanjutnya adalah A’bua Je’ne Tangkasa atau Ambasa Doa Mange Ri Je’ne Tangkasa, yakni pembacaan doa pada air suci oleh imam atau tokoh agama dengan menggunakan naskah berbahasa Arab yang bersumber dari manuskrip lama. Prosesi terakhir adalah Andrio-rio atau mandi bersama, yang berupa penyiraman air suci kepada seluruh peserta dan warga kampung sebagai simbol pembersihan diri dan penolak bala.[1][2][3]

Selain prosesi ritual, A’dinging-dinging juga disertai dengan pertunjukan kesenian tradisional seperti Attojeng (bermain ayunan), Manca’ Pa’dang (atraksi permainan pedang), dan nyanyian adat A’dide yang merupakan bagian dari hiburan rakyat selama perayaan berlangsung.[2]

Nilai dan Fungsi Sosial Budaya

Tradisi A’dinging-dinging mengandung berbagai nilai budaya yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bontolempangan. Nilai religius tercermin dalam doa dan ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan. Nilai sosial muncul melalui kegiatan gotong royong dan kebersamaan dalam pelaksanaan ritual. Selain itu, tradisi ini juga memiliki nilai ekonomi karena menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara yang berdampak positif terhadap perekonomian daerah. Nilai estetika juga tampak dalam unsur seni, musik, dan busana adat yang digunakan selama prosesi berlangsung.[1][2][3]

Perkembangan dan Pelestarian

Seiring perkembangan zaman, tradisi A’dinging-dinging mengalami perubahan fungsi dan makna akibat pengaruh modernisasi dan perubahan sosial masyarakat. Meskipun demikian, tradisi ini tetap dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Desa Bontolempangan. Pemerintah daerah, tokoh adat, dan lembaga kebudayaan setempat turut berperan dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini melalui kegiatan dokumentasi, festival budaya, dan promosi pariwisata daerah.[1][2]

Referensi

  1. ^ a b c d e f Husnah, Nur Khotima (2023). "Tradisi A'dinging-dinging pada Masyarakat Tendro Desa Bontolempanngan Kabupaten Kepulauan Selayar (Studi Unsur-Unsur Budaya Islam)". Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.
  2. ^ a b c d e f Nur, Andi Asywid; Agustang, Andi; Ahmadin, Ahmadin (2023-08-03). "Perubahan Persepsi Nilai Fungsional Tradisi A'dinging-dinging di Desa Bontolempangan Kecamatan Buki Kabupaten Selayar". Jurnal Sosialisasi: Jurnal Hasil Pemikiran, Penelitian dan Pengembangan Keilmuan Sosiologi Pendidikan (dalam bahasa Inggris). 1 (2): 68–79. doi:10.26858/sosialisasi.v1i2.44861. ISSN 2722-3086.
  3. ^ a b c d Darisandi, Roby (22 Juni 2014). "A'Dinging-Dinging". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-11-07.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.