Basarah
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Basarah merupakan istilah persembahyangan dalam kepercayaan Kaharingan di kalangan suku Dayak, khususnya suku Dayak di Kalimantan Tengah. Basarah artinya berserah diri kepada Ranying Hatalla (Tuhan).[1]
Jenis
Ada tiga macam Basarah yang dikenal, yakni Basarah umum, Basarah keluarga, dan Basarah perorangan.[2]
- Basarah umum adalah ibadah wajib bagi penganut kepercayaan Kaharingan yang diadakan rutin setiap hari Kamis (malam Jumat), dilakukan satu minggu sekali, dilaksanakan di Balai Basarah dan dihadiri oleh banyak umat dengan sikap duduk bersila di lantai mengelilingi Sangku Tambak Raja, dan ibadah dipimpin oleh Mantir Basarah. Ada aturan dalam Basarah bahwa perempuan yang sedang datang bulan tidak diperkenankan mengikuti peribadahan.
- Basarah keluarga biasanya dilakukan oleh sebuah keluarga, pelaksanaannya bisa di rumah maupun di tempat tertentu yang disesuaikan dengan keadaan yang terjadi, misalnya basarah kawin adat (pernikahan), basarah syukuran, basarah bayar hajat, basarah di tempat orang yang meninggal, dan sebagainya.
- Basarah perorangan yaitu berdoa atau beribadah seorang diri dengan cara meletakan telur, menabur beras atau sesajen lainnya pada tempat-tempat khusus yang keramat, misalnya di Pasah Patahu, Balai Paseban, dan Keramat.
Persyaratan Basarah
Dalam melaksanakan Basarah umum dan Basarah keluarga, syarat-syarat atau sarana persembahyangan yang wajib disediakan disebut sebagai Sangku Tambak Raja, yang meliputi:[3]
- Sangku Tambak, sejenis wadah atau mangkuk yang terbuat dari tembaga atau kuningan, diletakkan di atas meja dan di tengah-tengah orang yang beribadah.
- Behas, yaitu beras yang dipakai untuk mengisi Sangku Tambak secukupnya.
- Dandang Tingang, yaitu bulu ekor dari burung tingang dan ditancapkan ke dalam beras Sangku Tambak.
- Sipa, yaitu gulungan daun sirih yang diolesi kapur dan diisi pinang, diletakkan di dalam Sangku Tambak.
- Rukun Tarahan, yaitu rokok tembakau yang diletakkan di dalam Sangku Tambak.
- Bulau Pungkal Raja atau Duit Singah Sangku, yaitu uang persembahan yang diletakkan di dalam Sangku Tambak secara sukarela oleh umat yang beribadah.
- Behas Hambaruan, yaitu 7 (tujuh) butir beras yang diambil dari beras biasa, namun hanya dipilih yang bersih, bening dan tidak rusak sedikit pun, kemudian dibungkus dengan kain kecil dan diletakkan di dalam Sangku Tambak.
- Undus Tanak, yaitu minyak kelapa yang dimuat dalam wadah kecil, juga diletakkan di dalam Sangku Tambak.
- Tampung Tawar, yaitu gelas kecil berisi air yang disucikan, dicampur dengan minyak wangi dan dibubuhkan ketupat telur sebagai alat untuk memercikan airnya, diletakkan di dalam Sangku Tambak.
- Kambang sukup macam, yaitu bermacam jenis bunga secukupnya, dan diletakkan ke dalam Sangku Tambak.
- Lapik Sangku, yaitu kain sebagai alas sangku.
- Tanteluh manuk manta, yaitu telur ayam kampung mentah yang dibuka sedikit dengan uang koin, juga diletakkan di dalam Sangku Tambak.
- Parapen, yaitu perapian yang berisi dupa, kemenyan, dan kayu gaharu yang dibakar, yang nantinya digunakan untuk mensucikan Sangku Tambak beserta isinya.
Tata Cara Pelaksanaan Basarah
Basarah umum diawali dengan mensucikan Sangku Tambak, disebut dengan Manggaru Sangku Tambak Raja. Sangku Tambak yang sudah lengkap akan diangkat dan disucikan dengan cara diputar di atas Parapen sembari melantunkan kidung Tandak, yaitu doa untuk menyucikan Sangku yang dinyanyikan dengan nada dan cengkok yang khas. Manggaru Sangku dilakukan oleh Mantir Basarah atau bisa juga salah satu umat yang bersedia atas permintaan Mantir Basarah, dengan tujuan memberikan kesempatan kepada semua umat Kaharingan untuk percaya diri dan semangat dalam beribadah.[4]
Setelah Manggaru Sangku, kemudian dilanjutkan dengan doa Tamparan Basarah (memulai Basarah) yang dipimpin oleh Mantir Basarah, setelah itu dilanjut dengan melantunkan Kandayu Manyarah Sangku Tambak Raja yang dinyanyikan secara massal.
Tahap selanjutnya adalah pembacaan kitab suci Panaturan oleh Mantir Basarah, disusul dengan menyanyikan Kandayu Mantang Kayu Erang bersama-sama. Lalu, umat akan mendengarkan Pandehen (wejangan/ceramah) dari Mantir Basarah yang berlandaskan isi dari kitab suci Panaturan maupun peristiwa dalam kehidupan sehari-hari, lalu dilanjutkan dengan menyanyikan Kandayu Parawei bersama-sama.
Mendekati akhir peribadahan, Mantir Basarah akan memimpin doa penutup Basarah, lalu mengucapkan Sahey sebanyak 3 (tiga) kali di akhir doa. Sahey adalah mantra penutup doa dalam agama Kaharingan, memiliki makna yang sama dengan "Amin" dalam agama lain.
Tahapan Basarah yang paling akhir adalah menyanyikan Kandayu Mambuwur Behas Hambaruan yang diiringi dengan pemberian berkat kepada semua yang beribadah menggunakan empat sarana yang diambil dari Sangku Tambak Raja, yaitu tampung tawar, undus tanak atau minyak kelapa, telur ayam kampung mentah, dan tujuh butir beras hambaruan yang dicampur dengan beras sangku supaya lebih banyak.
Pemberian berkat dilakukan oleh empat orang kepada seluruh orang yang Basarah, termasuk keempat pemberi berkat itu sendiri. Tahapan pemberian berkat dilakukan secara berututan, diawali dari menabur beras hambaruan pada pucuk kepala, kemudian memercikan air tampung tawar pada pucuk kepala maupun telapak tangan, lalu mengoleskan telur ayam mentah pada dahi menggunakan uang koin atau bulu ekor burung tingang, dan yang terakhir adalah mengoleskan minyak kelapa pada rambut. Kandayu Mambuwur Behas Hambaruan tidak boleh berhenti dinyanyikan jika semua orang yang beribadah belum diberikan keempat berkat tersebut.
Referensi
- ^ "Basarah Sebagai Wujud Bhakti Kepada Ranying Hatalla". IAHN Tampung Penyang. 2019-03-01. Diakses tanggal 2025-12-18.
- ^ MPdH, Wentin (2018). "NILAI-NILAI DALAM RITUAL BASARAH". Dharma Duta (dalam bahasa Inggris). 16 (2). doi:10.33363/dd.v16i2.200. ISSN 2089-8215.
- ^ Pranata; Sulandra (2021). "Kearifan Lokal Hindu Kaharingan (Pandangan Ketuhanan, Ritual dan Etika)". Dharma Duta: Jurnal Penerangan Agama Hindu. 19 (1): 35–36, 47.
- ^ Eka, Nali (2022-01-24). "Peran IAHN-TP Palangka Raya Dalam Melestarikan Identitas Kultural Penganut Hindu Kaharingan Di Kalimantan Tengah". Jurnal Penelitian Agama Hindu: 68–78. doi:10.37329/jpah.v0i0.1617. ISSN 2579-9843.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.