Batanghari Sembilan
Batanghari Sembilan adalah istilah untuk irama musik dengan petikan gitar tunggal yang berkembang di Wilayah Sumatra Bagian Selatan.[1][2] Dalam pengertian yang lebih luas, Batanghari Sembilan adalah kebudayaan yang berbasis pada sungai. Kebudayaan ini adalah kebudayaan agraris yang selaras dengan alam. Musik yang diekspresikan dari budaya ini bernuansa romantik, melonkolik dan naturalistik. Kebudayaan sungai ini dapat ditunjukkan dari pola pemikiran masyarakat asli yang berjajar di pinggir sungai. beberapa peralatan hidup seperti transportasi dan alat pengolahan padi (antan delapan) juga digerakkan oleh arus sungai.[3][4][5][6]
Pengertian
Pengambilan nama Batanghari Sembilan itu sebenarnya mengikut ke pada adanya 9 anak sungai Musi. Sungai Musi merupakan sungai terbesar di daerah ini yang membelah kota Palembang menjadi dua bagian. Sebutan Batanghari Sembilan, suatu istilah "tradisional" untuk menyebut sembilan buah sungai besar yang merupakan anak Sungai Musi, yakni: Klingi, Bliti, Lakitan, Rawas, Rupit, Lematang, Leko, Ogan, dan Komering. Pendapat lain mengatakan konsep atau istilah Batanghari Sembilan, mengacu ke wilayah, adalah sebutan lain dari kawasan Sumatra Bagian Selatan (Sumsel, Jambi, Lampung, Bengkulu) yang memiliki sembilan sungai (batanghari) yang berukuran besar. Batanghari dalam beberapa bahasa lokal di Sumsel, misalnya saja bahasa Rambang (Prabumulih) atau bahasa Bindu (Kecamatan Peninjauan) berarti sungai, bersinonim dengan kali (Jawa) atau river (Inggris). Pada perkembangan selanjutnya, batanghari sembilan juga bermakna budaya, yaitu budaya batanghari sembilan, di antaranya adalah musik dan lagu batanghari sembilan (selanjutnya batanghari sembilan). Secara garis besar musik dan lagu batanghari sembilan adalah salah satu genre seni musik atau lagu daerah yang berkembang di Sumatera Selatan layaknya di daerah lain Indonesia.[7]
Alat dan Tembang
Alat yang dipergunakan untuk mengiringi tembang, pada masa lalu masyarakat memiliki alat-alat musik tradisional seperti Serdam, Ginggung, Suling, Gambus, Berdah dan Gong alat tersebutlah yang mengikuti rejung atau tembang atau adakalanya mereka melantunkan tembang tanpa alat dan tanpa syair “meringit”. Selain ini adalagi sastra lisan seperti guritan, andai-andai, memuning dan lain-lain saat ini sudah langka yang dapat melakukannya. Dengan kemajuan yang dilalui, masyarakatnya berinteraksi dengan peralatan modern, menyebabkan alat tradisional tersebut bertambah atau berganti alat-alat baru seperti Accordion (ramanika), Biola (piul) dan Guitar (itar). Sejak tahun enam puluh-an didominasi oleh Gitar Tunggal ( hanya mempergunakan dan hanya satu gitar saja ) untuk mengiringi tembang. Tembang tersebut biasanya hanyalah berupa Pantun empat kerat bersajak a-b a-b, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa melayu.
Sekadar contoh dalam lagu batanghari sembilan bait Syairnya adalah seperti ini:
Kain abang bejait tangan,
Belapik tikae batang padi,
Ghimbe kuang bukan alangan,
Kalu Kendaan kan di jalani.
Gaya atau nada penulisan artikel ini tidak mengikuti gaya dan nada penulisan ensiklopedis yang diberlakukan di Wikipedia. |
Kalau kita terjemahkan secara bebas ke dalam bahsa Indonesia maka artinya seperti ini: Kain merah dijahit tangan, Beralas tikar batang padi, Hutan rimba lebat bukan halangan, Kalau kemauan akan dijalani.
Lagu batang hari sembilan sering kali dibawakan oleh anak bujang sambil berjalan berkunjung ke rumah gadis dari dusun ke dusun dengan diiringi oleh gitar tunggal. Disebut gitar tunggal karena biasanya cocoknya dan mudahnya diiringi oleh satu gitar. Bahkan sampai sekarang saya belum pernah mendengar bahwa lagu tersebut diiringi oleh dua gitar sekaligus. Sambil berjalan di kesunyian malam pada masa lalu, bujang2 membawakan lagu batang hari sembilan yang umumnya berkisah tentang romantika kehidupan bujang dusun pada masa itu.
Dari contoh diatas kita tahu bahwa bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu dengan dialek Batang Hari Sembilan. Bahasa ini adalah bahasa umum digunakan oleh masyrakat SUMBAGSEL (Sumatra Bagian Selatan) yang meliputi Jambi, Sumsel, lampung dan Bengkulu. Untuk diketahui juga bahwa tidak semua derah wilayah Sumbagsel menggunakan bahsa tersebut sebagai bahsa sehari-hari, melainkan sebagian besarnya saja. Misalnya untuk Provinsi Bengkulu, yang menggunakan bahasa tersebut hanya di Kecamatan Padang Guci, Kecamatan Kinal dan Kecamatan Kedurang yang berada di Wilayah Bengkulu Selatan. Di kecamatan2 itulah lagu Batang Hari sembilan dibawakan dengan menggunakan bahasa melayu seperti diatas. Sedangkan unyuk proinsi sumsel Lagu Batang Hari Sembilan digunakan secara lebih luas. Karena mungkin asal-usul penyebarannya dulu dari wilayah Sumsel.
Nuansa Estetika
Irama dan nada yang muncul dari tembang atau rejung itu memiliki nuansa estetika natural, dalam arti membawakan suara alam semesta yang pada dasarnya jarang orang tidak dapat mengappresiasinya. Nuansa estetika natural ini tidak hanya sekadar memenuhi konsumsi pemikiran energis, melainkan lebih kepada unsur qalbu sentimental. Jiwa insaniah yang terdalam dapat diraih, maka kadang-kadang tidak mengherankan jika unsur pemikirian tidak terlalu dominan sehingga dapat memberi celah hidup dalam hati, di situlah letak dari tembang ini. Tentu saja sasarannya adalah manusia yang masih hidup secara batiniahnya.
Referensi
- ^ Sariasih, Yanti; Murtadho, Fathiaty; Rafli, Zainal. TEORI DAN KAJIAN TEMBANG BATANGHARI SEMBILAN. Zahir Publishing. hlm. 39. ISBN 978-623-6995-33-4. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ M.Si, Noperman Subhi, S. IP (2024-04-20). Dari Ujung Menggagas Inovasi: "Sebuah Narasi Kumpulan Inovasi". LD MEDIA. hlm. 47. ISBN 978-623-99797-9-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Detail Budaya | GIWANG SUMSEL". giwang.sumselprov.go.id. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ DNU. "Irama Batanghari Sembilan, Identik Petikan Gitar Tunggal - Ketik Pos". Irama Batanghari Sembilan, Identik Petikan Gitar Tunggal - Ketik Pos. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ Province, BPS-Statistics Indonesia Sumatera Selatan. "Guitar Solo: Song from Nature - News and Press Release". sumsel.bps.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ "South Sumatra Blues in the Highlands of Pagaralam". aural archipelago (dalam bahasa American English). 2014-05-02. Diakses tanggal 2026-02-05.
- ^ r.search.yahoo.com https://r.search.yahoo.com/_ylt=Awrx.OU7poRpDQIAyYjLQwx.;_ylu=Y29sbwNzZzMEcG9zAzIEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1771510588/RO=10/RU=https://palembang.tribunnews.com/2023/02/25/apa-itu-batanghari-sembilan-istilah-yang-melekat-dengan-nama-sahilin-seniman-legendaris-sumsel/RK=2/RS=kZcZ5y9P80ONILay2xFtcJOmagg-. Diakses tanggal 2026-02-05.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.