Batik Toleransi

Batik Toleransi adalah gaya batik kontemporer dari Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang dipopulerkan oleh perajin batik Sigit Witjaksono (nama Tionghoa: Go Tjun Hian). Gaya batik ini menonjolkan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa melalui penggabungan motif tradisional Batik Lasem dengan unsur sinografi (aksara dan kaligrafi Tionghoa) yang mengandung pesan moral, persaudaraan, dan perdamaian. Istilah “Batik Toleransi” diperkenalkan oleh Sigit Witjaksono sebagai penanda gagasan bahwa batik dapat menjadi medium ekspresi nilai-nilai kebersamaan lintas budaya.[1]
Latar belakang
Lasem dikenal sebagai salah satu pusat Batik pesisir di Jawa yang memiliki sejarah panjang interaksi budaya dengan komunitas Tionghoa. Sejak masa lampau, wilayah ini menjadi tempat pertemuan berbagai budaya akibat aktivitas perdagangan maritim. Persentuhan dengan budaya Tionghoa diperkirakan telah berlangsung sejak abad ke-14 hingga ke-15, antara lain dikaitkan dengan pelayaran Laksamana Cheng Ho.[2]
Batik Lasem memiliki ciri khas warna merah cerah yang dikenal sebagai merah getih pitik.[3] Warna ini secara tradisional dihasilkan dari pewarna alami akar mengkudu dan dikenal sulit ditiru oleh daerah lain. Dalam perkembangannya, Batik Lasem juga berkaitan dengan tradisi Batik Tiga Negeri, yaitu penggunaan kombinasi warna merah Lasem, biru nila dari Pekalongan, dan cokelat soga dari Solo.[4]
Sejarah perkembangan
Usaha batik keluarga Sigit Witjaksono telah berdiri sejak tahun 1923. Pada masa pendudukan Jepang, usaha tersebut sempat berhenti beroperasi, lalu dihidupkan kembali setelah masa kemerdekaan. Sigit Witjaksono, sebagai generasi penerus, kemudian mengembangkan pendekatan baru dalam desain Batik Lasem. Pada awalnya, Sigit dikenal memproduksi batik bergaya Laseman klasik.
Gagasan untuk memasukkan unsur Tionghoa ke dalam batik Jawa muncul dari keinginannya menciptakan corak baru. Ia kemudian memperkenalkan motif akulturasi yang menggabungkan ornamen bunga (sekar) dengan sinografi. Konsep ini sempat mendapat penolakan dari lingkungan terdekatnya karena dianggap tidak lazim. Namun, Sigit tetap melanjutkan eksperimen tersebut dan menamai pendekatannya sebagai “Batik Toleransi”.[5]
Popularitas karyanya meningkat setelah batik bermotif aksara Han yang dikenakannya dalam sebuah pawai budaya menarik perhatian publik. Ketertarikan juga datang dari kalangan keraton, yang memandang penggabungan unsur Tionghoa dalam batik Jawa sebagai bentuk pengembangan kreativitas, bukan penyimpangan tradisi.[1]
Ciri khas
Akulturasi motif
Ciri utama Batik Toleransi adalah penggabungan stilisasi huruf-huruf Tionghoa dengan motif bunga dan ragam hias Batik Lasem seperti sekar jagad, latohan, dan kricak. Aksara Han tidak ditampilkan sebagai elemen terpisah, melainkan diharmonisasikan sebagai bagian dari komposisi ornamen.
Kalimat mutiara
Aksara Tionghoa dalam Batik Toleransi umumnya membentuk pepatah atau kalimat mutiara yang berisi doa dan harapan, seperti panjang umur, kesehatan, keselamatan, keberhasilan, persaudaraan, dan perdamaian. Pesan-pesan tersebut memperkuat dimensi filosofis batik sebagai media penyampai nilai.
Warna
Batik Toleransi tetap berlandaskan palet warna tradisional Batik Tiga Negeri. Warna merah Lasem menjadi elemen dominan, dipadukan dengan biru nila dan cokelat soga. Kombinasi ini mempertahankan identitas batik pesisir sekaligus memperkaya tampilan visual motif sinografi.
Makna dan filosofi
Batik Toleransi merepresentasikan pandangan Sigit Witjaksono tentang persaudaraan universal. Ia menekankan bahwa perbedaan etnis dan budaya tidak menjadi penghalang untuk hidup berdampingan. Salah satu ungkapan yang sering dikaitkan dengan gagasannya adalah pepatah Tionghoa “Si Hai Zhi Nei Jie Xiong Di Ye” yang bermakna bahwa semua manusia di empat penjuru dunia adalah saudara.[6]
Melalui Batik Toleransi, Sigit berupaya menunjukkan bahwa akulturasi budaya dapat menjadi sumber kreativitas dan harmoni. Karyanya dipandang sebagai contoh bagaimana tradisi batik dapat berkembang tanpa kehilangan akar sejarahnya. Batik Toleransi dipandang sebagai representasi akulturasi budaya di wilayah pesisir Jawa. Kehadirannya memperlihatkan bahwa batik tidak hanya berfungsi sebagai produk sandang, tetapi juga sebagai media ekspresi identitas, sejarah interaksi budaya, dan nilai-nilai sosial. Dalam konteks Lasem yang dikenal sebagai “Tiongkok Kecil,” Batik Toleransi menjadi simbol hubungan historis antara komunitas Jawa dan Tionghoa.
Lihat pula
- Sigit Witjaksono
- Rumah Batik Sekar Kencana
- Batik Lasem
- Batik Tiga Negeri
Referensi
- ^ a b Prasetyoadi, Dadie W. (2019-10-02). "Sigit Witjaksono, Seorang Tionghoa Nasionalis Pencetus 'Batik Toleransi' | aswajadewata". Diakses tanggal 2026-02-01.
- ^ "Batik Tiga Negeri Khas Lasem yang Melegenda, Yuk Ketahui Seluk Beluknya! - Indonesia Travel". www.indonesia.travel. Diakses tanggal 2026-02-01.
- ^ "Sejarah Batik Lasem, Wastra Pesisir di Jalur Rempah Nusantara - Semua Halaman - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2026-02-01.
- ^ "Batik Tiga Negeri, Kisah Filosofis Harmoni Indah Tiga Budaya". Diakses tanggal 2026-02-01.
- ^ kompas.id (2016-06-26). "Selembar Persaudaraan * Selisik Batik". Jelajah Kompas. Diakses tanggal 2026-02-01.
- ^ "Batik Sekar Kencana Lasem: Jejak Kenangan Bersama Pak Sigit Witjaksono - Travel Galau". 2025-10-02. Diakses tanggal 2026-02-01.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.