Bedhaya Genjong

Bedhaya Genjong adalah salah satu repertoar Yasan Dalem (karya) Sri Sultan Hamengkubuwono VIII yang memerintah pada periode 1921-1939 di Keraton Yogyakarta. Kata Genjong merujuk pada iringan musik tarianya, yaitu Gendhing Genjong. Dalam Kamus Poerwadarminta tahun 1939, kata Genjong berarti "dijongkeng Lan diusung", yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai "diangkat".[1]

Tarian ini mengambil cerita dari Serat Menak Khandabumi, yang secara umum mengisahkan pernikahan antara Wong Agung Jayanegara dengan Dewi Marpinjung. Kisah dalam Serat Menak juga mengandung muatan spriritual mengenai munculnya agama islam, dengan Wong Agung Jayenegara sebagai tokoh sentra.[2]

Sejarah dan Asal Usul

Bedhaya Genjong merupakan salah satu bedhaya yang dahulu kerap dipentaskan dalam rangkaian seremonial istana, khususnya ketika Sri Sultan Hamengkubuwono VIII melakukan Tedhak Loji, yaitu kunjungan balasan ke rumah dinas Gubernur Hindia Belanda yang kini dikenal sebagai Gedung Agung.[3]

Sumber dan Manuskrip

Keberadaan Bedhaya Genjong tercatat dalam sejumlah naskah manuskrip koleksi Perpustakaan Kridharmadawa Keraton Yogyakarta dianataranya:

  • Serat Kandha Bedhaya utawi Srimpi (kode B/S 13)[4]
  • Serat Khanda Srimpi utawi Bedhaya Yasan Dalem Kaping VIII (kode B/S 15)[4]

Pementasan

Tarian ini pernah kembali dipentaskan dalam prosesi Tingalan Jumenengan Dalem (peringatan kenaikan takhta) Sri Sultan Hamengkubowono IX pada tahun 1983. Antara tahun 1987-1988, Bedhaya Genjong direkonstruksi oleh salah satu mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dan kembali ditampilkan pada tahun 2005.[5]

Tanggal 24 Oktober 2022 tarian ini kembali dipergelarkan dalam acara Uyon-Uyon Hadiluhung untuk memperingati Wiyosan Dalem (hari kelahiran) Sri Sultan Hamengkubowono X, menjadikanya salah satu penampilan istimewa dalam tradisi pertunjukan keraton modern.[5]

Jalan Cerita

Inti Kisah Bedhaya Genjong menggambarkan peperangan natara Dewi Kuraisin dan Dewi Banawati.

Dewi Kuraisin berasal dari Ngajrak, dan diutus oleh ayahnya Wong Agung Jayanegrana untuk membantu peperangan di Madayin. Sementara itu, Dewi Banawati, adik Prabu Banakamsi, berasal dari Khandabumi (Khandabuwana).[6]

Peseteruan bermula ketika Prabu Banakamsi melamar Dewi Marpinjung, Putri Madayin, yang ternyata telah lebih dahulu menerima lamaran Wong Agung Jayanegrana. Dewi Banawati kecewa dan berusaha menculik Dewi Marpinjung untuk diserahkan kepada kakaknya.[6]

Pertempuran antara Dewi Kuraisin dan Dewi Banawati kemudian menjadi pusat dramatis tarian, menggambarkan pertentangan antara kebaikan dan kejahatan. Akhirnya Dewi Kuraisin memenangkan pertempuran dan Dewi Banawati gagal melaksanakan niatnya.[6]

Iringan Tarian

Susunan iringan Bedhaya Genjong menggunakan Laras slendro pathet sanga, dengan urutan sebagai berikut:

  • Lagon Wetah
  • Landrang Pamikatsih (mengiringi penari masuk area pertunjukan)
  • Lagon Ngelik
  • Bawa Swara Sekar Layung Asmara
  • Ghending Genjong
  • Landrak Uluk-Uluk
  • Bawa Swara Lagu Subakastawa
  • Ketawang Subakastawa (dua kali)
  • Ayak-Ayak Bedhaya
  • Landrang Dhandhangula Kentar (mengiringi penari keluar area pertunjukan)[7]

Busana Tari

Busana Bedhaya Genjong terdiri atas rompi beludru, sondher, dan jarik bermotif parang dipadukan dengan sereda. Kepala penari dihiasi dengan gelung sinyong, sumping ron, subang, jamang, bulu hias, cunduk mentul, pethat, ceplok jabehan dan pelik.[4]

Aksesoris tambahan meliputi kelat bahu, sampur chinde, kalung sungsun, slepe, gelang, serta riasasn mata bergaya jahitan, dengan hiasan godheg tiruan di cambang.[4]

Pementasasn Uyon-Uyon Hadilihung tahun 2022, penari mengenakan busana gladhen (latihan) berupa kampuh bermotif parang plenik gendreh, nyamping kawung ndhil, dan sondher gendholo giri. Adegan peperangan divisualisasikan menggunakan keris dan jebeng (perisai).[5]

Komposisi dan Pola Lantai

Tarian ini di bawakan oleh sembilan penari utama dan dua penari dhudhuk yang membawa jebeng. Beberapa pola lantai atau rakit yang digunakan meliputi:

  • Rakit Lajur
  • Rakit Ajeng-ajengan
  • Rakit Iring-iringan
  • Rakit Tiga-tiga
  • Rakit Gelar (pola utama yang menampilkan adegan perang)

Tarian dimulai dengan rimong udhet dalam posisi sila, dilanjutkan dengan sembahan dan berbagai ragam gerak seperti ngendherek, ngenceng, sedhuwa, lambeyen, mlampah imbal, ngewer udhet, nyathok udhet, impang majeng, bangomate, kicat bayong, nglayang, dan sembahan.[5]

Adegan perang antara Dewi Kuraisin dan Dewi Banawati terjadi dalam rakit gelar, ketika penari endhel dan barak melakukan duel simbolik menggunakan keris dan jebeng.[5]

Tema peperangan ini menjadi simbol petarungan antara kebaikan dan keburukan, menyampaikan nilai moral dan filosofi spiritual yang dlaam bagi penontonya.[5]

Referensi

  1. ^ Astuti, Budi; Wuryastuti, Anna Retno (2012-06-02). "Bedhaya Sumreg Keraton Yogyakarta". Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (dalam bahasa Inggris). 13 (1). doi:10.24821/resital.v13i1.513. ISSN 2338-6770.
  2. ^ Slamet Riyadi Ali, slamet Riyadi Ali (1997). Raja Kandabuana 1997 (dalam bahasa Inggris). Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. ISBN 978-979-459-734-7.
  3. ^ Katria, Surani, Isti (2006-01-26). "Pengaruh Islam Dalam Tari Beda Ya Genjong di Keraton Yogyakarta". digilib.isi.ac.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-13. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  4. ^ a b c d "Jogja Budaya". jogjabudaya.jogjaprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-13.
  5. ^ a b c d e f crew, kraton. "Bedhaya Genjong". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-13.
  6. ^ a b c Lestari, Yayasan Sastra. "Selamat Datang". Sastra Jawa (dalam bahasa Jawa). Diakses tanggal 2025-11-13.
  7. ^ "Masuk - Adminer". opac-caknur.fah.uinjkt.ac.id. Diakses tanggal 2025-11-13.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.