Bekarang
Bekarang Iwak (Catch Fish) secara harfiah berarti "menangkap ikan" (Bekarang = menangkap, Iwak = ikan). Tradisi ini biasanya melibatkan masyarakat setempat yang secara bersama-sama menangkap ikan di dekat Sungai sekitaran rumah. Bekarang merupakan kegiatan menangkap ikan secara massal yang biasanya dilakukan di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Bekarang ini juga merupakan tradisi peninggalan sejak nenek moyang dahulu yang harus dijaga dan dilestarikan, hal ini juga dapat menjaga ekosistem di sungai sekitar. Tradisi ini dilakukan pada saat air danau mulai surut pada musim kemarau. Biasanya kegiatan Bekarang ini dilakukan di Danau Siarak Desa Tanah Abang Kecamatan Batang Hari Leko Musi Banyuasin, Sumatera Selatan[1].
Sejarah
Bekarang lahir ditengah-tengah kondisi geografis Sumatera Selatan yang didominasi oleh sungai. Kondisi ini dapat dilihat dari ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, yaitu Palembang yang sebagian besar wilayahnya merupakan rawa-rawa, sungai kecil dan sungai besar yaitu Sungai Musi, Sungai Lematang, Sungai Lakitan, Sungai Rupit, Sungai Rawas, Sungai Batanghari, Sungai Komering, Sungai Leko Ogan dan Sungai Kelingi [2]. Bekarang identik dengan masyarakat yang hidupnya berada dekat dengan sungai seperti di Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat di Desa Gelumbang dan Desa Gunung Kembang. Selain di Desa Gelumbang, Bekarang juga menjadi tradisi pada masyarakat di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), masyarakat di Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, bahkan menjadi tradisi pada masyarakat di Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi yang dikenal dengan istilah Bekarang Basamo. Budaya ini dianggap masyarakat sangat ramah lingkungan.
Setelah ikan ditangkap, hasil tangkapan tersebut kemudian dikumpulkan dan dipilah berdasarkan ukuran hasil tangkapan. Biasanya ikan-ikan besar akan dijual oleh pemangku adat, dan hasil penjualannya digunakan untuk kepentingan umum masyarakat setempat seperti pembangunan jalan, jembatan, masjid, dan fasilitas umum lainnya. Sementara itu, ikan-ikan kecil hasil tangkapan dapat dibawa pulang oleh masyarakat yang berpartisipasi dalam tradisi ini secara gratis. Yang menjadi keunikan dari tradisi bekarang iwak adalah dalam menjaga ekosistem alam yang ada, serta terlihat jelas kekompakan, kebersamaan, dan gotong royong masyarakat. Ikan besar dijual untuk kepentingan umum, sementara ikan kecil boleh dibawa pulang gratis dan kegiatan ini dapat menjamin kekompakan dalam bermasyarakat [3]. Meskipun terlihat sederhana, hasil tangkapan ikan dari tradisi Bekarang Iwak bisa mencapai beberapa ton. Hasil penjualannya dapat membantu biaya pembangunan daerah, dan ikan-ikan yang ditangkap pun relatif besar serta layak dijual, seperti ikan gabus, lele, mujair, dan lainnya. Tradisi Bekarang Iwak bukan hanya sebuah kegiatan menangkap ikan biasa, melainkan sebuah simbol kebersamaan dan gotong royong masyarakat. Dengan terus melestarikan tradisi ini, masyarakat setempat tidak hanya menjaga ekosistem perairan, tetapi juga terus memperkuat ikatan sosial dan membantu pembangunan wilayah mereka. Tradisi ini adalah bukti bahwa melalui kebersamaan, banyak hal positif yang bisa dicapai untuk kesejahteraan bersama.
Pada saat melakukan tradisi Bekarang, masyarakat menggunakan alat tangkap tradisional yang sederhana, seperti serok (alat penangkap ikan dengan jaring berbentuk mangkuk) dan jaring tradisional yang dipasang di tempat-tempat strategis untuk menangkap ikan yang berkumpul. Kadang, tangur (sejenis alat penangkap ikan berupa jaring panjang) juga digunakan untuk menangkap ikan secara bersama-sama. Penggunaan alat tangkap yang sederhana ini mencerminkan hubungan masyarakat dengan alam secara lestari, karena tidak merusak ekosistem perairan dan hanya menangkap ikan dalam jumlah yang wajar [4].
Referensi
- ^ "Detail Budaya | GIWANG SUMSEL". giwang.sumselprov.go.id. Diakses tanggal 2025-11-22.
- ^ Sbk, Aulia Novemy Dhita; Dewo, Mutiara Kencana; Marantika, Raficko Deny (2020-09-18). "Tinjauan Historis Bekarang: Warisan Budaya untuk Alam di Kecamatan Kikim Timur, Kabupaten Lahat". Journal of Indonesian History (dalam bahasa Inggris). 9 (1): 55–63. doi:10.15294/jih.v9i1.40651. ISSN 2549-0370.
- ^ Wulansari, Lidya (2024-07-08). "Tradisi Unik Bekarang Iwak: Menjaga Ekosistem dan Membangun Kebersamaan". RRi.co.id. Diakses tanggal 2025-11-22.
- ^ "KAJIAN ETNOSAINS DALAM TRADISI BEKARANG UNTUK MENDUKUNG PEMBELAJARAN BIOLOGI". Jurnal Kajian Teori dan Praktik Pendidikan. Vol. 6, No. 2, Juni2025.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.