Cetak tuang

Cetak Tuang adala salah satu teknik pembuatan kerajinan tangan yang menghasilkan produk keramik. Tuang cetak merupakan bentuk praktis dari teknik pengolahan gerabah. Keuntungan penggunaan teknik cetak tuang adalah barang dengan bentuk yang sama dapat diproduksi secara massal dengan cepat dan hanya memerlukan sedikit tenaga kerja. Cetakan dibuat agar bisa dipakai berulang kali, sehingga produk dibuat dengan membongkar dan memasang kembali cetakan.[1]
Proses
Teknik cetak tuang memanfaatkan tanah liat cair. Alat cetak yang digunakan harus sepasang, karena pencetakan dilakukan dari dua sisi. Kedua cetakan harus digabungkan dengan diikat terlebih dahulu sebelum mencetak. Setelah itu, tanah liat cair dituangkan ke cetakan berulang kali hingga tanah liat benar-benar rapat di dalam cetakan. Setelah agak mengeras, tanah liat dipindahkan ke wadah lain, hingga yang tersisa pada cetakan adalah tanah liat yang menempel. Cetakan dapat dibuka setelah tanah liat mengering.[2]
Referensi
- ^ Hendra (2016), hlm. 208."Seniman ini membuat produk keramik untuk souvenir dan berbagai produk aksesoris dengan menggunakan teknik cetak tuang. Teknik cetak ini merupakan salah satu bentuk perkembangan teknik pengolahan gerabah yang lebih praktis. Membuat produk keramik dengan teknik cetak tuang memungkinkan kriyawan untuk menghasilkan produk dengan bentuk yang sama dan dengan jumlah yang relatif banyak. Teknik ini merupakan solusi untuk menghasilkan produk gerabah secara masal dalam waktu yang relatif singkat dan juga mengurangi tenaga kerja. Hal ini karena produk dibuat dengan menggunakan cetakan yang telah di bentuk sebelumnya sehingga pengrajin tinggal bongkar pasang cetakan untuk membuat produk selanjutnya."
- ^ Nurcahyo, I. F. (2017), hlm. 19."Cetak Tuang: Tanah liat yang digunakan adalah bahan tanah liat cair. Cetakan keramik dengan teknik cetak tuang minimal terdiri dua sisi. Sebelum mencetak, cetakan digabungkan dulu kemudian ditali dengan karet. Setelah cetakan siap digunakan, tanah liat cair dituangkan sampai penuh lalu ditunggu sampai tanah turun. Kemudian tambahkan tanah cair sampai penuh lagi. Setelah ketebalan tanah liat yang menempel di cetakan sudah sesuai yang kita inginkan, tanah liat cair yang ada di dalam cetakan dituang ke dalam wadah sampai yang tertinggal hanya tanah liat yang menempel di cetakan."
Daftar pustaka
Buku
- Nurcahyo, I. F. (2017). Panduan Pendirian Usaha Kriya Keramik. Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif & Universitas Sebelas Maret. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Jurnal ilmiah
- Hendra (November 2016). "Keramik Metro Menuju Era Baru Kriya Keramik Sumatera Barat". Ekspresi Seni. 18 (2): 206–225. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.