Dogdog Lojor
Dogdog Lojor adalah permainan tradisional dari Jawa Barat. Dogdog lojor adalah nama alat musik pukul yang terbuat dari kayu berbentuk silinder yang salah satunya ditutup dengan kulit.[1][2] Alat musik ini berdiameter antara 12-13 cm dan memiliki panjang 90 cm. Permainan dogdog lojor terdiri dari 12 pemain, terdiri dari kaum pria baik remaja maupun dewasa dan dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari dua orang pemain dog-dog dan empat orang pemain angklung. Salah seorang pemain dog-dog menjadi ketua kelompok. Dalam permainan ini, terkandung unsur-unsur pertandingan, pendidikan, keterampilan, seni, rasa tanggung jawab, serta hiburan.[3]
Permainan sejenis dogdog lojor menyebar di beberapa daerah dengan nama yang berbeda, antara lain:
- Angklung Buncis di daerah Priangan
- Angklung Gubrag di daerah Bogor
- Bedug Lojor di daerah Banten Selatan dan Utara
- Angklung Bungko di daerah Cirebon
- Badeng Badud di daerah Priangan Utara
Cara bermain
Permainan dapat dilakukan pada pagi, siang, ataupun malam hari di halaman rumah atau lapangan. Kedua kelompok berbaris menempati tempat yang berlawanan arah. Permainan ini terdiri dari dua tahap, yaitu ngawih (nyanyi bersama) dan pertandingan. Tahap pertama permainan dimulai ketika pemain memasuki arena permainan dengan berjalan berjingkat sambil memainkan alat musik yang dipegang dan menyanyikan lagu-lagu rakyat. Lagu-lagu tersebut dinyanyikan sebanyak tiga kali. Ketika menyanyi, pemain membuat gerakan-gerakan badan seperti berputar dan membuat lingkaran.[1]
Setelah selesai menyanyikan lagu-lagu tersebut, tahap kedua permainan, yaitu pertandingan, dimulai. Salah satu jenis pertandingan pada dogdog lojor adalah ucing-ucingan atau kucing-kucingan. Pemain tetap dalam dua kelompok dan berbaris dengan posisi dua pemain dog-dog berada di depan. Selanjutnya, kedua pemain dog-dog pertama berlari saling mengejar sambil berusaha menyentuh badan lawannya. Jika tersentuh maka dinyatakan kalah dan penonton akan bersorak. Gerakan ini berlangsung terus menerus karena kelompok yang kalah akan berusaha menebus kekalahannya. Pertandingan selesai setelah ada aba-aba dari ketua kelompok.[3]
Rujukan
- ^ a b dkk, R. Toto Sugiarto (2021-05-01). Ensiklopedi Alat Musik Tradisional: Aceh hingga D. I. Yogyakarta. Hikam Pustaka. hlm. 11. ISBN 978-623-311-194-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Muis, M. (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 47
- ^ a b Hamzuri (1998). Permainan Tradisional Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Permuseuman. hlm. 191. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.