Exaeretodon

Exaeretodon
Rentang waktu: Trias TengahTrias Akhir
Rekonstruksi Exaeretodon argentinus
Klasifikasi ilmiah
Spesies tipe
Exaeretodon argentinus
Cabrera, 1943
Spesies
  • E. argentinus Cabrera, 1943
  • ?E. major (Huene, 1936)
  • E. riograndensis Abdala, Barberena & Dornelles, 2002
  • ?E. statisticae Chatterjee, 1982


Exaeretodon adalah genus punah sinodon traversodontid berukuran besar yang hidup di bagian selatan Pangea pada Trias Tengah hingga Trias Akhir, dengan catatan terbaik berasal dari Argentina dan Brasil pada kala Karnian. Traversodontid merupakan kelompok sinodon nonmamalia yang umumnya herbivor atau omnivor dan dicirikan oleh gigi pascataring yang melebar dari sisi pipi ke sisi lidah untuk memproses makanan.[1]

Genus ini dinamai oleh paleontolog Argentina Ángel Cabrera pada 1943. Spesies tipenya adalah Exaeretodon argentinus, yang fosilnya terkenal dari Formasi Ischigualasto di Provinsi San Juan, Argentina. Spesies Brasil E. riograndensis dideskripsikan dari Formasi Santa Maria di Rio Grande do Sul pada 2002.[2]

Exaeretodon memiliki tengkorak lebar, lengkung zigomatik yang kuat, taring besar, dan deretan gigi pascataring yang terspesialisasi untuk menghancurkan serta menggiling makanan. Penelitian mikrokeausan gigi menunjukkan bahwa rahangnya bergerak ke belakang ketika mengunyah, suatu gerakan yang disebut palinal.[3]

Kajian pertumbuhan E. argentinus menunjukkan adanya perubahan pola makan selama ontogeni: individu muda lebih mengandalkan penghancuran makanan dan mungkin mempunyai komponen hewani dalam dietnya, sedangkan individu dewasa memiliki sistem pengunyahan yang semakin terspesialisasi untuk herbivori.[4]

Deskripsi

Tengkorak Exaeretodon yang dipamerkan di Royal Ontario Museum.

Exaeretodon merupakan salah satu traversodontid berukuran besar. Kajian terhadap seri pertumbuhan E. argentinus memperkirakan panjang tubuh individu dewasa sekitar 2 meter.[4] Tubuhnya relatif rendah dengan anggota gerak yang masih menunjukkan postur khas sinodon nonmamalia, sementara kepala relatif besar dibandingkan tubuh.

Tengkoraknya mempunyai moncong yang cukup pendek dan lebar, rongga mata besar, serta daerah temporal luas di belakang orbit untuk tempat melekatnya otot rahang. Lengkung zigomatik berkembang kuat, suatu ciri yang berkaitan dengan kemampuan menghasilkan gaya gigitan tinggi.

Seperti traversodontid lain, Exaeretodon mempunyai diferensiasi gigi yang jelas menjadi gigi seri, taring, dan gigi pascataring. Gigi pascataring berbentuk lebar dan kompleks sehingga permukaan gigi atas dan bawah dapat saling bergesekan ketika rahang bergerak.[2]

Pada individu yang lebih tua, proporsi tengkorak berubah secara nyata. Moncong, daerah temporal, dan lengkung pipi tumbuh secara alometrik, sedangkan sejumlah ciri yang dahulu digunakan untuk membedakan genus atau spesies ternyata merupakan variasi pertumbuhan.[5]

Penemuan dan sejarah taksonomi

Cabrera mendirikan genus Exaeretodon pada 1943 berdasarkan material dari Argentina. Sejumlah nama lain kemudian dihubungkan dengan genus tersebut, sehingga sejarah taksonominya menjadi cukup rumit.

José Bonaparte mendirikan genus Ischignathus untuk I. sudamericanus pada 1963. Tengkorak yang menjadi dasar genus itu tampak berbeda dari Exaeretodon karena perbedaan proporsi moncong, orbit, tulang palatina, dan cabang mandibula.

Pada 2007, Jun Liu menganalisis perubahan ukuran dan proporsi dalam seri tengkorak Exaeretodon. Ia menyimpulkan bahwa ciri-ciri Ischignathus sudamericanus dapat dijelaskan sebagai perubahan ontogenetik pada individu yang sangat besar. Dengan demikian, Ischignathus sudamericanus dianggap sebagai sinonim junior dari Exaeretodon argentinus.[5]

Nama Proexaeretodon vincei yang dideskripsikan Bonaparte pada 1963 juga pernah diperlakukan sebagai sinonim E. argentinus. Namun, analisis Maurício R. Schmitt dan rekan-rekannya yang diterbitkan pada 2024 menerima kembali Proexaeretodon sebagai takson yang valid berdasarkan perbandingan morfologi traversodontid Gomphodontosuchinae.[6]

Spesies

Exaeretodon argentinus

E. argentinus adalah spesies tipe dan yang paling banyak dipelajari. Fosilnya terutama berasal dari Anggota Cancha de Bochas, Formasi Ischigualasto, Cekungan Ischigualasto–Villa Unión di Argentina barat laut. Formasi tersebut berasal dari Trias Akhir dan terkenal karena menghasilkan komunitas vertebrata darat yang mencakup dinosaurus awal, archosaurus lain, dan berbagai sinodon.

Spesies ini menjadi dasar sebagian besar kajian mengenai pertumbuhan, biomekanika rahang, dan pola makan Exaeretodon.[3][4]

Exaeretodon riograndensis

E. riograndensis dideskripsikan oleh Fernando Abdala, Mário Costa Barberena, dan José E. F. Dornelles pada 2002 berdasarkan material dari Formasi Santa Maria di Brasil selatan. Salah satu tengkoraknya terawetkan sangat baik dan memberikan informasi penting mengenai dasar tengkorak genus tersebut.[2]

Materialnya berasal dari bagian Trias Akhir Supersekuen Santa Maria. Penanggalan U–Pb presisi tinggi terhadap lapisan terkait fauna Trias di Santa Maria menghasilkan umur sekitar 233 juta tahun untuk bagian penting Formasi Santa Maria.[7]

Nama yang meragukan

Exaeretodon major berasal dari material Brasil yang awalnya dideskripsikan Friedrich von Huene sebagai Traversodon major. Sementara itu, E. statisticae dideskripsikan dari Formasi Lower Maleri di India.

Liu (2007) menilai sebagian material tipe E. major dan E. statisticae tidak cukup diagnostik untuk mempertahankan penentuan spesies yang pasti, sehingga keduanya lebih aman diperlakukan sebagai Exaeretodon sp. atau spesies dengan status tidak pasti.[5] Literatur berikutnya masih sering mencantumkan kedua nama tersebut secara tradisional, biasanya dengan tanda tanya untuk menunjukkan ketidakpastian.

Klasifikasi

Exaeretodon termasuk dalam Traversodontidae, kelompok sinodon Cynognathia yang mengalami radiasi besar selama Trias. Traversodontid mempunyai gigi pascataring yang melebar dan secara umum dianggap sebagai herbivor atau omnivor yang telah mengembangkan pengolahan makanan oral secara lebih kompleks daripada banyak sinodon sebelumnya.[1]

Dalam klasifikasi modern, Exaeretodon ditempatkan dalam Gomphodontosuchinae, bersama traversodontid Trias Akhir seperti Gomphodontosuchus, Menadon, Protuberum, Siriusgnathus, dan Scalenodontoides. Analisis Schmitt dkk. menempatkan Exaeretodon dekat dengan sejumlah gomphodontosuchine besar dari Brasil dan wilayah Gondwana lainnya.[6]

Hubungan filogenetik traversodontid telah berubah seiring ditemukannya spesies baru. Analisis awal berbasis gigi sudah mengenali kelompok Karnian yang mencakup Exaeretodon, Menadon, dan Scalenodontoides.[1]

Paleobiologi

Pengunyahan

Gigi pascataring E. argentinus memperlihatkan pola mikrokeausan berupa goresan yang dominan berorientasi anteroposterior. Kubo, Yamada, dan Kubo (2017) menemukan bahwa orientasi tersebut sesuai dengan gerakan rahang palinal, yaitu rahang bawah bergerak ke belakang selama fase pengolahan makanan.[3]

Mekanisme ini berbeda dari gerakan vertikal sederhana dan menunjukkan bahwa traversodontid telah mengembangkan pengolahan makanan yang cukup canggih sebelum munculnya mamalia. Gerakan tersebut memungkinkan permukaan gigi pascataring bekerja sebagai alat penghancur dan penggiling.

Perubahan pola makan selama pertumbuhan

Seri pertumbuhan tengkorak E. argentinus sangat lengkap dibandingkan kebanyakan sinodon fosil. Wynd, Abdala, dan Nesbitt (2022) menemukan bahwa ciri-ciri yang terkait dengan pola makan berubah secara sistematis selama pertumbuhan.[4]

Individu muda mempunyai morfologi yang lebih sesuai untuk menghancurkan makanan daripada menggilingnya dan menunjukkan ciri yang konsisten dengan kemungkinan konsumsi sejumlah materi hewani. Ketika dewasa, daerah tempat melekatnya otot rahang membesar, gigi pascataring semakin efektif untuk mengunyah, dan hewan menjadi lebih terspesialisasi sebagai herbivor.

Perubahan ini ditafsirkan sebagai pergeseran relung ontogenetik: anak dan dewasa dari spesies yang sama mungkin mengeksploitasi sumber makanan yang berbeda, sehingga mengurangi kompetisi di antara kelompok umur.[4]

Rongga hidung

Tomografi komputer pada E. riograndensis memperlihatkan anatomi rongga hidung traversodontid sebelum asal mamalia. Penelitian terhadap Exaeretodon dan Siriusgnathus tidak menemukan turbinal hidung yang termineralisasi maupun pelat kribriform yang menutup bagian belakang rongga hidung; struktur semacam itu kemungkinan masih berupa tulang rawan pada sinodon nonmamalia.[8]

Temuan tersebut membantu merekonstruksi tahap-tahap evolusi sistem pernapasan dan penciuman pada garis sinodon sebelum munculnya Mammaliaformes.

Paleoekologi

Di Formasi Ischigualasto, E. argentinus hidup dalam ekosistem darat yang juga dihuni reptil archosaurus besar, dinosaurus awal, rhynchosaur, dicynodont, dan sinodon lainnya. Traversodontid merupakan salah satu komponen herbivor penting dalam komunitas tersebut.

Di Brasil, E. riograndensis terdapat dalam fauna Trias Akhir Santa Maria yang juga mencakup rhynchosaur Hyperodapedon, archosaurus, dinosaurus awal, dan berbagai sinodon. Data radiometrik menunjukkan bahwa sebagian lapisan pengandung fauna ini berumur sekitar 233 juta tahun.[7]

Penyebaran Exaeretodon dan bentuk traversodontid serupa di Argentina, Brasil, dan kemungkinan India mencerminkan hubungan biogeografis luas di daratan selatan Pangea pada Trias.

Paleopatologi dan kemungkinan perilaku sosial

Pada 2025, Ana Laura Doneda, Lívia Roese-Miron, dan Leonardo Kerber mendeskripsikan cedera tulang pada sebuah spesimen E. riograndensis dari Brasil yang berumur sekitar 228 juta tahun. Beberapa tulang rusuk memperlihatkan kalus yang menunjukkan bahwa patahan melintang telah sembuh ketika hewan masih hidup.[9]

Cedera tersebut mungkin disebabkan oleh jatuh, benturan, atau interaksi dengan hewan lain. Karena patahan itu cukup serius namun sempat sembuh, para peneliti mengajukan kemungkinan bahwa perilaku berkelompok dapat membantu individu yang cedera bertahan hidup. Namun, interpretasi perilaku sosial dari satu spesimen patologis tetap bersifat hipotesis.[9]

Signifikansi evolusioner

Exaeretodon bukan mamalia dan bukan nenek moyang langsung mamalia, tetapi termasuk dalam Cynodontia, kelompok sinapsida yang juga mencakup garis yang akhirnya menghasilkan mamalia. Karena itu, anatomi traversodontid memberikan informasi komparatif mengenai eksperimen evolusioner pada kerabat mamalia selama Trias.

Kombinasi gigi heterodont, pengunyahan kompleks, perkembangan otot rahang, perubahan ontogenetik, dan anatomi rongga hidung membuat Exaeretodon berguna untuk mempelajari bagaimana berbagai ciri yang sering diasosiasikan dengan mamalia berevolusi secara bertahap dan mosaik pada sinodon nonmamalia.[3][8]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b c Abdala, Fernando; Ribeiro, Ana Maria (2003). "A new traversodontid cynodont from the Santa Maria Formation (Ladinian–Carnian) of southern Brazil, with a phylogenetic analysis of Gondwanan traversodontids". Zoological Journal of the Linnean Society. 139 (4): 529–545. doi:10.1111/j.1096-3642.2003.00096.x.
  2. ^ a b c Abdala, Fernando; Barberena, Mário Costa; Dornelles, José E. F. (2002). "A new species of the traversodontid cynodont Exaeretodon from the Santa Maria Formation (Middle/Late Triassic) of Southern Brazil". Journal of Vertebrate Paleontology. 22 (2): 313–325. doi:10.1671/0272-4634(2002)022[0313:ANSOTT]2.0.CO;2.
  3. ^ a b c d Kubo, Tai; Yamada, Eisuke; Kubo, Mugino O. (2017). "Masticatory jaw movement of Exaeretodon argentinus (Therapsida: Cynodontia) inferred from its dental microwear". PLOS ONE. 12 (11): e0188023. doi:10.1371/journal.pone.0188023. PMC 5706674. PMID 29186178.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  4. ^ a b c d e Wynd, Brenen; Abdala, Fernando; Nesbitt, Sterling J. (2022). "Ontogenetic growth in the crania of Exaeretodon argentinus (Synapsida: Cynodontia) captures a dietary shift". PeerJ. 10: e14196. doi:10.7717/peerj.14196. PMC 9590418. PMID 36299507.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  5. ^ a b c Liu, Jun (2007). "The taxonomy of the traversodontid cynodonts Exaeretodon and Ischignathus" (PDF). Revista Brasileira de Paleontologia. 10 (2): 133–136. doi:10.4072/rbp.2007.2.07.
  6. ^ a b Schmitt, Maurício Rodrigo; Martinelli, Agustín Guillermo; Kaiuca, João Felipe Leal; Schultz, Cesar Leandro; Soares, Marina Bento (2024). "Old fossil findings in the Upper Triassic rocks of southern Brazil improve diversity of traversodontid cynodonts (Therapsida, Cynodontia)". The Anatomical Record. 307 (4): 1474–1514. doi:10.1002/ar.25244. PMID 37246488.
  7. ^ a b Langer, Max C.; Ramezani, Jahandar; Da Rosa, Átila A. S. (2018). "U-Pb age constraints on dinosaur rise from south Brazil". Gondwana Research. 57: 133–140. doi:10.1016/j.gr.2018.01.005.
  8. ^ a b Pavanatto, Ana E. B.; Kerber, Leonardo; Martinelli, Agustín G.; Ribeiro, Ana Maria; Soares, Marina B. (2021). "The nasal cavity of two traversodontid cynodonts (Eucynodontia, Gomphodontia) from the Upper Triassic of Brazil". Journal of Paleontology. doi:10.1017/jpa.2020.94.
  9. ^ a b Doneda, Ana Laura; Roese-Miron, Lívia; Kerber, Leonardo (2025). "Bony injuries in a Late Triassic forerunner of mammals from Brazil". The Science of Nature. 112 (3): 36. doi:10.1007/s00114-025-01984-2. PMID 40327109.

Bacaan lebih lanjut

  • Abdala, Fernando; Barberena, Mário Costa; Dornelles, José E. F. (2002). "A new species of the traversodontid cynodont Exaeretodon from the Santa Maria Formation (Middle/Late Triassic) of Southern Brazil". Journal of Vertebrate Paleontology. 22 (2): 313–325. doi:10.1671/0272-4634(2002)022[0313:ANSOTT]2.0.CO;2.
  • Liu, Jun (2007). "The taxonomy of the traversodontid cynodonts Exaeretodon and Ischignathus". Revista Brasileira de Paleontologia. 10 (2): 133–136. doi:10.4072/rbp.2007.2.07.
  • Wynd, Brenen; Abdala, Fernando; Nesbitt, Sterling J. (2022). "Ontogenetic growth in the crania of Exaeretodon argentinus (Synapsida: Cynodontia) captures a dietary shift". PeerJ. 10: e14196. doi:10.7717/peerj.14196.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link) Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.