Gedung Setan (Surabaya)
| Gedung Setan | |
|---|---|
Foto diambil oleh Ivan Darski bersama tim VICE (2019) | |
Lokasi di Surabaya | |
| Informasi umum | |
| Alamat | Banyu Urip Wetan I A No.107, RT.001/RW.06, Banyu Urip, Kec. Sawahan, Kota SBY, Jawa Timur 60254 |
| Kota | Surabaya |
| Negara | Indonesia |
| Koordinat | 6°59′2.13″S 110°24′38.28″E / 6.9839250°S 110.4106333°E |
| Peletakan batu pertama | 1809 |
| Mulai dibangun | 1809 |
| Selesai dibangun | 1815 |
| Dibuka | 1945 |
| Pemilik | Teng Sioe Hie/Teng Khoen Gwan |
| Data teknis | |
| Jumlah lantai | 5 |
| Desain dan konstruksi | |
| Arsitek | J.A. Middelkoop |
Gedung Setan adalah gedung bekas Kantor Gubernur VOC di daerah Jawa Timur yang telah berdiri sejak tahun 1809. Kemudian, setelah VOC meninggalkan Indonesia Gedung Setan dimiliki oleh Dokter Teng Sioe Hie[1][2] atau Teng Khoen Gwan.[3] Gedung ini pernah dijadikan tempat pengungsian orang-orang Tionghoa pada 1948.[1][2][3]
Gedung setan berdiri pada lahan seluas 400 m2, terdiri atas 40 ruang yang dijadikan sebagai kamar dan juga gedung ini memiliki tembok dengan ketebalan hampir 50 cm dengan usia mencapai dua abad. Gedung Setan termasuk dalam kategori bangunan cagar budaya, tetapi tidak dapat direvitalisasi Pemerintah Kota Surabaya karena pernah menjadi milik pribadi.[1][2]
Etimologi
Sejarah perolehan nama gedung tersebut menjadi Gedung Setan berawal dari area di sekitar gedung bekas Kantor Gubernur VOC tersebut yang dijadikan tempat pemakaman Tionghoa dan gedungnya dipakai untuk tempat sembahyang bagi keluarga orang-orang yang dimakamkan di area tersebut. Karena area pemakaman Tionghoa yang ada disana cukup luas, dan gedung itu adalah satu-satunya gedung yang ada di daerah tersebut, sehingga masyarakat beranggapan bahwa gedung tersebut adalah gedungnya setan.[1]
Sejarah
Pada 1948, Gedung Setan dijadikan tempat pengungsian bagi orang-orang Tionghoa yang berada di daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah karena keadaan mereka yang dirasa belum aman.
Setelah merasa kondisi cukup aman, orang-orang Tionghoa tadi pergi kembali ke daerahnya, tapi juga ada yang memilih untuk menetap di Gedung Setan. Sehingga, orang-orang Tionghoa yang tinggal di Gedung Setan saat ini adalah generasi keempat dari pengungsi Tionghoa tahun 1948. Jika tidak memiliki jalur keturunan dari pengungsi Tionghoa tersebut, maka tidak diperbolehkan tinggal di Gedung Setan.[1]
Referensi
- ^ a b c d e Goestiwana, Windy. 2019. Kisah Anak-anak Penghuni 'Gedung Setan' Surabaya Diarsipkan 2020-10-11 di Wayback Machine.. Kumparan Diarsipkan 2023-07-29 di Wayback Machine.. Diakses pada 6 April 2020.
- ^ a b c Surya, Reno. 2019. Bertemu Penghuni Gedung Setan Surabaya: Monumen Trauma Etnis Tionghoa di Masa Lalu Diarsipkan 2020-09-07 di Wayback Machine.. VICE Diarsipkan 2020-09-25 di Wayback Machine.. Diakses pada 6 April 2020.
- ^ a b Fadhila, Shafa Tasha. 2019. Menengok Penghuni dan Sejarah Gedung Setan Surabaya Diarsipkan 2020-10-01 di Wayback Machine.. Liputan 6 Diarsipkan 2023-07-28 di Wayback Machine.. Diakses pada 6 April 2020.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.