Gendhing Sekaten

Gendhing Sekaten merupakan salah satu bentuk seni karawitan Jawa yang memiliki nilai ritual dan historis tinggi. Gendhing ini khusus dimainkan dalam rangkaian upacara Sekaten, yaitu peringatan Maulid Nabi Muhamad yang diselenggarakan oleh Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta. Sekaten sendiri berlangsung setiap bulan Mulud (Rabiul Awal) dan berpuncak pada peringatan kelahiran Muhammad yang dalam tradisi Jawa disebut sebagai Grebeg Mulud.[1] Pada tahun 2023, Gendhing Sekaten ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Warisan Budaya Takbenda.[1]

Sejarah

Pada zaman Kesultanan Demak, Gendhing Sekaten digunakan sebagai media dakwah Islam oleh para Wali Songo. Melalui seni gamelan, para wali dapat menarik perhatian masyarakat Jawa yang kala itu belum memeluk agama Islam. Gendhing Sekaten juga digunakan untuk mengiringi pembacaan riwayat Muhammad (serat maulud) dan dijadikan sarana untuk mengajarkan nilai-nilai agama dengan pendekatan kultural yang damai dan santun.[2]

Prosesi

Gendhing Sekaten terdiri dari beberapa komposisi gendhing klasik Jawa yang memiliki pola irama pelog dan dimainkan dengan perangkat gamelan khusus yang disebut Gamelan Sekati. Gamelan Sekati terdiri dari sepasang perangkat gamelan, yaitu Gamelan Kyai Guntur Madu dan Gamelan Kyai Guntur Sari. Alat musik ini berukuran lebih besar dari gamelan biasa, dengan volume suara yang lebih keras dan khas, guna dapat menjangkau area halaman masjid tempat upacara berlangsung.[3]

Saat ini, pelaksanaan Gendhing Sekaten tetap dijaga sebagai warisan kebudayaan tak benda yang memiliki nilai spiritual dan estetika tinggi. Gendhing ini dimainkan setiap tahun menjelang Grebeg Mulud, mulai dari tanggal 5 hingga 12 Rabiul Awal, dari sore hingga tengah malam, di pelataran Masjid Agung Keraton Yogyakarta maupun Masjid Agung Keraton Surakarta. Ritual ini dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat dan terus menarik wisatawan dari berbagai daerah untuk menyaksikan langsung prosesi ini.Gendhing Sekaten tidak hanya memperkaya khazanah musik Jawa, tetapi juga menjadi simbol akulturasi nilai Islam dengan kebudayaan Jawa. Keberlangsungan Gendhing Sekaten hingga saat ini mencerminkan daya adaptasi dan keberlanjutan sebuah karya seni yang menjembatani agama, adat, dan kesenian dalam satu kesatuan harmonis.[4]

Rujukan

  1. ^ a b crew, kraton. "Gendhing Sekaten". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-20.
  2. ^ Subuh, Subuh (2016-12-15). "Garap Gending Sekaten Keraton Yogyakarta". Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (dalam bahasa Inggris). 17 (3): 178–188. doi:10.24821/resital.v17i3.2227. ISSN 2338-6770.
  3. ^ Firmansyah, Arya Yusadhi Rizky; Nurnaningsih; Sawitri (2025-01-31). "Sejarah Dumadosipun Gendhing Sekaten Karaton Surakarta Hadiningrat". Indonesian Journal of Social Science (dalam bahasa Inggris). 3 (1): 32–38. ISSN 2988-3016.
  4. ^ Media, Harian Jogja Digital. "Hajad Dalem Sekaten, 16 Gending Ini Lazim Dilantunkan Selama Sekaten". Harianjogja.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-20.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.