Hamengkubuwana II

Hamengkubuwono II
Sri Sultan Hamengkubuwono II, Sultan Sepuh
Sultan Yogyakarta
Pemerintahan pertama2 April 1792 – 31 Desember 1810
PendahuluHamengkubuwana I
PenerusHamengkubuwana III
Pemerintahan kedua28 Desember 1811 – 20 Juni 1812
PendahuluHamengkubuwana III
PenerusHamengkubuwana III
Pemerintahan ketiga20 September 1826 – 3 Januari 1828
PendahuluHamengkubuwana V
PenerusHamengkubuwana V
KelahiranGusti Raden Mas Sundoro
(1750-03-07)7 Maret 1750
Gunung Sindoro, Jawa Tengah
Kematian3 Januari 1828(1828-01-03) (umur 77)
Yogyakarta
Pemakaman
Istri
  • Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton
  • Gusti Kanjeng Ratu Hemas
  • Gusti Kanjeng Ratu Kencono Wulan
  • Gusti Kanjeng Ratu Sultan
KeturunanHamengkubuwana III
Nama takhta
Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga 'Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Kalih ing Ngayogyakarta Hadiningrat
WangsaMataram
AyahHamengkubuwana I
IbuGusti Kanjeng Ratu Kadipaten
AgamaIslam

Hamengkubuwono II (juga dieja Hamengkubuwana II, 7 Maret 1750 – 3 Januari 1828), lahir Raden Mas Sundoro,[1] adalah Sultan Yogyakarta kedua pada tahun 1792–1810,[2] 1811–12[3] dan akhirnya 1826–28 selama Perang Jawa.

Kehidupan Awal

[4] Dia adalah putra kelima dari Hamengkubuwana I, putra sulung yang lahir dari permaisuri keduanya, Gusti Kanjeng Ratu Kadipaten.[1] Ia menghabiskan masa kecilnya bersama ibunya di sebuah kamp pengungsi akibat perang melawan VOC.

Di masa mudanya, ia dikirim ke Surakarta, dengan tujuan untuk lebih mengenal calon istrinya, Gusti Kanjeng Ratu Alit, putri sulung Pakubuwana III. Putra dari pernikahan mereka diharapkan dapat menyatukan kembali Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Namun, rencana tersebut gagal karena Gusti Kanjeng Ratu Alit, cepat atau lambat menikah dengan Kanjeng Pangeran Harya Prabu Hamijaya, putra sulung Mangkunegara I yang lahir dari istri kedua, Raden Ayu Kusumapatahati. Hal ini dianggap sebagai penghinaan bagi Yogyakarta yang mengakibatkan kembalinya saudara tirinya, Gusti Kanjeng Ratu Bendara, yang menggugat cerai Mangkunegara I.

Masa Pemerintahan

Ia menggantikan ayahnya, Hamengkubuwana I yang meninggal pada tahun 1792. Setelah Daendels menekannya, pada bulan Desember 1810, ia terpaksa turun takhta demi putranya, Raden Mas Surojo.[1] yang diangkat menjadi sultan baru, dengan nama Hamengkubuwono III. Namun, hampir setahun kemudian, pada tahun 1811, Inggris di bawah Stamford Raffles mengembalikannya ke takhta. Akan tetapi, karena perilakunya yang agresif terhadap Inggris,[1] enam bulan kemudian pada Juni 1812, ia digulingkan dan diasingkan ke Penang. Ia kembali ke Jawa pada tahun 1815, tetapi pada tahun 1817, karena dianggap sebagai ancaman, ia diasingkan untuk kedua kalinya oleh Belanda, kali ini ke Ambon.[1]

Pada tahun 1826, Belanda memutuskan untuk memulangkannya dari pengasingan dan mengembalikannya sebagai sultan. Masa pemerintahan ketiganya bertepatan dengan Perang Jawa. Pada tanggal 3 Januari 1828, ia meninggal dunia. Ia digantikan oleh cicitnya, Hamengkubuwana V. Dia dimakamkan di Kotagede[1] alih-alih pemakaman kerajaan Imogiri, karena kekacauan pada saat itu.

Pemerintahan Periode Pertama

Sejak tahun 1808 Herman Wilem Daendels menjadi Gubermur Jenderal Hindia Belanda. Daendels dikenal sebagai gubernur jenderal yang anti feodalisme. Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen ciptaan Daendels) seperti minister berhak memakai simbol-simbol kekuasaan serta kebesaran seperti yang dipakai oleh raja-raja Jawa di dalam keraton. Minister juga tidak perlu melakukan aturan menurut tradisi Jawa yang merendahkan martabatnya seperti melepas topi, bersila dan duduk lebih rendah dari raja atau mempersembahkan sirih dan tuak kepada raja Jawa. Selain itu, Daendels memerintahkan agar segera menggantikan peraturan tata upacara lama dengan yang baru di keraton Jawa.[5] Hamengkubuwana II menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya. Sedangkan Pakubuwana IV menerima dengan taktik tersembunyi, yaitu harapan bahwa Belanda akan membantu Surakarta menaklukkan Yogyakarta.

Hamengkubuwana II juga bersitegang dengan Patih Danureja II yang dekat dengan Belanda. Ia memecat Danureja II dan menggantinya dengan Pangeran Natadiningrat, putra Pangeran Natakusuma (adik Hamengkubuwana II). Kemudian Hamengkubuwana II juga merestui pemberontakan menantunya, yaitu Raden Rangga Prawiradirjo III (Raden Ronggo), bupati wedana Madiun yang menentang pemanggilan dirinya ke Bogor akibat kasus kerusuhan di Ngebel dan Sekedok, berkaitan dengan pemaksaan penyerahan hak pengelolaan hutan kesultanan oleh Daendels.

Belanda akhirnya menumpas pemberontakan Raden Ronggo dengan pasukan gabungan antara Belanda, Surakarta, dan Yogyakarta. Daendels semakin mencurigai peran Hamengkubuwana II di balik gerakan Raden Rangga, apalagi dari surat yang diambil sebagai barang bukti dari jasad Raden Rangga terdapat cap berlogo kesultanan. Hal ini menyebabkan keributan antara kedua pihak. Sultan tmenolak tuduhan itu karena cap kesultanan sehari-hari berada di kantor patih. Pada bulan Desember 1810, Daendels menyerbu Kesultanan Yogyakarta dan menaklukkannya.[butuh rujukan]

Akibat penaklukan Kesultanan Yogyakarta, Hamengkubuwana II diturunkan dari tahtanya oleh Daendels. Kedudukan Hamengkubuwana II kemudian digantikan oleh putranya yang ditetapkan oleh Daendels sebagai Wali Raja. Putra Hamengkubuwana II yang ditetapkan sebagai raja ialah GRM Suraja sebagai Sultan Hamengkubuwana III.[6] Daendels juga menangkap Pangeran Natakusuma dan Natadiningrat, serta mengembalikan kedudukan Patih Danureja II.

Pemerintahan Periode Kedua

Pada tahun 1811 pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris. Hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali. Tak hanya itu, Sultan juga berinisiatif menyingkirkan Danureja II yang dianggap sebagai biang keladi masalah yang dihadapi sultan dengan Daendels. Pada September 1811, Danureja II dibunuh di depan Sitihinggil atas perintah sultan ketika hendak menghadiri rapat di keraton.

Sikap Hamengkubuwana II terhadap Inggris sama buruknya dengan sikapnya terhadap Belanda. Terutama pada putranya, Mas Suraja, sikap sultan bisa dibilang amat keras, mengingat putranya tersebut dianggap turut berperan dalam menyingkirkan dirinya dari singgasana kesultanan tahun 1810. Pembersihan besar-besaran yang dilakukan sultan setelahnya, bahkan nyaris mengancam keselamatan jiwa sang putra mahkota. Dengan Inggris, tercatat nyaris terjadi pertumpahan darah antara utusan Raffles dengan kerabat keraton di depan Sultan, hanya akibat kursi untuk Raffles diletakkan lebih rendah dari singgasana Sultan, sewaktu wakil gubernur Inggris tersebut hendak mengunjungi Yogyakarta bulan Desember 1811.

Pakubuwana IV di Surakarta pura-pura mendukung Hamengkubuwana II agar berani memerangi Inggris. Surat-menyurat antara kedua raja ini terbongkar oleh Inggris. Maka, pada tanggal 19 Juni 1812, pasukan Inggris yang dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta. Terjadi perang besar yang berakhir dengan kekalahan kesultanan. Hamengkubuwana II ditangkap dan dibuang ke pulau Penang, sedangkan Pakubuwana IV dirampas sebagian wilayahnya.

Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pangeran Natakusuma, yang mendukung Inggris, diangkat oleh Thomas Raffles sebagai Paku Alam I dan mendapat wilayah berdaulat bernama Pakualaman.

Pemerintahan Periode Ketiga

Pada tahun 1825 terjadi perlawanan Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816). Saat itu raja yang bertahta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V, yang bertahta menggantikan ayahnya tahun 1823 saat dirinya masih berumur 3 tahun.

Perlawanan Pangeran Diponegoro sangat mendapat dukungan dari rakyat. Pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris. Hamengkubuwana II kembali bertahta pada 18 Agustus 1826, sedangkan Hamengkubuwana V agak disingkirkan oleh Belanda. Kedatangan sultan sebagai penguasa Yogyakarta terbukti sedikit banyak melemahkan kekuatan Diponegoro, mengingat kepopulerannya semasa masih menjabat sebelum dibuang ke Penang tahun 1812. Pada masa itu, sultan berusaha keras menertibkan keadaan dan mengembalikan keamanan di wilayahnya, meskipun dihimpit oleh tuntutan-tuntutan Belanda dalam rangka memadamkan Perang Diponegoro. Beberapa tokoh penting keraton berhasil dibujuk pulang ke Yogyakarta, tetapi demikian, sultan sendiri tidak pernah berniat serius untuk membujuk Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi, putranya, untuk menghentikan perlawanan. Belanda mencurigai tindakan sultan ini sebagai dukungan terselubung terhadap perlawanan Diponegoro.

Wafat

Sultan Hamengkubuwana II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh), akhirnya mangkat pada tanggal 3 Januari 1828 setelah menderita sakit radang tenggorokan dan akibat usia tua. Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V. Berbeda dari penguasa-penguasa Kesultanan Yogyakarta lainnya, jenazah Hamengkubuwana II tidak dimakamkan di Imogiri, melainkan di kompleks pemakaman Kotagede. Hal ini terjadi karena pertimbangan keamanan. Jalur perjalanan ke Imogiri kala itu dikuasai oleh kubu Pangeran Diponegoro.

Keluarga

Permaisuri

  1. Gusti Kanjeng Ratu Kedhaton
    putri Kanjeng Raden Tumenggung Purwadiningrat dari Magetan.
  2. Gusti Kanjeng Ratu Hemas
    putri Kanjeng Pangeran Harya Pakuningrat dan Gusti Kanjeng Ratu Alit. Dia adalah cucu Pakubuwana II dari pihak ibu.
  3. Gusti Kanjeng Ratu Kencana Wulan
    putri Ki Bener.
  4. Gusti Kanjeng Ratu Sultan
    putri Kanjeng Raden Tumenggung Resagata dari Sukawati.

Anak Terkemuka

  1. Gusti Raden Mas Suraja
    putra GKR. Kedhaton, lalu Hamengkubuwana III.
  2. Gusti Kanjeng Ratu Bendara
    putra GKR. Kedhaton. Menikah dengan sepupu pertamanya, Kanjeng Raden Tumenggung Sumadiningrat.
  3. Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkudiningrat
    putra GKR Hemas. Kakek buyut Soekarno.
  4. Gusti Kanjeng Ratu Hangger
    putri GKR. Kedhaton. Menikah dengan Danureja II, Patih Yogyakarta.
  5. Gusti Kanjeng Ratu Maduratna
    putri GKR. Kedhaton. Menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Rangga Prawiradirja III dari Magetan.
  6. Gusti Kanjeng Ratu Hayu
    putri GKR. Kencana Wulan. Menikah dengan Paku Alam II Yogyakarta.
  7. Gusti Kanjeng Ratu Anom
    putri GKR. Kencana Wulan. Menikah dengan Kanjeng Pangeran Harya Purwanegara.
  8. Gusti Kanjeng Ratu Timur
    putri GKR. Kencana Wulan. Menikah dengan Kanjeng Pangeran Harya Suryaningprang, putra Paku Alam I.
  9. Gusti Kanjeng Ratu Sasi
    putri GKR. Kencana Wulan. Menikah dengan Danureja III, Patih Yogyakarta.
  10. Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi / Kanjeng Gusti Panembahan Mangkurat
    putra GKR. Kedhaton. pendukung utama Pangeran Diponegoro dan salah satu panglima perangnya.
  11. Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo / Bendoro Pangeran Haryo Hangabehi
    anak dari Bendoro Mas Ayu Sumarsonowati. pihak ibu adalah salah satu selir sultan yang merupakan etnis Tionghoa-Jawa atau biasa dikenal dengan Tionghoa Peranakan. salah satu paman tercinta Pangeran Diponegoro dan pendukung setianya. dalam Perang Jawa ia bertindak sebagai ahli strategi perang dan komandan medan perang
  12. Bendara Pangeran Harya Martosono/Bendara Pangeran Harya Murdaningrat
    kakek buyut Raden Mas Margono Djojohadikusumo.
  13. Bendara Pangeran Harya Sutawijaya
    putra BRAy. Dayaraga, Wakil Dalem hingga Hamengkubuwana V.

Keturunan Terkemuka

  1. Diponegoro
    putra Gusti Raden Mas Suraja. Pahlawan Nasional Indonesia yang melawan pemerintahan kolonial Belanda selama Perang Jawa (1825–1830).
  2. Soekarno
    cicit Kanjeng Gusti Pangeran Harya Mangkudiningrat, putra GKR Hemas, Founding Father Indonesia dan presiden Indonesia pertama.
  3. Freya Jayawardana, anggota JKT48. di ulang tahunnya yang ke 17, ia menerima gelar bangsawan "Raden Roro".
  4. Margono Djojohadikusumo
    cicit Bendara Pangeran Harya Martosono, pendiri dan presiden pertama Bank Negara Indonesia.
  5. Sumitro Djojohadikusumo
    cicit Bendara Pangeran Harya Martosono, pelayanan pada masa pemerintahan Sukarno dan Soeharto.
  6. Prabowo Subianto
    cicit dari Bendara Pangeran Harya Martosono, presiden Indonesia kedelapan.
  7. Hashim Djojohadikusumo
    cicit dari Bendara Pangeran Harya Martosono, seorang pengusaha dan miliarder Indonesia.
  8. Didit Hediprasetyo
    cicit dari Bendara Pangeran Harya Martosono, seorang perancang busana Indonesia.
  9. Aryo Djojohadikusumo
    cicit-cicit dari Bendara Pangeran Harya Martosono, seorang Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
  10. Rahayu Saraswati
    cicit-cicit dari Bendara Pangeran Pangeran Harya Martosono, seorang Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Catatan

  1. ^ a b c d e f crew, kraton. "Sri Sultan Hamengku Buwono II". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-10-03.
  2. ^ Ricklefs, M. C. (1981) A history of modern Indonesia since c.1300 to the present Basingstoke: Palgrave. ISBN 0333243803 (pbk.) page 101 re ruling dates
  3. ^ Daendels mundur dari HBII demi putranya Hamengkubuwono III
  4. ^ Heryanto, Fredy (2008). Mengenal Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Tambora Offset. hlm. 21.
  5. ^ Djoko Marihandono (2008). "Sultan Hamengku Buwono II:Pembela Tradisi dan Kekuasaan Jawa". Makara. 12 (1). Universitas Indonesia: 31. ISSN 2355-794X. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-02-06. Diakses tanggal 2021-01-28.
  6. ^ Maschab, Mashuri (Desember 2013). Gustomy, R., dan Parlindungan, U. (ed.). Politik Pemerintahan Desa di Indonesia (PDF). Yogyakarta: Penerbit PolGov. hlm. 37. ISBN 978-602-14532-2-3. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2023-08-06. Diakses tanggal 2023-05-25. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list (link)

Lihat juga

Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Hamengkubuwana I
Sultan Yogyakarta (Pemerintahan Pertama)
1792–1810
Diteruskan oleh:
Hamengkubuwana III
Didahului oleh:
Hamengkubuwana III
Sultan Yogyakarta (Pemerintahan Kedua)
1811–1812
Diteruskan oleh:
Hamengkubuwana III
Didahului oleh:
Hamengkubuwana V
Sultan Yogyakarta (Pemerintahan Ketiga)
1826–1828
Diteruskan oleh:
Hamengkubuwana V

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.