Kastolani
| Kastolani | |
|---|---|
| Lahir | 1932-1933 |
| Meninggal | 29 Februari 2024 (umur 91-92) |
| Pengabdian | Negara Islam Indonesia (1953-1967) |
| Dinas/cabang | Tentara Islam Indonesia |
| Lama dinas | 1953-1967 |
| Perang/pertempuran | Pemberontakan Darul Islam |
Kastolani (lahir 1932 atau 1933 - 29 Februari 2024) adalah seorang tokoh militer yang merupakan mantan komandan DI/TII. Dia menjadi komandan DI/TII Jawa Tengah terakhir yang menyerah.
Riwayat hidup
Karier DI/TII
Dilahirkan pada tahun 1932-1933, Kastolani bergabung dengan DI/TII pada tahun 1953 karena terpikat oleh janji Darul Islam yang ingin mendirikan Indonesia berdasarkan hukum syariat Islam.[1]
Menjadi anggota DI/TII, Kastolani diangkat menjadi komandan DI/TII di Brebes, khususnya di Ganggawang.[2] Dia beserta pasukannya bersembunyi di daerah kaki Gunung Slamet dan bergeriliya di hutan-hutan Bantarkawung, Salem, Majenang, Songgom, Cibingbin, dan Jati Robek.[3]
Ketika Kastolani mendengar penangkapan Kartosoewirjo oleh TNI, dia sangat marah dan meminta kepada sembilan pasukannya untuk menyerang markas TNI. Selain itu juga, dia juga mengancam akan menembak komandan DI/TII lainnya di Brebes yang mau menyerah. Namun, dia berubah pikiran dengan memperbolehkan komandannya menyerah setelah mereka tidak ada niat untuk bertempur sejak Kartosoewirjo ditangkap, dengan syarat jangan meninggalkan salat.[1]
Kastolani tetap melanjutkan perang gerilanya setelah Kartosoewirjo menyerah di hutan.[3] Ketika pasukan Ismail Pranoto diserang habis-habisan oleh TNI, sisa pasukannya bergabung dengan Kastolani karena Ismail pindah ke Yogyakarta. Pada tahun 1967, Kastolani hanya memiliki pasukan yang terdiri dari 12 orang, yaitu 8 orang militer dan 4 orang sipil, dan mereka bersumpah untuk tidak menyerah.[4]
Ditangkap oleh TNI
Dua utusan dari Kadar Solihat, mantan komandan DI/TII, yaitu Khaeruddin dan Abdullah, bertemu dengan Kastolani dan menyampaikan bahwa pasukan DI/TII masih ada di Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Aceh. Untuk di Jawa Barat, mereka mengatakan bahwa banyak Pasukan Siliwangi yang terserap ke DI/TII. Mendengar hal tersebut, dia yakin bahwa dia dan pasukannya akan ditugaskan bergerilya di salah satu dari ketiga tempat tersebut, sehingga dia mengirimkan empat anak buahnya untuk menuju ke Jawa Barat bersama dengan Khaeruddin.[4] Empat anak buahnya itu lalu ditangkap oleh TNI di Tasikmalaya.[5]
Tujuh belas hari setelah penangkapan anak buahnya, Khaeruddin bersama mantan anggota DI/TII Jawa Barat, Kadar Solihat, dan Sama'un, bertemu dengan Kastolani. Mereka menyuruhnya untuk pindah tempat bergerilya. Dia menyetujui rencana tersebut dan segera meninggalkan Brebes menuju Tasikmalaya. Sesampainya di Tasikmalaya, dia ditahan di Markas Brigade Infanteri 13.[6] Sumber TNI menyebutkan bahwa Kastolani menyerah kepada Staf Kogab Jawa Barat pada tanggal 19 Oktober 1967 di Songgom, Brebes.[7][8]
Pasca penangkapan
Kastolani dibebaskan pada tahun yang tidak diketahui, lalu tinggal di Salem. Dia juga pernah diwawancarai oleh Tempo mengenai NII KW-9 Abu Toto dan mengatakan bahwa mereka adalah Darul Islam palsu.[9] Dia menjadi sesepuh Pondok Pesantren Miftahurohman Barujati. Dia meninggal pada tanggal 29 Februari 2024.[10]
Referensi
- ^ a b Dewanto, Nugroho (2013). Kartosoewirjo: An Impossible Dream. Tempo Publishing.
- ^ Buchheim, Eveline; Dwicahyo, Satrio; Steijlen, Fridus; Welvaart, Stephani (2022). Meniti Arti: Bertukar Makna Bersama 'Saksi & Rekan Sezaman' Tentang Perang Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 79.
- ^ a b Elsa Online, Elsa Online. "Seorang DI, Tewas Ditangan Adik Sendiri". elsaonline.com. Elsa Online. Diakses tanggal 12 Agustus 2026.
- ^ a b INSEP 2011, hlm. 36.
- ^ INSEP 2011, hlm. 37.
- ^ INSEP 2011, hlm. 37-38.
- ^ Dinas Sejarah Militer TNI AD, Dinas Sejarah Militer TNI AD (1981). Sejarah TNI-AD, 1945-1973: Riwayat Hidup Singkat Pimpinan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Bandung: Dinas Sejarah TNI AD. hlm. 395.
- ^ "Sisa2 Gerombolan Kartosuwirjo menjerahkan diri". Kompas. 23 Oktober 1967. Diakses tanggal 16 Agustus 2026.
- ^ Tempo, Tempo (2019). Pasang Surut Negara Islam Indonesia - Jilid III. Tempo Publishing. hlm. 37.
- ^ Yayasan Robithotul Ma'ahid, Yayasan Robithotul Ma'ahid. "Turut berbelasungkawa atas wafatnya: KH Qastolany bin KH Mansurudin". facebook.com. Yayasan Robithotul Ma'ahid. Diakses tanggal 16 Agustus 2026.
Bibliografi
- INSEP, INSEP (2011). Al-Zaytun the Untold Stories: Investigasi terhadap Pesantren Paling Kontroversial di Indonesia. Jakarta: Pustaka Alvabet.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.