Kedhaton

Kedhaton (atau sering dieja Kadhaton) adalah bagian inti, paling privat, dan paling sakral di dalam tata ruang arsitektur sebuah keraton (istana) kerajaan di Jawa, tempat bertahtanya raja beserta keluarga intinya.[1]

Jika keraton merujuk pada keseluruhan kompleks istana secara luas (termasuk alun-alun, benteng, dan fasilitas pemerintahan), maka kedhaton merujuk secara spesifik pada kompleks perumahan (inner sanctum) tempat sultan atau susuhunan menjalani kehidupan sehari-harinya.

Etimologi

Secara etimologis, kata kedhaton berasal dari kata dasar dalam bahasa Jawa kuno (dan bahasa Melayu kuno), yakni datu (atau ratu) yang berarti pemimpin atau raja.[2] Mendapat awalan ke- dan akhiran -an, sehingga membentuk kata ke-datu-an (kedhaton) yang secara harfiah berarti "tempat kedudukan datu/raja".

Konsep ini sebangun dengan kata ke-ratu-an (keraton), namun dalam perkembangannya, istilah kedhaton mengalami spesifikasi makna menjadi area yang lebih eksklusif dan tertutup dari akses publik.

Arsitektur dan Tata Ruang

Dalam konsep kosmologi Jawa, keraton dibangun berdasarkan garis imajiner (sumbu filosofis) yang menghubungkan elemen alam. Kedhaton diletakkan tepat di tengah-tengah sebagai pusat poros makrokosmos (dunia).

Lingkungan kedhaton dikelilingi oleh tembok tinggi yang disebut cepurik. Area ini sangat dijaga ketat dan memiliki beberapa bangunan utama, antara lain:[3]

  • Prabayeksa: Bangunan pusaka tempat disimpannya senjata dan benda-benda kebesaran kerajaan.
  • Bangsal Kencana: Tempat raja mengadakan pertemuan khusus atau upacara sakral internal keluarga.
  • Keputren: Kompleks tempat tinggal khusus bagi para putri raja dan permaisuri.

Hanya abdi dalem tertentu, kerabat dekat, dan keluarga inti yang diperbolehkan memasuki area kedhaton.

Makna Filosofis dalam Salaki Rabi

Di luar konteks kerajaan, istilah kedhaton juga sering digunakan dalam literatur pewayangan dan filosofi Pernikahan adat Jawa (Salaki Rabi). Terdapat sebuah konsep yang disebut Wahyu Kedhaton, yakni sebuah anugerah atau mandat ilahiah yang diberikan kepada seseorang untuk memimpin sebuah wilayah atau keluarga.[4]

Dalam institusi pernikahan Jawa, sepasang pengantin yang sedang dirias dan dipersandingkan di pelaminan diperlakukan layaknya "Raja dan Ratu Sehari". Rumah tangga yang kelak mereka bangun dianalogikan sebagai sebuah kedhaton baru.

Oleh karena itu, seorang suami sebagai kepala keluarga dituntut untuk memiliki wibawa dan kebijaksanaan layaknya raja yang memimpin kedhaton-nya, sementara istri menjadi permaisuri yang mengatur tata krama, keharmonisan, dan tata laksana kehidupan di dalam "istana" keluarga mereka.

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Koentjaraningrat (1994). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
  2. ^ Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Bausastra Jawa. Batavia: J.B. Wolters.
  3. ^ Bratawijaya, Thomas Wiyasa (1990). Upacara Tradisional Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  4. ^ Endraswara, Suwardi (2006). Falsafah Hidup Jawa. Yogyakarta: Cakrawala.

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.