Kronisme
Kronisme (bahasa Yunani:χρόνιος) adalah perilaku yang memiliki kecenderungan memihak dalam penunjukan kedudukan dan kemudahan lain kepada teman atau rekan dekat, khususnya dalam bidang politik di antara para politikus dengan pihak pendukung. Sebagai contoh, penunjukan para "kronis" dalam posisi kekuasaan, tanpa mementingkan kelayakan mereka.[1][2]
Kronisme ada ketika pihak pemberi dan penerima sedang berada dalam urusan sosial atau bisnis. Lazimnya, pihak pemberi membutuhkan bantuan dalam proposal, pekerjaan atau posisi jabatan. Dengan alasan ini, pihak pemberi menunjuk orang-orang yang dirasa takkan menentang atau mengkritik proposal atau berseberangan pandangan.[3] Meskipun demikian, "kronisme" merupakan istilah yang mengisyaratkan pembelian atau penjualan kepentingan, semisal suara dalam legislasi, kepentingan terhadap kelompok tertentu, memberikan balas jasa untuk berlibur, dsb.
Pejabat negara merupakan pihak yang sering dikecam terkait kronisme, sebagaimana mereka yang "menghabiskan" uang dari para pembayar pajak. Banyak pemerintah yang demokratis yang mengupayakan adanya transparansi administratif dalam pembukuan dan proyek kegiatan, sebaliknya, tidak ada pernyataan jelas pada sebuah pemerintahan yang telah terjangkit 'kronisme.'[4]
Penentangan umumnya diberi terhadap politikus yang sekalipun dibantu pihak berkompeten, masih mengadakan kegiatan sosial, bisnis, atau rekanan politis yang berujung pada penunjukan proyek pemerintahan atau jabatan kepada kolega dengan hanya didasari kedekatan dan keakraban tanpa menjunjung kelayakan. Politikus dengan kepentingan bisnis atau kepentingan tertentu, dengan kelompok dan organisasi profesional mendapat jaminan kroni-bisnis dalam urusan politik, khususnya dengan honor yang sesuai dan banyak. Pengaruh kapitalisme kronis menyebabkan dampak bisnis curang yang sering ditemui pada sosial dengan sistem peradilan yang tidak efektif. Akibatnya, terdapat upaya pada cabang legislatif pemerintahan untuk mengadakan cara paksa tentang undang-undang yang memungkinkan partai tertentu melakukan tindakan manipulasi dengan campur tangan pebisnis dan pemerintahan kronis.[5][6][7]
Dampak kronisme pada ekonomi dan sosial ditanggung oleh masyarakat luas. Beban yang harus dipikul adalah berkurangnya peluang bisnis bagi kebanyakan masyarakat, menurunnya persaingan pasar, inflasi harga, lesunya kondisi bisnis, ketidakefektifan siklus investasi, melemahnya dorongan dari kalangan yang terdampak dan penyusutan aktivitas produksi. Risiko yang tampak jelas adalah kelompok pekerja hanya didominasi sumber daya manusia yang lemah baik di sektor pemerintah maupun swasta. Kronisme dianggap hal yang mendarah-daging, sebab kronisme melahirkan budaya kronisme. Hal ini dapat diberantas hanya melalui undang-undang hukum yang dapat diandalkan, efektif dan paten, dengan lembaga pemerintahan yang menjunjung keadilan dalam peradilan.
Referensi
- ^ Macmillandictionary
- ^ Dictionary
- ^ Daniel Garza. "Government Cronyism is Back". Diarsipkan dari April 2012 asli tanggal 2015-03-08. Diakses tanggal 2016-01-22. ;
- ^ "Oxford Dictionaries - Dictionary, Thesaurus, & Grammar". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-03-13. Diakses tanggal 2016-01-22.
- ^ Staff (2010). "Do Old Boys' Clubs Make The Market More Efficient?". The Free Marketeers. Diakses tanggal 26 April 2012.
- ^ "Definition". askdefine.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-05-07. Diakses tanggal 2016-01-22.
- ^ CED.com, official website of: The Committee for Economic Development (CED), "Crony Capitalism: Unhealthy Relations Between Business and Government"
Pustaka
- Begley, T., Khatri, N., Tsang, EWK. 2010. Networks and cronyism: A social exchange analysis. Asia Pacific Journal of Management, 27:281-297
- Khatri, N., Tsang, E.W.K., & Begley, T. 2006. Cronyism: A cross-cultural analysis. Journal of International Business Studies, 37(1): 61-75. [Also in T. G. Andrews and R. Mead (Eds.), Cross Cultural Management, Volume 2 -The Impact of Culture 1: 126-150. Routledge, UK.]
- Khatri, N., Tsang, E.W.K., & Begley, T. 2003. Cronyism: The downside of social networking. The Best Papers Proceedings of the Academy of Management, Seattle
- Khatri, N. & Tsang, E.W.K. 2003. Antecedents and consequences of cronyism in organizations. Journal of Business Ethics, 43: 289-303.
Pranala luar
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.