Leko

Tari Leko adalah salah satu jenis tari balih-balihan yang terdapat di Desa Tunjuk Kelod, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Tari ini sudah mengalami perkembangan pesat mulai tahun 1919 sampai tahun 1993. Tari ini banyak disukai oleh masyarakat Tunjud Kelod.

Tari ini mengalami masa surut ketika masuk bangsa Jepang menjajah bangsa Indonesia. Baru kemudian tahun 1959, tari Leko ini diaktifkan kembali di Banjar Tunjud Kelod. Selain di desa Tunjuk Kelod, tari ini juga berkembang di daerah Banjar Parekan, Desa Sibang Gede, Kabupaten Badung, Bali.

Komponen tari

Penari

Tari ini dimainkan oleh beberapa orang dan semuanya memiliki peran masing-masing.[1]

Busana

Penari mengenakan busana atasan baju berwarna putih berlengan panjang, kain prada, stagen dan sabuk prada, ampok-ampok, oncer, tutup dada, jarnak, bapang, beserta gelang kana.

Aksesori

Penampilan penari Tari Leko dilengkapi dengan hiasan kepala berupa mahkota atau gelungan yang memiliki kemiripan dengan gelungan penari Legong Keraton. Perbedannya terletak pada bagian belakang gelungan yang dihiasi kain putih berbentuk sisik ikan. Gelungan ini dibuat dari kulit sapi yang diberi ukiran dengan corak beragam, lalu dilapisi dengan prada berwarna kuning keemasan. Gelungan ini terdiri dari unsur-unsur berupa petitis, brekapat, udeng-udengan, lenter, ron-ronan, bancangan, dan krum.[2]

Tata rias

Penari Leko diberi hiasan wajah sederhana dengan menggunakan dasar bedak, bedak tabur, perona pipi, lipstik, pensil alis, dan kapur sirih atau terkadang pasta gigi.[2].

Ragam gerak

Tari Leko ini memiliki karakteristik gerak tersendiri dengan pengibing, serta unsur-unsur pelegongan dalam gerak tarinya. Tarian ini diawali dengan empat tarian yang bernuansa pelegongan unik diantaranya: Tari Condong, Tari Kupu-kupu Tarum, Tari Onte, dan Tari Goak Manjus.[1]

Musik pengiring

Pertunjukan Tari Leko turut diiringi dengan gending (lagu) dan permainan alat musik tradisional Bali seperti rindik bambu.[1] Perangkat gamelan dari bambu ini terdiri dari beberapa komponen instrumen, termasuk: pengugal satu tungguh berbilah lima belas, penyangsih satu lungguh dengan jumlah bilah sama, barangan empat tungguh, jegogan dua tungguh berbilah lima, serta kempul, kendang, dan kempli masing-masing satu buah. Beberapa instrumen seperti pengugal, penyangsih, dan barangan dimainkan dengan dua panggul.[2]

Adapun gending yang dilantunkan dalam pertunjukan tari ini, dikelompokkan menjadi: tabuh pembuka dengan gending pengalang dan alas arum, tabuh condong dengan gending condong, gending Kupu-kupu Tarum yang dilantunkan hanya bila cerita tersebut ditampilkan, serta tabuh paibing-ibingan yang diawali tabuh papeson sebelum menunjuk (nyawat) penonton dan dilanjutkan tabuh paibing-ibingan ketika sedang berjoget bersama (ngibing).[2]

Penyajian tari

Penyajian Tari Leko di Banjar Parekan secara umum memiliki struktur yang sama dengan Tari Legong Keraton. Pertunjukan terdiri atas empat tahap, yaitu kawitan sebagai pembuka, pengawak sebagai bagian utama, pengecet sebagai kelanjutan, dan penutup.[2]

Tata penyajian Tari Leko dimulai dengan persiapan rangki dan perlengkapannya, serta penataan gamelan sesuai aturan letak. Para penari sudah siap di dalam rangki sebelum pertunjukan dimulai. Setelah persiapan selesai, tabuh pembuka dimainkan selama kurang lebih lima belas menit. Selanjutnya, penari Condong tampil sebagai pembuka, kemudian dua penari Leko masuk sementara Condong keluar. Dari sini, cerita mulai dikembangkan oleh kedua penari Leko, kadang bersama Condong, dengan pilihan cerita seperti Kupu-kupu Tarum, Prabu Lasem, atau Guak Manjus.[2]

Setelah cerita selesai, acara dilanjutkan dengan paibing-ibingan, yaitu penari Leko menari bersama penonton. Jika pertunjukan dilakukan sebagai 'bayar kaul', kesempatan pertama diberikan kepada pihak pengupah, biasanya ayah dari anak yang sembuh, yang menari sambil menggendong bayinya. Setelah itu, ibing-ibingan dibuka untuk penonton umum. Jumlah penari laki-laki yang ikut serta bergantung pada situasi, dan hanya mereka yang telah disentuh kipas (dijawat) oleh penari yang boleh tampil. Sentuhan kipas juga menjadi tanda akhir sesi joget bersama.[2]

Referensi

  1. ^ a b c Ratnawati, Lien (2017). Penetapan Warisan Buadaya Tak Benda Indonesia Tahun 2017. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. hlm. 217. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b c d e f g I Gusti Agung, Susilawati; I Gusti, Bagus Arsaja; I Gusti, Made Sarpa (1990). Deskripsi tari Bali : leko (PDF). Denpasar: Proyek Pembinaan Kesenian Bali, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.