Manawur
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Manawur merupakan sebuah ritual adat yang sakral bagi masyarakat suku Dayak, sebagai media spiritual untuk berkomunikasi dengan leluhur, serta memohon petunjuk dari Ranying Hatalla Langit, Tuhan dalam kepercayaan Kaharingan.[1]
Manawur memiliki kata dasar tawur yang berarti "tabur", sehingga manawur secara bahasa berarti menabur. Sesuatu yang ditabur dalam kepercayaan suku Dayak adalah beras (behas), yang diyakini sebagai sarana komunikasi antara manusia dengan Yang Maha Kuasa.[2]
Behas Tawur
Behas tawur (beras tawur) adalah komponen utama yang diperlukan dalam ritual manawur. Setiap upacara adat yang dilaksanakan suku Dayak, pemimpin upacara perlu menaburkan beras ke segala penjuru, serta ke atas kepala manusia.[3]
Behas tawur menjadi komponen utama karena beras atau padi bagi masyarakat suku Dayak diyakini berasal dari Pantis Kambang Kabanteran Bulan, lelak Lumpung Matanandau pada Bukit Kagantung Langit di langit ke tujuh. Penguasa atau roh yang ada pada beras dan padi adalah roh Putir Selung Tamanang dan Raja Angking Langit. Keduanya adalah pembantu terdekat Ranying Hatalla (Tuhan dalam kepercayaan Kaharingan).[3]
Ada beberapa jenis behas tawur yang digunakan, sesuai dengan fungsi atau tujuan ritual adat:
- Beras yang hanya dicampur dengan serbuk emas, perak, dan minyak kelapa.
- Beras yang dicampur dengan kapur sirih sehingga berwarna merah kekuningan.
- Beras yang dicampur dengan sarana-sarana ritual.
- Beras yang hanya dicampur dengan kunyit (tawur bahenda atau beras tawur kuning).[2]
Basir
Ritual Manawur dilakukan oleh rohaniawan Kaharingan yang disebut dengan Basir, seseorang yang dianggap mempunyai kemampuan untuk melaksanakan upacara ritual tersebut. Selain itu, Basir juga harus menguasai bahasa Sangiang (bahasa kuno yang digunakan dalam ritual).[4]
Meski demikian, Basir tidak secara langsung berkomunikasi dengan Ranying Hattala Langit, namun melewati para Sangiang. Dalam hal ini, Basir adalah mediator dan komunikator dengan makhluk lain yang keberadaannya tidak terlihat oleh manusia. Dalam ritual Manawur, Basir akan memanggil para Sangiang untuk hadir dan menyertai upacara yang dilaksanakan.[4]
Perlengkapan/Sarana Ritual
Sebelum Basir mulai manawur, ada beberapa perlengkapan yang perlu dipersiapkan sebagai sarana upacara.
- Amak purun atau amak pasar/kajang (tikar pandan) sebagai alas duduk Basir
- Tambak behas yang diisi dengan sipa (sirih dan pinang) dan ruku (rokok).
- Sangku (bokor kuningan) yang diisi dengan behas tawur, sipa, ruku, uang logam, bulu ekor tingang, kambang (bunga), dan behas hambaruan yang telah dipilih.
- Mangkuk kecil berwarna putih sebagai tempat behas tawur, beras ketan berwarna putih dan merah yang dimasak di dalam humbang (bambu), dan katupat (ketupat).
- Katupat perlu disiapkan sebanyak tujuah macam, yakni katupat sambuhul, katupat manuk, katupat tarinting tahaseng, katupat sukup, katupat sintha, katupat sangumang, katupat balalung manuk, dan katupat untung.
- Lacang yang terbuat dari kuningan sebagai tempat untuk penyimpanan alat-alat manginang yang dilengkapi dengan sirih, pinang, kapur, dan tembakau untuk persembahan.
- Parapen yaitu tungku yang digunakan untuk membakar kemenyan, gaharu, atau dupa.
- Tampung tawar.
- Sesajen seperti hantelu manuk (telur ayam), manuk (ayam), bawui (babi), dan minyak bangkang haselan tingang (minyak kelapa).
- Lilis lamiang atau manik-manik kuno yang warnanya asli atau abadi, dan diberi tali tegang untuk dijadikan sebagai gelang
- Pisau mandau atau duhung (senjata tradisional).
- Satu setelan pakaian yang diberikan kepada Basir.[4]
Tata Cara Manawur
Dalam prosesi manawur, seorang Basir menaburkan beras yang telah disiapkan sebelum ritual dimulai. Basir membangkitkan roh beras tersebut dengan membacakan mantra-mantra. Dalam mantranya, Basir menuturkan bahwa beras yang ditawur itu bukanlah beras biasa yang dimakan, bukan pula ditaburkan percuma seperti yang dilakukan oleh anak kecil, dan bukan juga ditabur untuk makanan ayam, akan tetapi beras tersebut memiliki kekuatan yang telah diberikan oleh Tuhan untuk menjadi media bagi manusia untuk menyampaikan doa dan harapannya kepada Sang Pencipta melalui para Sangiang atau Dewa.[4]
Setelah Basir selesai membacakan mantra, sesajen yang disiapkan akan dibawa ke bujuh dan pasah patahu, sebuah bangunan kecil menyerupai rumah yang menjadi tempat ritual khusus bagi masyarakat suku Dayak Ngaju. Sesajen tersebut diperuntukkan kepada Sahur Parapah atau Sangiang. Sahur Parapah merupakan sebutan Sangiang atau Dewa Pelindung bagi umat manusia.[4]
Referensi
- ^ Hanyi, Sunetae MR (2025-06-16). "Ritual Manawur Warisan Nilai Leluhur, Ajaran Hindu Kaharingan". RRI. Diakses tanggal 2025-06-21.
- ^ a b Hanyi, Sunetae MR (2024-08-20). "Ritual Menawur Beras Bagi Suku Dayak Penganut Hindu Kaharingan". RRI. Diakses tanggal 2025-06-21.
- ^ a b Sarma, Nyoman; Unyi (2018). "Upacara Manyanggar pada Masyarakat Hindu Kaharingan di Desa Timpah Kecamatan Timpah Kabupaten Kapuas". Jurnal Widya Katambung. 9 (1).
- ^ a b c d e Sashita, Valiana; Arimi, Sailal (2024). "Representasi Budaya Dayak Ngaju Kaharingan dalam Ritual Tawur di Kalimantan Tengah". Literasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. 14 (1): 379, 384.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.