Matca
Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. (Juli 2025) |
| Karakteristik | |
|---|---|
| Jenis | teh hijau dan food powder (en) |
| Asal | Tiongkok |
| Komposisi | |
| Warna | hijau |

Matcha adalah teh hijau berbentuk bubuk yang diperoleh dari menggiling daun teh hijau pilihan hingga halus seperti tepung. Selain diminum pada upacara minum teh, matcha digunakan sebagai bahan perisa dan pewarna untuk berbagai jenis makanan, seperti mochi, soba, es krim, es serut, cokelat, berbagai jenis kue Barat, dan wagashi.
Minuman dari matcha

Upacara minum teh mengenal dua jenis minuman teh dari matcha, koicha (teh kental) dan usucha (o-usu atau teh encer).[1] Keduanya berbeda dalam kadar kekentalan, dan cara meminum. Teh jenis koicha dan usucha keduanya disajikan dalam upacara minum teh yang sangat formal. Walaupun demikian, upacara minum teh yang hanya menyajikan usucha tetap bisa bersifat formal.
Matcha kualitas terbaik memiliki rasa lebih manis dan tidak terlalu pahit. Minuman koicha hanya dibuat dari matcha kualitas terbaik yang harganya mahal, tetapi matcha tersebut bisa juga dipakai untuk membuat usucha. Alat pengocok yang disebut chasen digunakan untuk melarutkan matcha, atau mengocoknya hingga berbusa sewaktu membuat usucha.
Semangkuk koicha dibuat untuk diminum bersama oleh tamu yang hadir secara bergiliran. Seorang tamu hanya boleh meminum teh yang menjadi bagiannya, dan menyisakan selebihnya untuk tamu yang lain. Tamu yang mendapat giliran terakhir untuk minum diharuskan menghabiskan teh yang tersisa di dalam mangkuk.
Sewaktu membuat koicha, takaran matcha adalah 3 chashaku (sendok kecil dari bambu) untuk satu orang. Bila ada 4 orang tamu, maka takaran matcha untuk semangkuk koicha adalah 12 chashaku. Kue tradisional Jepang (wagashi) yang disajikan bersama koicha adalah kue namagashi ("kue basah") seperti nerikiri.
Semangkuk usucha dibuat untuk diminum habis oleh seorang tamu. Takaran matcha yang digunakan adalah 1½ chashaku untuk satu mangkuk. Usucha dihidangkan pada upacara minum teh yang dihadiri oleh banyak tamu, atau upacara minum teh ala kuil Zen. Wagashi yang dihidangkan bersama usucha adalah kue higashi (kue yang lebih kering dari namagashi). Pada upacara minum teh yang hanya menyajikan usucha dan tidak menyajikan koicha, kue yang dihidangkan bisa saja berupa higashi atau namagashi.
Masing-masing aliran upacara minum teh memiliki standar kadar busa pada permukaan teh. Aliran Urasenke menetapkan seluruh permukaan teh dipenuhi busa bagaikan susu kocok. Sebaliknya, aliran Omotesenke menetapkan sebagian permukaan teh harus terlihat bebas dari busa. Aliran Mushanokōjisenke bahkan hanya membolehkan sangat sedikit busa pada permukaan teh.
Sejarah
Kebiasaan minum teh dimulai di Tiongkok pada zaman Dinasti Tang, namun baru menjadi populer pada zaman Dinasti Song. Khasiat dan cara membuat teh dicatat dalam kitab Cha Ching sekitar abad ke-8.[butuh rujukan]
Pada zaman Heian, orang Jepang hanya mengenal Dancha (teh dalam bentuk bulatan seperti bola). Matcha diperkirakan pertama kali dibuat di Tiongkok pada abad ke-10. Orang Jepang mengenal matca sejak abad ke-12 (zaman Kamakura) setelah matca dibawa ke Jepang oleh pendeta Zen aliran Rinzai bernama Eisai. Di Jepang, matca juga menjadi salah satu bagian dari ritual dan budaya, terutama saat upacara minum teh atau yang dikenal sebagai chanoyu. Upacara atau ritual ini merupakan meditasi dan dikenal sebagai simbol keharmonisan, kesederhanaan, dan penghormatan terhadap alam dan sesama manusia.[2]
Selama berabad-abad yang lalu, matca menjadi simbol eksklusivitas di kalangan bangsawan dan biksu di Jepang. Namun, seiring berjalannya waktu, popularitasnya mulai meluas di kalangan masyarakat di seluruh dunia seiring berkembangnya kebudayaan Jepang. Di era modern saat ini, popularitas matca bangkit akibat tren gaya hidup dan popularitas global. Matca kini bahkan hadir dalam berbagai varian modern, seperti es krim, kue, latte, hingga dipadukan dengan berbagai jenis makanan lainnya.
Pembuatan
Matca dibuat dari teh hijau yang disebut Tencha. Di perkebunan, tanaman ditutup dengan jerami atau kerai agar daun teh tidak terkena sinar matahari langsung (sama dengan cara pembuatan teh hijau Gyokuro). Setelah dipetik, daun teh langsung dikukus dan dikeringkan. Teh untuk matcha tidak diremas-remas seperti sewaktu membuat teh hijau jenis Sencha atau Gyokuro. Alat penggiling dari batu digunakan untuk menggiling daun teh yang sudah kering hingga halus menjadi tepung.
Manfaat Matcha
Matcha mengandung antioksidan tingkat tinggi, khususnya katekin, yang merupakan jenis flavonoid dan mengandung kafein alami. Katekin dapat membantu melawan radikal bebas dalam tubuh, mengurangi stres, dan mendukung kesehatan sel secara keseluruhan. Antioksidan ini yang dapat membantu mencegah kerusakan sel dan mengurangi risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung dan kanker. Konsentrasi kafein dalam matcha dan asam amino L-teanina memiliki efek khusus pada otak. L-teanina meningkatkan fokus dan mengurangi efek negatif kopi, termasuk kecemasan. L-teanina dan kafein bekerja sama untuk meningkatkan daya ingat, stamina mental, dan fungsi kognitif. Matcha membantu membersihkan tubuh secara alami. Klorofil, pigmen hijau yang memberi warna pada daun teh, dapat membantu mengeluarkan logam berat dan zat berbahaya lainnya dari tubuh.[3] Ini memberikan efek detoksifikasi yang bermanfaat untuk kesehatan ginjal dan hati. Antioksidan yang terkandung dalam matcha juga baik untuk kesehatan kulit membantu melawan penuaan dini dan juga jerawat.
Tren media sosial
Tidak hanya menjadi minuman sehat, tetapi kini matca juga telah menjadi simbol gaya hidup modern yang sering dijadikan konten di media sosial, sehingga menjelma sebagai penanda status sosial khususnya bagi Gen Z dan Millenial.[4] Peran para pemengaruh dan selebritas di media sosial seperti TikTok dan Instagram, melalui tren seperti clean girl dan Pilates girl, menunjukkan bahwa matca kini menjadi atribut tambahan untuk menampilkan gaya hidup estetis sekaligus memperkuat kebiasaan takut keginggalan atau fear of missing out (FOMO).[4]
Perkembangan kafe di Indonesia semakin pesat, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, khususnya di wilayah-wilayah seperti Blok M. Pengembangan kawasan Transit-Oriented Development (TOD) memberikan dampak besar terhadap sektor ritel dan kuliner. Dengan hadirnya Stasiun MRT Blok M, kawasan ini kini dilengkapi dengan infrastruktur yang ramah pejalan kaki, sehingga menjadikannya lokasi yang sangat strategis bagi bisnis kafe dan restoran. Banyak orang datang ke Blok M untuk bersantai dan berkumpul, yang pada akhirnya turut meningkatkan popularitas berbagai kafe serta menu-menu spesial seperti matca.[5]
Dampak Buruk Mengosumsi Matcha Berlebihan
Tentunya selain dapat memberi manfaat, mengonsumsi matcha secara berlebihan dapat memberi efek negatif bagi tubuh. Dampak buruknya yakni dapat menyebabkan diare/gangguan pencernaan, menganggu waktu tidur, menyebabkan muntah-muntah, sakit kepala, dan lainnya.[6]
Referensi
- Sōsa Sen (千宗左), Chanoyu Nyūmon: Omotesenke, Nihon Hōsō Shuppan Kyōkai, 1995.
- ^ Billah.A.A, Sabila.B.D, Janti.I.S (2022). "CHANOYU DAN PATEHAN TRADISI MINUM TEH DU AN TRADISI MINUM TEH DUA NEGARA A NEGARA BERBEDA". Multikultura. 01 (03): 419–423. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ Huda, Riki Choyrol (2025-08-24). "Mengenal Sejarah Matcha, Teh Hijau yang Mendunia". Radio Republik Indonesia.
- ^ uma, pdai (2024-01-05). "Manfaat Matcha untuk Kesehatan - Artikel". Agribisnis UMA. Diakses tanggal 2025-03-06.
- ^ a b Istia, Daniel (11 November 2025). "Tren Matcha Sebagai Gaya Hidup Gen Z Indonesia". Radio Republik Indonesia. Diakses tanggal 13 November 2025.
- ^ Putri, Yesha (26 Juni 2025). "PENGARUH KUALITAS PRODUK DAN FEAR OF MISSING OUT TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN MINUMAN MATCHA PADA KONSUMEN MATCHAMAN" (PDF): 02.
- ^ Insertlive. "5 Efek Samping Konsumsi Matcha Berlebihan". lifestyle. Diakses tanggal 2025-06-20.
Pranala luar
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.