Nasionalisme Jerman

Reichsadler dari lambang Henry VI bertanggal 1304, Kaisar Romawi Suci dan Raja Jerman. Reichsadler, sekarang dikenal sebagai Bundeswappen, yang merupakan lambang Jerman.

Nasionalisme Jerman adalah sebuah pemikiran bahwa bangsa Jerman adalah sebuah negara dan mengusulkan kesatuan kebudayaan bangsa Jerman.[1] Nasionalisme Jerman didahului dengan kelahiran nasionalisme Romantik saat Peperangan era Napoleon ketika Pan-Jermanisme mulai tumbuh. Advokasi dari sebuah negara Jerman mulai menjadi pasukan politik berpengaruh dalam menanggapi invasi wilayah Jerman oleh Prancis dibawah kepemimpinan Napoleon. Setelah kebangkitan dan kejatuhan Jerman Nazi yang melawan Yahudi dan golongan lainnya saat Perang Dunia II, nasionalisme Jerman secara umum dipandang di negara tersebut sebagai hal tabu.[2] Namun, saat Perang Dingin, nasionalisme Jerman bertumbuh dengan didukung penyatuan kembali Jerman Timur dan Barat yang terjadi pada 1990.[2]

Nasionalisme Jerman menghadapi kesulitan dalam mempromosikan identitas Jerman yang bersatu serta menghadapi pertentangan di Jerman. Perselisihan Katolik-Protestan di Jerman dari masa ke masa membuat perpecahan yang besar dan keretakan antara Jerman Katolik dan Protestan setelah 1871, seperti dalam menanggapi kebijakan Kulturkampf di Prusia oleh Kanselir Jerman dan Perdana Menteri Prusia Otto von Bismarck, yang berupaya untuk meredam budaya Katolik di Prusia. Hal tersebut membuat terjadinya pertentangan dari Katolik Jerman dan mengakibatkan kebangkitan Partai Tengah dan Partai Rakyat Bavaria yang pro-Katolik.[3] Terdapat pula lawan-lawan nasionalis dari Jerman yang sebagian besar adalah nasionalis Bavaria, yang mengklaim bahwa istilah Bavaria masuk ke Jerman pada 1871 secara kontroversial dan mengklaim bahwa pemerintah Jerman memiliki urusan domestik yang panjang dengan Bavaria.[4] Di luar Jerman pada masa sekarang yakni Austria, terdapat nasionalis Austria yang berupaya untuk melakukan penyatuan Austria dengan Jerman atas dasar menyelamatkan identitas keagamaan Katolik Austria dari ketakutan akan menjadi bagian dari Jerman yang mayoritas Protestan.[5]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ Motyl 2001, hlm. 189.
  2. ^ a b Motyl 2001, hlm. 190.
  3. ^ Wolfram Kaiser, Helmut Wohnout. Political Catholicism in Europe, 1918-45. London, England, UK; New York, New York, USA: Routledge, 2004. P. 40.
  4. ^ James Minahan. One Europe, Many Nations: A Historical Dictionary of European National Groups. Greenwood Publishing Group, Ltd., 2000. P. 108.
  5. ^ Spohn, Willfried (2005), "Austria: From Habsburg Empire to a Small Nation in Europe", Entangled identities: nations and Europe, Ashgate, hlm. 61

Daftar pustaka

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.