Niō

Niō
[[Image:
Guhyapāda Nio berbahan kayu di Kuil Todai di Nara, Jepang, buatan Unkei dan Kaikei pada 1203
Renwang berbahan batu di Gua Maijishan di Tianshui, Tiongkok, dipahat pada masa Dinasti Song (960–1279)
|260px]]
Renwang
Hanzi: 仁王
Makna harfiah: Raja Kebajikan
Raja yang Baik
Tianwang
Hanzi: 天王
Makna literal: Raja Para Dewa
Raja Surgawi
Nama Jepang
Kanji: 仁王
Hiragana: におう
Nama Korea
Hangul: 인왕
Hanja: 仁王

Niō (dalam konteks Jepang) atau Inwang (dalam konteks Korea) atau Renwang (dalam konteks Tionghoa) atau Nhân vương (dalam konteks Vietnam), juga dikenal sebagai Dewa[1] atau Raja yang Baik Hati[2] adalah dua sosok penjaga Buddha yang berotot dan berwajah sangar yang terdapat di pintu masuk kuil-kuil Buddhis di Asia Timur. Mereka adalah manifestasi dharmapala dari bodhisatwa Vajrapāṇi, dewa tertua dan terkuat dalam jajaran dewata Mahayana. Menurut kitab suci seperti Tripitaka Pali serta Ambaṭṭha Sutta, mereka berkelana bersama Sang Buddha untuk mengawalnya. Dalam pengajaran Buddhisme yang umumnya pasifis, kisah-kisah dharmapala membenarkan penggunaan kekuatan fisik untuk melindungi nilai-nilai dan kepercayaan yang dijunjung tinggi dari ancaman kejahatan. Mereka juga dipandang sebagai manifestasi dari Mahasthamaprapta, bodhisatwa kekuatan yang mendampingi Amitābha dalam tradisi Buddhisme Tanah Murni dan sebagai Vajrasatwa dalam ajaran Buddhisme Tibet.[3]

Manifestasi

Makna simbolis

Mereka biasanya digambarkan sebagai sepasang makhluk yang berdiri menjaga gerbang masuk utama kuil, biasanya disebut shanmen (山門) di Tiongkok, niōmon (仁王門) di Jepang, dan geumgangmun (金剛門 - 금강문) di Korea. Dalam bahasa Sanskerta, patung sebelah kanan dikenal sebagai Guhyapāda. Secara tradisional, mulutnya terbuka, mewakili vokalisasi grafem pertama Dewanagari (अ, "a").[4] Adapun patung sebelah kiri disebut Nārāyaṇa. Secara tradisi, mulutnya tertutup, mewakili vokalisasi grafem terakhir Dewanagari (ह, "[ɦ]"), dibaca "ɦūṃ" (हूँ). Kedua karakter ini bersama-sama (a-hūṃ/a-un) melambangkan kelahiran dan kematian segala sesuatu. (Konon, manusia dilahirkan dengan mengucapkan bunyi "a" dengan mulut terbuka dan meninggal dengan mengucapkan "ɦūṃ" dan mulut tertutup.) Seperti halnya Jaya dan Wijaya, keduanya melambangkan "segala sesuatu" atau "seluruh ciptaan". Gabungan keduanya adalah mantra om (ॐ).

Jenderal Ha dan Heng di Kuil Cisheng di Dadaocheng, Taipei, Taiwan

Guhyapāda

Guhyapāda (Hanzi Tradisional: 密迹金剛; Hanzi Sederhana: 密迹金刚; Pinyin: Mìjī jīngāng; Jepang: Misshaku Kongō; Korea: Miljeok geumgang; Vietnam: Mật tích kim cương ) merupakan simbolisasi kekuatan yang sangat gamblang: ia memegang senjata wajra vajra-pāṇi (sebuah tongkat berlian, tongkat petir, atau simbol matahari)[5] dan memperlihatkan giginya. Mulutnya digambarkan sedang mengucapkan bunyi "ha" atau "ah". Di Tiongkok, ia juga dikenal sebagai Jenderal Ha (哈将 Hā Jiāng) mengacu pada detail ikonografi ini. Demikian pula, ia juga dikenal sebagai Agyō (阿形, bentuk "a", istilah umum patung bermulut terbuka dalam pasangan aum) di Jepang karena detail ini juga. Dalam Buddhisme Tiongkok, Guhyapāda dianggap sebagai salah satu dari Dua Puluh Empat Dewa Pelindung, yang merupakan kelompok dharmapala yang sering disemayamkan di aula utama kuil dan biara. Selain itu, Guhyapāda juga kadang-kadang dipasangkan atau diidentifikasi dengan Raja Kebijaksanaan Ucchuṣma, yang dikenal dalam bahasa Mandarin sebagai Huiji Jingang (穢跡金剛).[6]

Nārāyaṇa

Nārāyaṇa (Hanzi Tradisional: 那羅延金剛; Hanzi Sederhana: 那罗延金刚; Pinyin: Nàluōyán Jīngāng; bahasa Jepang: Naraen Kongō; bahasa Korea: Narayeon geumgang; bahasa Vietnam: Na la diên kim cương) digambarkan dengan tangan kosong atau memegang pedang. Ia melambangkan kekuatan terpendam, dengan mulut yang tertutup rapat. Mulutnya digambarkan mengucap bunyi "hūṃ", atau "heng" atau "un". Di Tiongkok, ia juga dikenal sebagai Jenderal Heng (哼将 Hēng Jiāng) yang mengacu pada detail ikonografi ini. Demikian pula, ia juga dikenal sebagai Ungyō (吽形, bentuk "um"), istilah umum patung bermulut tertutup dalam pasangan om di Jepang karena detail ini.

Vajrapāni

Baik Guhyapāda maupun Nārāyaṇa dipandang sebagai manifestasi dari Vajrapāni (Hanzi Tradisional: 執金剛神; Hanzi Sederhana: 执金刚神; Pinyin: Zhijīngāng shén; bahasa Jepang: Shūkongōshin; bahasa Korea: Jip geumgang sin; bahasa Vietnam: Chấp kim cang thần),[4] yang secara harfiah berarti "dewa yang menggenggam wajra".

Buddhisme Nio Zen

Buddhisme Nio Zen merupakan praktik yang diajarkan oleh biksu Zen Suzuki Shōsan (1579–1655). Beliau merekomendasikan para pengikutnya untuk bermeditasi pada Nio dan bahkan mengadopsi ekspresi garang dan sikap bela diri mereka untuk menumbuhkan kekuatan, ketangguhan, dan keberanian dalam menghadapi kesulitan.[7]

Pengaruh pada Taoisme

Dalam kepercayaan tradisional Tionghoa dan Taoisme, mereka dikenal sebagai dua jenderal Heng dan Ha (哼哈二將, Hēng Hā èr jiàng). Dalam novel Taois Fengshen Yanyi, tokoh penjaga gerbang Zheng Lun dan Chen Qi akhirnya diangkat menjadi dewa.[8]

Galeri

Lihat pula

Catatan kaki

  1. ^ Martin, John H.; et al. (2014), Kyoto: 29 Walks in Japan's Ancient Capital, Tuttle, Walking Tour 1: Kiyomizu-Dera.
  2. ^ Soseki, Natsume, Ten Nights Dreaming and the Cat's Grave, Mineola: Dover, hlm. 31.
  3. ^ The illustrated encyclopedia of Zen Buddhism By Helen Josephine Baroni, Page 240
  4. ^ a b Transliterations from Digital Dictionary of Buddhism
  5. ^ See "金剛" at William Edward Soothill and Lewis Hodous. A Dictionary of Chinese Buddhist Terms Diarsipkan 2006-12-06 di Wayback Machine.
  6. ^ Zhaohua., Yang (2013). Devouring impurities : myth, ritual and talisman in the cult of Ucchusma in Tang China. OCLC 848167476.
  7. ^ Helen Josephine Baroni (June 2002). The illustrated encyclopedia of Zen Buddhism. The Rosen Publishing Group. hlm. 240. ISBN 978-0-8239-2240-6. Diakses tanggal 26 March 2012.
  8. ^ Fengshen Yanyi, chapter 99.

Referensi

  • Religions of the Silk Road by Richard Foltz, 2nd edition (Palgrave, 2010) ISBN 9-780230-621251
  • The Diffusion of Classical Art in Antiquity by John Boardman (Princeton University Press, 1994) ISBN 0-691-03680-2
  • Old World Encounters. Cross-cultural contacts and exchanges in pre-modern times by Jerry H.Bentley (Oxford University Press, 1993) ISBN 0-19-507639-7
  • Alexander the Great: East-West Cultural contacts from Greece to Japan (NHK and Tokyo National Museum, 2003)

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.