Passapu

Passapu dan Patonro adalah sebuah penutup kepala yang berupa lilitan kain khas Makassar. Patonro telah ada sejak abad ke-7. Kemunculan budaya Makassar Passapu tidak terlepas dari budaya Melayu seperti Sumatera, Padang, dan Malaysia. Meskipun begitu, penutup kepala di setiap daerah tersebut memiliki nama tersendiri.
Patonro mulai dikenakan pada masa Kerajaan Gowa yang ke-10. Saat itu Kerajaan Gowa dipimpin oleh Raja I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng. Pada zaman raja Gowa yang ke-10, Patonro digunakan sebagai penanda sosial yang hanya dapat digunakan oleh para anak daeng karaeng (bangsawan Makassar) dan juga tubarania (ksatria). Selain itu, penggunaan Passapu juga memiliki makna tersendiri.
Jika panglima mengenakan Passapu dan Patonro tegak berdiri maka artinya mereka siap berperang. Namun jika Patonro digunakan agak terjatuh itu berarti raja tersebut ingin menghadiri acara adat. Pada masa itu Passapu digunakan bersama busana adat pria Makassar yang terdiri dari celana panjang dan kain sarung / lipa sa'be garusuk sampai lutut, dan Baju yang dikenakan pada tubuh bagian atas berbentuk jas tutu' La'bu/panjang ,Pada saat ini, penggunaan Passapu dan Patonro di Makassar hanya digunakan untuk keperluan ritual adat budaya Makassar, acara penyambutan tamu pemerintahan, pesta pernikahan dan acara-acara kesenian.
Jenis
Pattonro atau Passapu terdiri dari dua jenis. untuk membedakan kedua dapat dilihat dari segi lipatan dan ikatannya (poto').
- Patonro atau Passapu Patinra: Pattonro jenis ini memiliki bentuk segitiga menjulang tegak ke atas dengan lipatan melintang pada bagian bawahnya. Pattonro jenis ini biasanya digunakan oleh bangsawan dan para pemberani kerajaan. Kain yang digunakan adalah kain berwarna merah, hitam, kuning, dan bermotif kotak-kotak berwarna putih.
- Patonro atau Passapu Padompe: Pattonro Padompe terbagi menjadi tiga, yaitu putara padompe, putara bereng-bereng, dan putara paerang. Begitu juga dengan jenis ikatannya. Putara padompe digunakan oleh para hulu balang kerajaan, kalau putara bereng-bereng pada umumnya digunakan oleh para pemberani dan juga anak-anak bangsawan. Sementara putara paerang digunakan oleh para Anrong Guru Pakarena.
Ragam Ikatan
Sementara itu, Passapu juga memiliki jenis dan variasi ikatan yang berbeda-beda. Ketiga jenis itu adalah poto bate', poto nabbi dan poto putara.
- Poto bate: jenis ikatan yang menyerupai teknik simpul sederhan.
- Poto nabbi: jenis ikatannya menyerupai tangan bersedakap atau lipat. Dalam bahasa Makassar disebut sikalu'.
- Poto putara: sesuai namanya, ikatan ini langsung dililitkan saja di kepala.[1]
Referensi
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.