Pencederaan diri
| Pencederaan diri | |
|---|---|
| Nama lain | perilaku melukai diri sendiri, perilaku menyakiti diri sendiri, self-harm, self-injury |
| Bekas luka pada lengan bawah karena menyakiti diri sendiri. | |
| Spesialisasi | Psikiatri |
| Gejala | Beberapa luka, tusukan, atau luka bakar[1] |
| Awitan umum | Remaja[2] |
| Faktor risiko | Gangguan kepribadian ambang, Gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan zat, autisme, keputusasaan, teman yang melukai diri sendiri[1][3] |
| Metode diagnostik | Berdasarkan gejala, setelah menyingkirkan kemungkinan adanya niat untuk bunuh diri[1] |
| Pengobatan | Pembalutan, konseling[1][3] |
| Obat | Naltrexone[1] |
| Prognosis | Biasanya terselesaikan pada awal masa dewasa[3] |
| Frekuensi | 17% pada saat tertentu[4] |
Pencederaan diri (bahasa Inggris: Self-harm) adalah perilaku yang disengaja untuk mencederai, menyakiti, dan melukai diri sendiri, tanpa berkeinginan untuk bunuh diri .[1][5] Contoh yang paling umum adalah melukai kulit secara langsung, biasanya dengan benda tajam atau panas.[1] Ini sering kali menimbulkan beberapa area cedera.[1] Metode lainnya bisa meliputi overdosis atau memukul diri sendiri.[5] Orang yang melakukan pencederaan diiri kerap merasa malu setelahnya.[6] Mereka juga hampir sepuluh kali lebih mungkin untuk mencoba bunuh diri .[4]
Pada umumnya perilaku ini dikaitkan dengan gangguan kepribadian ambang, gangguan kepribadian antisosial, penyalahgunaan zat, dan autisme .[1] Namun, perilaku ini dapat muncul juga pada orang-orang yang tidak memiliki masalah kesehatan mental lain.[3] Hal lain yang terkait adalah keputusasaan, teman yang mencederai diri sendiri, dan sejarah penganiayaan .[3] Beberapa orang menggunakannya sebagai mekanisme penanggulangan untuk memberikan kelegaan sementara dari perasaan yang intens.[1] Ada pula yang berpendapat bahwa bisa saja hal ini digunakan sebagai bentuk hukuman diri, teriakan minta tolong, dan untuk mengatasi konflik interpersonal .[1]
Perilaku ini tidak mencakup praktik yang diterima secara sosial, misalnya tato atau tindik,[3] dan juga tidak termasuk cedera tidak langsung seperti yang mungkin terjadi akibat gangguan makan atau penyalahgunaan zat.[3] Tindakan awal yang mungkin diperlukan adalah membalut luka.[3] Penanganan jangka panjang meliputi penanganan kondisi-kondisi terkait, bersamaan dengan terapi perilaku kognitif .[1] Sebagian terapi mengembangkan cara yang lebih baik untuk menangani stres.[1] Beberapa orang mungkin dapat dibantu dengan naltrexone .[1]
Perilaku pencederaan diri paling umum terdapat pada remaja, dan kurang umum pada yang berusia lebih dari 18 tahun.[2][3] Pernah terdapat sekitar 17% orang memiliki perilaku ini..[4] Perempuan sekitar 1,7 kali lebih sering berperilaku ini dibandingkan laki-laki.[4] Kelompok lain yang lebih umum dengan perilaku ini meliputi LGBT, narapidana, dan veteran .[5] Angkanya cukup stabil antara tahun 2002 dan 2017.[3] Risiko bunuh diri lebih tinggi pada orang lanjut usia yang menyakiti diri sendiri.[7] Hewan yang dikurung, seperti burung dan monyet, juga mungkin berperilaku menyakiti diri sendiri.[8]
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j k l m n "Nonsuicidal Self-Injury (NSSI) - Psychiatric Disorders". Merck Manuals Professional Edition (dalam bahasa Canadian English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 October 2021. Diakses tanggal 5 February 2022.
- ^ a b Hawton, K; Saunders, KE; O'Connor, RC (23 June 2012). "Self-harm and suicide in adolescents". Lancet (London, England). 379 (9834): 2373–82. doi:10.1016/S0140-6736(12)60322-5. PMID 22726518.
- ^ a b c d e f g h i j Brown, RC; Plener, PL (March 2017). "Non-suicidal Self-Injury in Adolescence". Current psychiatry reports. 19 (3): 20. doi:10.1007/s11920-017-0767-9. PMID 28315191.
- ^ a b c d Gillies, D; Christou, MA; Dixon, AC; Featherston, OJ; Rapti, I; Garcia-Anguita, A; Villasis-Keever, M; Reebye, P; Christou, E (October 2018). "Prevalence and Characteristics of Self-Harm in Adolescents: Meta-Analyses of Community-Based Studies 1990-2015". Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. 57 (10): 733–741. doi:10.1016/j.jaac.2018.06.018. PMID 30274648.
- ^ a b c "Self harm | Royal College of Psychiatrists". RC PSYCH ROYAL COLLEGE OF PSYCHIATRISTS (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 January 2022. Diakses tanggal 5 February 2022.
- ^ Gunnarsson, Nina Veetnisha (August 2021). "The Self-perpetuating Cycle of Shame and Self-injury". Humanity & Society. 45 (3): 313–333. doi:10.1177/0160597620904475.
- ^ National Institute for Clinical Excellence (2004). National Clinical Practice Guideline Number 16: Self-harm (PDF). The British Psychological Society. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2012-09-05. Diakses tanggal 2009-12-13.
- ^ Jones IH, Barraclough BM (July 1978). "Auto-mutilation in animals and its relevance to self-injury in man". Acta Psychiatrica Scandinavica. 58 (1): 40–47. doi:10.1111/j.1600-0447.1978.tb06918.x. PMID 99981.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.