Pengajaran mikro


Pembelajaran mikro adalah suatu metode pelatihan pendidikan dalam skala kecil dan terbatas dalam rangka meningkatkan keterampilan mengajar dan mendidik. Sasaran utama pembelajaran mikro adalah para pendidik di bidang keguruan dan pengajaran.[1] Secara umum, pembelajaran mikro bertujuan untuk memberi bekal keterampilan mengajar bagi para calon pendidik.[2] Secara etimologi, pembelajaran mikro berasal dari bahasa Yunani, 'mikro', yang berarti kecil. Dengan kata lain, pembelajaran mikro merupakan proses pembelajaran yang singkat. Pembelajaran mikro adalah sebuah metode pembelajaran yang menargetkan topik atau keterampilan tertentu secara spesifik dan terfokus, serta memberikan porsi instruksi dalam jumlah kecil yang dapat dipelajari dalam waktu singkat dan dapat langsung digunakan.[3]

Sejarah

Pada tahun 1885, penelitian oleh psikolog Jerman Hermann Ebbinghaus menghasilkan Kurva Lupa. Konsep inti desain pembelajaran mikro ini membantu menjelaskan bagaimana orang kehilangan hingga 50% dari apa yang mereka pelajari dalam satu jam dan hingga 80% dalam hitungan hari atau minggu. Ebbinghaus mengamati bahwa melalui pengulangan berjarak , sebuah teknik di mana informasi relevan ditinjau pada interval berjarak, kehilangan memori dapat dikurangi secara drastis.

Pembelajaran terprogram, yang dipelopori oleh psikolog behavioristik BF Skinner pada pertengahan 1950-an, "ditandai dengan pembelajaran yang diatur sendiri dan dilakukan sendiri, disajikan dalam urutan logis dan dengan banyak pengulangan konsep."

Nelson Cowan berpendapat bahwa artikel milik George A Miller yang populer pada tahun 1956 dengan judul  “The Magical Number Seven, Plus or Minus Two: Some Limits on Our Capacity for Processing Information,” mungkin "secara tidak sengaja menghambat kemajuan" dalam penelitian terkait "batasan kapasitas item dalam memori kerja"—hingga lonjakan penelitian tentang memori kerja visual yang dimulai pada akhir 1990-an.[4]  Penelitian tentang memori kerja juga berimplikasi pada perancangan dan pengembangan pembelajaran mikro berbasis web dan multimedia.

The Economics of Human Resources (1963), karya Héctor Correa, dianggap sebagai publikasi pertama yang menggunakan istilah pembelajaran mikro. [5] Menurut Google Books, buku ini menyediakan "analisis dan pengukuran sistematis untuk studi tentang interelasi variabel manusia—sebagaimana dipertimbangkan dalam sosiologi, demografi, psikologi, gizi, kesehatan, dan ilmu pendidikan.” Kemudian pada tahun 1968, Dwight W. Allen dan koleganya Arthur W. Eve menerbitkan sebuah artikel tentang teknik mengajar yang dikembangkan Allen saat menjadi profesor di Stanford, yang ia sebut sebagai pengajaran mikro.

Selama beberapa tahun, penggunaan dan pertumbuhan internet yang populer memungkinkan pembelajaran elektronik (e-learning), merevolusi cara orang belajar. Tahun 1990-an menjadi era sistem manajemen pembelajaran (LMS) dan "universitas" daring. Saat ini, hampir semua pembelajaran mikro disampaikan melalui pembelajaran daring.

Meskipun istilah pembelajaran mikro dan pengajaran mikro sudah ada sejak tahun 1960-an, konsep pembelajaran mikro dalam konteks pembelajaran elektronik baru dipopulerkan pada tahun 2005 oleh Theo Hug, melalui "Microlearning: A New Pedagogical Challenge (Catatan Pengantar)," yang dipresentasikan pada konferensi pertama di dunia tentang pembelajaran mikro yang diselenggarakan pada 23-24 Juni 2005 di Innsbruck, Austria.

Mungkin peristiwa paling berpengaruh yang menandai dimulainya era pembelajaran mikro modern adalah peluncuran iPhone yang ikonis pada 29 Juni 2007. "Setiap satu atau dua generasi, terjadi kemajuan teknologi yang begitu signifikan sehingga secara radikal mengubah fondasi, arah, dan momentum masyarakat.”

Analisis pembelajaran mengalami peningkatan pengakuan dan implementasi di bidang pendidikan pada akhir tahun 2010-an, seiring teori pedagogi serta strategi dan teknologi analisis mutakhir yang menekankan penggunaan analisis untuk meningkatkan proses pembelajaran.

Mikro-kredensial, dalam bentuk lencana, berawal dari konvergensi pengaruh historis dan gamifikasi, yang beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan pembelajar mandiri yang bertepatan dengan kemunculan MOOC pada tahun 2014.

Di tahun 2016, AR (Augmented Reality) dan VR (Virtual Reality), yang dikenal bersama sebagai Extended Reality (XR) yang digabungkan menjadikan pembelajaran mikro dapat memberikan pengalaman belajar yang imersif, interaktif, dan personal yang mendorong keterlibatan, retensi, dan penerapan praktis pengetahuan dan keterampilan. Gamifikasi melibatkan pengintegrasian elemen-elemen permainan, termasuk tantangan dan hadiah, ke dalam aktivitas pembelajaran.

Salah satu peristiwa paling signifikan yang memengaruhi dunia pendidikan terjadi pada 30 November 2022, dengan peluncuran ChatGPT (Chat Generative Pre-trained Transformer), sebuah chatbot model bahasa besar (LLM) kecerdasan buatan yang mampu menjawab pertanyaan, menulis artikel, menciptakan puisi, dan menghasilkan kode pemrograman. [6]

Pelaksanaan

Pembelajaran mikro dilakukan dalam bentuk simulasi dengan model uji-coba. Metode ini diterapkan agar diperoleh suatu pengalaman belajar. Pengalaman belajar yang diperoleh ini akan berupa kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap. Melalui pengalaman belajar inilah, cara berpikir para calon pendidik akan berubah menjadi lebih luas dan terbuka. Pembelajaran mikro diadakan di laboratorium pembelajaran mikro. Laboratorium ini harus didesain sedemikian rupa agar calon pendidik menguasai berbagai keterampilan. Laboratorium tersebut minimal mampu memberikan pelatihan keterampilan pengetahuan, sikap, tindakan, reaksi, dan interaksi bagi para calon [7]

Ciri-Ciri

Ciri-ciri pembelajaran mikro: konten pembelajaran singkat, tujuan pembelajaran singkat dan relevan, format interaktif, mudah diakses, mudah disesuaikan dengan siswa, dan pengulangan materi.

Konten Pembelajaran Singkat

Penyajian materi diberikan secara singkat dan terfokus. Misalnya, konten belajar dengan durasi panjang dapat diubah menjadi video singkat atau infografis satu lembar. Hal ini dilakukan karena para pelajar cenderung lebih mudah memahami materi yang diberikan secara singkat.

Tujuan Pembelajaran Singkat dan Relevan

Setiap modul yang disajikan harus memiliki tujuan yang spesifik dan materi yang diberikan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Materi harus disajikan secara jelas, ringkas, dan hanya membahas hal-hal yang relevan. Hal ini bertujuan agar siswa dapat lebih fokus pada satu konsep sehingga pemahamannya lebih mendalam dan dapat mencapai tujuan pembelajaran secara bertahap.

Format Interaktif

Materi disediakan dalam format yang interaktif seperti kuis, latihan singkat, video singkat, dan simulasi. Hal ini dapat membuat siswa lebih aktif dalam keterlibatan proses belajar sekaligus menguji pemahaman dan keterampilan para siswa.

Mudah Diakses

Materi yang disediakan memiliki format digital sehingga memudahkan para siswa untuk mempelajari materi di mana saja dan kapan saja. Materi yang diajarkan dapat diakses melalui perangkat elektronik seperti ponsel, tablet, ataupun komputer.

Materi disesuaikan dengan siswa

Materi yang diberikan dapat menyesuaikan kebutuhan, kemampuan, dan gaya belajar setiap siswa. Penyesuaian materi ini dapat membuat pembelajaran menjadi lebih efektif, personal, dan relevan dengan kebutuhan para siswa.

Pengulangan materi

Pengulangan materi diperlukan untuk memastikan sekaligus menguatkan pengetahuan dan keterampilan siswa terhadap materi. Proses ini dapat membuat siswa semakin mengingat materi dengan baik. Hal ini juga sudah didukung dengan adanya platform yang menyediakan fitur pengulangan materi yang belum dikuasai.

Perbedaan dengan Pembelajaran Makro

KONTEKS PEMBELAJARAN MIKRO PEMBELAJARAN MAKRO
Durasi Singkat Lama
Tujuan Mendapatkan pengetahuan baru dengan proses singkat Memahami pengetahuan konsep secara mendalam
Tingkat fleksibilitas Tinggi karena siswa dapat mengakses materi di mana pun dan kapan pun melalui berbagai perangkat serta dapat mengulangi materi yang sulit dipahami Rendah karena jadwal dan tempat biasanya sudah ditentukan serta waktu pembelajaran juga ditentukan oleh kurikulum dan pengajarnya

Manfaat

Pembelajaran mikro memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaannya. Pada setiap satuan pendidikan, terdapat tiga pihak yang secara langsung menerima manfaatnya, yaitu calon pendidik, para pendidik, dan pembina tenaga kependidikan.[8] Selain itu, siswa juga menerima manfaat langsung dari pembelajaran mikro. Pengendalian dan pelatihan selama pelaksanaan pembelajaran mikro mampu membuat keterampilan mengajar calon pendidik atau pendidik menjadi berkembang dan lebih terbina. Selain itu, dalam latihan pembelajaran mikro terjadi peningkatan penguasaan keterampilan mengajar tertentu yang terfokus dan objektif. Lembaga pendidikan turut memeroleh manfaat dari pelaksanaan pembelajaran mikro. Fasilitas yang digunakan untuk mengajar menjadi lebih efisien dan lebih efektif dikarenakan praktik mengajar hanya dilakukan dalam waktu yang singkat.[9]

Tantangan

Tantangan dari pembelajaran mikro sendiri keterbatasan materi yang dapat disampaikan, ketergantungan terhadap teknologi, resiko pemahaman yang dangkal, evaluasi pembelajaran terbatas, serta kendala akses internet di daerah terpencil.

Penerapan

Penerapan pembelajaran mikro dapat berupa konten video pendek, kuis interaktif, flash card digital, dan artikel singkat.

Rujukan

  1. ^ Asril, Zainal (2018), hlm. 43."Pembelajaran micro dapat diartikan sebagai cara latihan keterampilan keguruan atau praktik mengajar dalam lingkup kecil/terbatas."
  2. ^ Helmiati (2013), hlm. 19."Pembelajaran mikro bertujuan membekali calon tenaga pendidik beberapa keterampilan dasar mengajar."
  3. ^ Taylor, Ai-dung; Hung, Woei (2022-04-01). "The Effects of Microlearning: A Scoping Review". Educational technology research and development (dalam bahasa Inggris). 70 (2): 363–395. doi:10.1007/s11423-022-10084-1. ISSN 1556-6501.
  4. ^ Miller, George A. (1956-03). "The magical number seven, plus or minus two: Some limits on our capacity for processing information". Psychological Review (dalam bahasa Inggris). 63 (2): 81–97. doi:10.1037/h0043158. ISSN 1939-1471.
  5. ^ Correa, Hector (1982). The Economics of Human Resources. Amsterdam. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ "Microlearning: The "OG" or Hot New Trend?". EDUCAUSE Review (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-11.
  7. ^ Lubis A., Hanafi, dan Rabiatul A. R. (2019), hlm. 3."Micro teaching dilaksanakan secara laboratoris yang berbentuk simulasi, karena pengalaman belajar merupakan kompetensi yang diperoleh dari kajian pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap maupun kecakapan yang berdampak pada perubahan metode berpikir bahkan bertindak seorang mahasiswa (Iriaji, 2006). Pelaksanaan pembelajaran mikro memerlukan tempat yang sengaja dirancang untuk itu yaitu laboratorium micro teaching. didesain dalam rangka membina calon guru agar menguasai keterampilan kognitif, afektif, psikomotorik, reaktif, dan interaktif."
  8. ^ Sukirman, Dadang (2012), hlm. 39."Adapun sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai melalui pembelajaran mikro, maka manfaat pembelajaran mikro terutama akan dirasakan oleh tiga pihak yaitu: a) oleh mahasiswa calon guru (pendidikan pre-service), b) oleh para guru (pendidikan in-service), c) dan oleh pihak supervisor sebagai pembina tenaga kependidikan pada setiap satuan pendidikan."
  9. ^ Asril, Zainal (2018)"Dengan bekal mikro teaching terdapat beberapa manfaat yang dapat diambil antara lain: 1. Mengembangkan dan membina keterampilan tertentu calon guru dalam mengajar. 2. Keterampilan mengajar terkontrol dan dapat dilatihkan. 3. Perbaikan atau penyempurnaan secara cepat dapat segera dicermati. 4. Latihan penguasaan keterampilan mengajar lebih baik. 5. Saat latihan berlangsung calon guru dapat memusatkan perhatian secara objektif. 6. Menuntut dikembangkan pola observasi yang sistematid dan objektif. 7. Mempertinggi efisiensi dan efektivitas penggunaan sekolah dalam waktu praktik mengajar yang relatif singkat."

Daftar Pustaka

  • Asril, Zainal (2018). Micro Teaching:Disertai dengan Pedoman Pengalaman Lapangan. Depok: Rajawali Pers. ISBN 978-979-769-821-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Lubis A., Hanafi, dan Rabiatul A. R. (2019). Sistem Pengelolaan Microteaching dengan Siklus Perencanaan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, Peningkatan (PPEPP) untuk Meningkatkan Keterampilan Mengajar Mahasiswa Calon Guru. Padang: CV. Berkah Prima. ISBN 978-602-599-449-4. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Sukirman, Dadang (2012). Pembelajaran Micro Teaching. Jakarta Pusat: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. ISBN 978-602-7774-23-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Helmiati (2013). Micro Teaching: Melatih Keterampilan Dasar Mengajar. Sleman: CV. Aswaja Pressindo. ISBN 978-602-18652-4-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  • Aradea, R., Sholeh, K., & Ananda. (2025). Analisis implementasi strategi microlearning pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas III SD Negeri 198 Palembang. Pendas, 10(3). https://doi.org/10.23969/jp.v10i03.29050
  • Corbeil, J. R., & Corbeil, M. E. (2023, August 2). Microlearning: The “OG” or hot new trend? EDUCAUSE Review. https://er.educause.edu/articles/2023/8/microlearning-the-og-or-hot-new-trend
  • Hug, T. (2015). Didactics of Microlearning. Waxmann Verlag. Google Books
  • Ningrum, C. A. T., & Ridwan, M. H. (2025). Microlearning in Bahasa Indonesia: Potential and challenges in facing the bored Generation Z. Jurnal Paedagogy, 12(2), 263–272. https://doi.org/10.33394/jp.v12i2.14318
  • Santi, R. N., Situmorang, R., & Iriani, T. (2024). Potensi model microlearning sebagai strategi pembelajaran inovatif untuk bahan pembelajaran: Systematic review. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 13(4), 1–12. https://jurnaldidaktika.org
  • Smit, K., Le Roux, A., & Schurink, G. (2021). A review of the trend of microlearning. Journal of Work-Applied Management, 13(1), 88-102. https://doi.org/10.1108/JWAM-10-2020-0044 Emerald

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.