Perjalanan dinas

Kursi kelas bisnis di pesawat terbang biasanya menyediakan lebih banyak ruang dan fasilitas daripada kelas standar.

Perjalanan dinas atau perjalanan bisnis, adalah perjalanan yang dilakukan untuk keperluan kerja atau bisnis, bukannya untuk berwisata atau melaju. Perjalanan ini biasanya meliputi perjalanan dari tempat kerja untuk menghadiri rapat, konferensi, pameran dagang, atau acara profesional lain yang memerlukan interaksi tatap muka.[1]

Pelaku perjalanan dinas juga meliputi pekerja yang aktivitas utamanya memerlukan perjalanan, seperti pengemudi truk; pekerjaan yang perlu dilakukan di lapangan secara penuh waktu, seperti teknisi turbin angin; dan pekerjaan yang tempat kerjanya rutin berubah, seperti dokter terbang.

Pertemuan tatap muka masih dianggap perlu untuk aktivitas yang sangat penting, seperti negosiasi dan penandatanganan kesepakatan. Namun, kemajuan komunikasi digital dalam beberapa dekade terakhir telah membawa dampak signifikan. Munculnya videotelefoni dan teknologi kolaborasi virtual lain memungkinkan diadakannya rapat yang efektif tanpa memerlukan perjalanan dinas.

Baru-baru ini, meluasnya implementasi kerja jarak jauh dan konferensi video juga mengurangi kebutuhan akan perjalanan dinas. Walaupun begitu, pertemuan tatap muka tetap penting untuk negosiasi yang kompleks dan sejumlah aktivitas pembangunan tim tertentu yang memerlukan interaksi personal.

Jenis pekerjaan

Sejumlah pekerjaan yang memerlukan perjalanan dinas secara rutin meliputi:[2]

Selain itu, tenaga kesehatan juga kerap melakukan perjalanan dinas. Sejumlah pengacara, politisi, sekretaris, atlet, tentara, akademisi, dan jurnalis pun melakukan perjalanan dinas secara rutin. Sejumlah organisasi juga memiliki peraturan tersendiri untuk mengatur perjalanan dinas.[3] Peraturan tersebut biasanya diturunkan dari peraturan terkait anggaran dan pengawasan.[4] Peraturan terkait perjalanan dinas pun telah diidentifikasi mempengaruhi kepuasan kerja dari para pegawai di organisasi.[5] Walaupun persetujuan dari atasan sebelum melaksanakan perjalanan dinas tetap penting bagi sejumlah organisasi, sejumlah organisasi lain telah melonggarkan atau bahkan menghapus ketentuan tersebut.[5]: Page 2 

Dampak positif

Perjalanan dinas membawa sejumlah manfaat bagi pekerja, terutama kesempatan untuk bepergian dengan biaya dari organisasi.[6] Saat ini, sejumlah orang juga melakukan wisata saat melakukan perjalanan dinas.[7] Studi menunjukkan bahwa performa pekerja meningkat selama perjalanan dinas.[8] Menurut sebuah survei yang diterbitkan pada tahun 2020, sebanyak 88% pelaku UMKM menikmati perjalanan dinas dan sebanyak 72% berharap bahwa mereka dapat bepergian lebih sering.[9]

Sejumlah orang juga mengumpulkan poin program penumpang setia atas namanya sendiri, bukan atas nama organisasi yang membiayai perjalanan dinas mereka.

Dampak negatif

Pekerja yang rutin melakukan perjalanan dinas biasanya mengalami kesepian, depresi, dan penurunan kesehatan mental. Pada tahun 2019, sebanyak 1 dari 5 pekerja menyatakan bahwa perjalanan dinas membawa dampak negatif bagi kesehatan mentalnya.[10]

Selain itu, berada jauh dari rumah dalam waktu yang cukup lama dapat menyebabkan pekerja melewatkan momen penting dalam keluarganya, sehingga menambah tekanan pada hubungan personalnya. Perjalanan dinas tidak hanya dapat mengganggu kehidupan pribadi, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental, karena sulitnya menjaga rutinitas yang konsisten dan sehat. Faktor-faktor tersebut pun berpotensi mengurangi kepuasan kerja dan produktivitas secara umum.

Contohnya, sebuah riset pada tahun 2025 yang dilakukan oleh Situ dan YouGov terhadap perilaku perjalanan dinas menemukan bahwa sebanyak 21% Gen Z menyatakan kesulitan untuk menjaga work–life balance saat melakukan perjalanan dinas, sehingga menunjukkan tekanan yang dapat ditimbulkan oleh perjalanan dinas terhadap kesehatan pekerja.[11]

Tren

Sejak munculnya videotelefoni, terdapat prediksi bahwa jumlah perjalanan dinas akan menurun.[12] Selama dua dekade pertama dari abad ke-21, peningkatan kecepatan internet dan makin matangnya dunia maya menciptakan kondisi yang memungkinkan konferensi video untuk digelar dengan lebih handal dan mudah. Pada tahun 2019, sebanyak 33% pekerja yang disurvei menyatakan bahwa konferensi video mengurangi jumlah perjalanan dinas mereka.[13]

Selama karantina wilayah dan pembatasan perjalanan akibat pandemi Covid-19, sebagian besar perjalanan dinas dibatalkan, sehingga pemanfaatan konferensi video meningkat. Konferensi video menggantikan rapat tatap muka, sehingga sangat menghemat biaya perjalanan dinas.[14]

Sejumlah orang pun menduga bahwa perjalanan dinas akan terus menurun, karena makin meningkatnya konferensi video.[14][15] Pada tahun 2024, total anggaran perjalanan dinas masih 14% di bawah anggaran perjalanan dinas sebelum pandemi, walaupun telah disesuaikan dengan tingkat inflasi.[16] Walaupun begitu, meningkatnya kerja jarak jauh juga mendorong peningkatan perjalanan dinas untuk keperluan pembangunan tim.[17][18]

Referensi

  1. ^ Bell, Elise. "Corporate Business Travel: Everything You Need to Know". Investopedia. People Inc. Diakses tanggal 18 November 2025.
  2. ^ The C. Boarding Group (2019-05-09). "23 Jobs with Travel - the ultimate list of travel jobs (that will take you around the world)". C Boarding Group - Business Travel (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2020-01-20.
  3. ^ "Free Business Travel Policy Templates for Various Industries". engine.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-08-04.
  4. ^ H M Treasury Group, [https://assets.publishing.service.gov.uk/government/uploads/system/uploads/attachment_data/file/224100/hmt_group_travel_and_subsistence_policy.pdf HM Treasury Group – travel and expenses policy], sections 2.1 and 2.2, published June 2013, accessed 5 March 2023
  5. ^ a b "2022 Corporate Travel Leaders Outlook". Cirium (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-06-02.
  6. ^ Evtimova, Iskra. "30+ Important Business Travel Stats and Facts". Fair Point Gmbh (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-09-29.
  7. ^ Landrum, Sarah. "How Millennials Are Redefining Business Travel". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-20.
  8. ^ Zak, Uri (28 August 2021). "The performance advantage of traveling". Journal of Economic Psychology. 87 102431. doi:10.1016/j.joep.2021.102431.
  9. ^ Haileyesus, Samson (12 January 2020). "88% of Small Business Owners Enjoy Business Travel". Small Business Trends. Samson Haileyesus. Diakses tanggal 11 May 2026.
  10. ^ "Study: More than 20 Percent of Business Travelers Cite Negative Mental Health Effects: Business Travel News". www.businesstravelnews.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-20.
  11. ^ Thapa, Rosie (2025-10-21). "Mind the Gap: Situ publishes study into generational differences in business traveller behaviour". Situ Blog (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-11-28.
  12. ^ Varian, Hal (4 October 2001). "Economic Scene; Videoconferencing may at last get the critical mass it needs". The New York Times. Diakses tanggal 27 November 2025.
  13. ^ Bayern, Macy (3 September 2019). "How video conferencing is reducing business travel and increasing productivity". TechRepublic. TechnologyAdvice. Diakses tanggal 27 November 2025.
  14. ^ a b Parker, Charlie (19 May 2021). "Covid cuts spell the end of business trips and expenses". Times Media Limited. Diakses tanggal 27 November 2025.
  15. ^ Delaney, Kevin (31 July 2021). "'This Could Have Been a Zoom Meeting': Companies Rethink Travel". New York Times. Diakses tanggal 27 November 2025.
  16. ^ "2025 Business Travel Index Outlook: Executive Summary" (PDF). Global Business Travel Association. Diakses tanggal 27 November 2025.
  17. ^ Bennett, Elizabeth (3 January 2024). "Remote work isn't killing business travel – it's transforming it". BBC. Diakses tanggal 27 November 2025.
  18. ^ "Ramp Acquires Juno to Expand Guest Travel and Build the Complete Travel Solution for Every Business". Wfxg. Diakses tanggal 12 May 2026.

Bibliografi

  • Davidson, Rob; Cope, Beulah (2003), Business Travel: Conferences, Incentive Travel, Exhibitions, Corporate Hospitality, and Corporate Travel, Pearson Education, ISBN 978-0-582-40444-1
  • Beaverstock, Jonathan; Derudder, Ben; Faulconbridge; Witlox (2012), International Business Travel in the Global Economy, Ashgate Publishing, ISBN 978-1-4094-8843-9
  • Swarbrooke, John; Horner, Susan (2012), Business Travel and Tourism, Routledge, ISBN 978-1-136-42306-2

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.