Siger Pepadun


Siger Pepadun adalah mahkota adat khas masyarakat Lampung Pepadun yang biasanya digunakan sebagai simbol identitas, kehormatan, dan status sosial. Siger pepadun memiliki hubungan yang sangat erat dengan identitas budaya masyarakat pepadun, yaitu kelompok adat Lampung yang mendiami wilayah pedalaman seperti Abung, Way Kanan, Tulang Bawang, dan Lampung Tengah. Siger Pepadun ini berbeda dengan siger Saibatin yang dipakai oleh masyarakat pesisir (Saibatin), yang dapat dilihat dari jumlah lekukannya. Dalam adat Pepadun, siger tidak hanya menjadi hiasan pengantin perempuan dalam upacara pernikahan, tetapi juga dipakai dalam acara adat penting seperti cakak pepadun (pemberian gelar adat). Dalam hal ini, makna difilosofis yang terkandung mencakup kemuliaan, martabat keluarga, serta nilai-nilai Piil Pesenggiri.

Sejarah dan Perkembangan Siger Pepadun

Masyarakat Pepadun merupakan salah satu kelompok utama yang berada di Provinsi Lampung, masyarakat Pepadun umumnya bermukim di wilayah pedalaman seperti Abung, Way Kanan, Tulang Bawang, dan Lampung Tengah. Kelompok ini lahir dari sistem marga yang berkembang setelah berakhirnya Keraturan Sekala Brak pada abad ke-16 selanjutnya menyebar hingga ke berbagai daerah dataran tinggi Lampung. Karena terdapat beberapa acara adat yang dilakukan oleh masyarakat Pepadun salah satunya adalah pemberian gelar atau cakak pepadun, maka hadirlah siger sebagai salah satu simbol legitimasi kepemimpinan adat. Dalam masyarakat Pepadun hadirnya siger ini tidak hanya dianggap sebagai mahkota yang memiliki ciri khas bagi perempuan, tetapi memiliki makna simbolik seperti legitimasi adat dan martabat keluarga. Dalam sejarah perkembangannya, Siger Pepadun mengelami perluasan makna yaitu dari mahkota sakral dalam upacara adat menjadi representasi budaya Lampung yang diadopsi sebagai lambang daerah. Selain itu juga, digunakan sebagai arsitektur publik seperti menara Siger, hingga menjadi elemen identitas visual pada logo pemerintah. Adanya perkembangan ini, menunjukkan bahwa bagaimana masyarakat Pepadun telah berhasil menjaga warisan leluhur dan menyeimbangkan perkembangan zaman tanpa mengurangi makna filosofis yang terkandung di dalamnya.[1]

Makna dan Simbol Identitas

Siger Pepadun identik terbuat dari logam berwarna emas dilengkapi dengan sembilan lekukan di bagian puncaknya. Siger ini melambangkan kemuliaan, kehormatan, serta struktur sosial masyarakat Abung Siwo Megou atau sembilan marga besar yang menjadi inti dari komunitas Pepadun. Warna emas yang terdapat dalam siger memiliki makna kebesaran dan martabat, sedangkan lekukan yang seimbang memberikan arti dari nilai Piil Pesenggiri. Masyarakat Pepadun sendiri menjunjung tinggi falsafah Piil Pesenggiri, yaitu nilai-nilai seperti harga diri, kehormatan, dan kebersamaan sesama masyarakat. Jika dalam masyarakat Saibatin menganut sistem kepemimpinan yang turun-temurun, masyarakat Pepadun lebih menjunjung tinggi keterbukaan atau egaliter, hal ini erat kaitannya dengan mendapatkan gelar adat, di mana saat memperoleh gelar tersebut melalui proses musyawarah dan pesta adat.

Relevansi Siger Pepadun di Era Modern

Kehadiran Siger Pepadun dalam desain modern misalnya seperti fashion, kerajinan tangan, dan suvenir pariwisata menunjukkan bahwa kemampuan masyarakat Pepadun untuk menjaga warisan budaya. Siger ini dianggap sebagai media yang dapat memperkuat identitas multietnik di Lampung karena dapat memberikan simbol integrasi antar kelompok Pepadun dan Saibatin, sekaligus dapat menjadi sarana promosi pariwisata yang memperkenalkan nilai falsafah Piil Pesinggiri kepada generasi muda maupun wisatawan. Relevansi siger Pepadun pada masa kini terlihat pada dua dimensi penting yaitu Pertama, sebagai representasi kearifan lokal yang dapat memperkuat karakter budaya Lampung di era globalisasi, sedangkan Kedua, sebagai sumber inovasi ekonomi yang didapat melalui industri kreatif, sehingga keberadaannya bukan hanya sebagai simbol adat, tetapi juga sebagai bagian dari pembangunan sosial dan ekonomi daerah.

Referensi

  1. ^ Berliana, O (2021). "Historisitas dan Filosofi Siger pada Masyarakat Lampung". Islamic Journal of Integrated Scince and Technology. 1 (2): 101–114.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.