Syahganda Nainggolan
| Syahganda Nainggolan | |
|---|---|
| Lahir | 27 November 1965 Medan, Sumatera Utara, Indonesia |
| Almamater | Institut Teknologi Bandung Universitas Indonesia |
| Pekerjaan | Politikus, aktivis |
| Organisasi | Serikat Buruh Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia 98 Sabang Merauke Circle Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia GREAT Institute |
| Dikenal atas | Aktivis |
Dr. H. Syahganda Nainggolan, M.T. (lahir 27 November 1965) adalah seorang politikus dan aktivis Indonesia. Lahir di Medan, ia sempat mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung sebelum akhirnya dikeluarkan karena aktivitas politiknya menentang Orde Baru kala itu. Dilansir dari laporan majalah Tempo, September 1989, mahasiswa jurusan Geodesi ini aktif di forum kelompok diskusi MSC (Mahasiswa Student Center) ITB.
Pada era reformasi, Syahganda menjadi motor Partai Daulat Rakyat (PDR) bersama Adi Sasono. Namun, ia pertama kalinya menjadi caleg dari Partai Merdeka dari Dapil Tangerang. Ia kemudian pindah ke Partai Golkar, dan menjadi calon Partai Golkar untuk daerah Jawa Barat V pada 2009.
Nama Syahganda juga kembali mencuat pada 2007. Saat itu ia menjadi salah satu Tim Sukses dari Pasangan Presiden dan Wakil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono–Jusuf Kalla. Hal itu disebut-sebut membawanya mendapat posisi Komisaris PT Pelindo.
Pada akhir era kepemimpinan SBY, Syahganda sempat dihubungkan dengan akun Twitter @triomacan2000. Ia disebut-sebut sebagai salah satu admin bersama Abdul Rasyid, Staf Khusus Menteri Koordinator Perekonomian dan Raden Nuh.
Ia kemudian mendirikan Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle pada 2010. Pada 2015, Syahganda berhasil meraih gelar doktoralnya di Universitas Indonesia. Disertasinya berjudul Analisa Pengaruh Jaminan Upah Layak, Jaminan Sosial dan Solidaritas Sosial Terhadap Kesejahteraan Buruh.
Di era kepemimpinan Joko Widodo periode kedua, Syahganda muncul kembali setelah ia menyatakan dukungan dan ikut hadir dalam deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) pada Agustus 2020. Bersama Din Syamsuddin hingga Gatot Nurmantyo, ia kemudian aktif di koalisi tersebut dan didapuk sebagai Sekretaris Komisi Kerja (Komja).[1]
Pada Pemerintahan Prabowo Subianto, Syahganda mendirikan GREAT Institute yang mana lembaga tersebut berfokus pada penguatann ide-ide kerakyatan dalam kebijakan pemerintahanan melalui diskusi dan kajian-kajian ekonomi, teknologi mutakhir dan politik.[2]
Referensi
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.