Tale Naik Haji

Tale Naik Haji

Tale Naik Haji (juga dikenal sebagai Butale Haji, Tale Naek Júi, atau Tale Keberangkatan Haji) adalah tradisi seni vokal lisan masyarakat kabupaten Kerinci, dan kota Sungai Penuh, Provinsi Jambi, Indonesia. Tradisi ini dilaksanakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, terutama dalam prosesi pelepasan calon jemaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci Mekkah. [1] Tale Naik Haji masuk sebagai salah satu Kebudayaan Takbenda dari Jambi dan teregistrasi secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan nomor register 362/M/2019.[2]

Etimologi dan Asal Mula

Istilah "Tale" memiliki beberapa interpretasi mengenai asal katanya:

  • Dari kata Sanskerta tala yang berarti ukuran bunyi atau hal yang menyangkut bunyi-bunyian berirama.[1]
  • Dari kata Arab tahlil yaitu pernyataan umat Islam bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan bacaan Lailahaillallah. Orang yang bertahlil (membaca tahlil) sering berirama seperti bernyanyi, sehingga kemudian istilah tersebut berkembang menjadi Tale yang berarti lagu.[3] Kehadiran tradisi Tale sangat terkait dengan masuk dan berkembangnya agama Islam di Kerinci. Hal ini diperkuat dengan adanya penyisipan kata "hu ala" atau "alaahu ala" (yang berasal dari hu Allah dan Allahu ta'ala) dalam bait-bait pantunnya, membuktikan bahwa seni budaya ini berfungsi sebagai alat penyebaran Islam bagi masyarakat Kerinci.[4]

Sejarah

Pada masa lalu, menunaikan ibadah haji adalah peristiwa yang luar biasa dan penuh tantangan bagi masyarakat Kerinci. Perjalanan menuju Mekkah memakan waktu yang sangat lama, bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sering kali menggunakan kapal laut yang penuh rintangan dan bahaya. Tidak jarang, banyak jemaah yang tidak kembali ke kampung halaman karena wafat di perjalanan, memilih menetap di Mekkah, atau di Semenanjung Malaya. Kondisi inilah yang melatarbelakangi terciptanya tradisi Tale Haji, sebagai bentuk pelepasan yang diiringi doa dan harapan keselamatan bagi para jemaah.[1]

Tata cara

Tale Naik Haji umumnya dilaksanakan di rumah calon jemaah haji, sering kali secara bergiliran di rumah-rumah kerabat dan sanak saudara. Aktivitas ini dapat berlangsung mulai dari satu bulan hingga satu hari sebelum keberangkatan jemaah, dan pada masa lalu sering dilakukan setelah salat Isya hingga tengah malam atau bahkan subuh. Namun, seiring waktu, pelaksanaannya kini cenderung dibatasi hingga sore hari karena alasan kepraktisan masyarakat.

Nyanyian Tale dilantunkan oleh para petale (orang yang bernyanyi), yang dapat terdiri dari laki-laki atau perempuan, dan dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok. Para penonton atau hadirin juga sering kali diikutsertakan dalam penuturan ulang bait-bait tale. Acara ini biasanya diawali dengan kenduri (syukuran) untuk secara resmi mengumumkan niat ibadah haji kepada keluarga dan tetangga. Lantunan Tale dilantunkan tanpa menggunakan alat musik, hanya mengandalkan suara yang disesuaikan dengan irama khas Kerinci. Meskipun demikian, setiap desa di Kerinci memiliki irama dan cengkok yang berbeda dalam melantunkan syair tale.[5]

Syair-syair dalam Tale umumnya berbentuk pantun-pantun yang mengandung makna atau pesan mendalam. Strukturnya bervariasi; kadang tidak sempurna (misalnya jumlah baris lebih dari empat, sampiran tidak selalu berhubungan langsung dengan isi, atau rima akhir tidak selalu sempurna), karena fokus utamanya adalah penyampaian ide atau pesan yang ingin diutarakan. Walaupun demikian, beberapa pantun Tale Haji ada yang memiliki struktur yang baik dan teratur. Diksi atau pilihan kata yang digunakan meliputi kata-kata umum, nama diri khas Kerinci (seperti Muntang untuk calon haji, Mamauk untuk paman/tetua, Teganai untuk pemimpin keluarga/adat), kata-kata arkaik (kuno), dan juga terkadang terpengaruh oleh bahasa Indonesia modern. Pengulangan kata atau frasa tertentu, seperti epifora dan anafora (contohnya ala ae, hu ala), digunakan untuk membentuk irama nyanyian dan menciptakan efek emosional tertentu (sedih atau bahagia).[6]

Pertunjukan Tale dapat dilakukan dalam posisi duduk (dengan menggoyangkan tubuh ke kiri dan ke kanan, ke depan dan ke belakang) atau posisi berdiri (membentuk saf, saling berpegangan tangan, saling bertatap muka antara jemaah dengan ninik mamak dan masyarakat, sambil melangkah maju mundur).[7] Pada hari keberangkatan, masyarakat akan berkumpul memenuhi masjid untuk upacara pelepasan resmi, yang sering kali dihadiri oleh pemuka adat seperti Depati dan Ninik Mamak. Setelah pelepasan resmi, mereka akan mengiringi jemaah dengan berjalan kaki sambil terus melantunkan syair Tale. Sehari sebelum keberangkatan, calon jemaah juga biasanya memohon maaf kepada seluruh penduduk desa dan melunasi hutang piutang sebagai bentuk penyelesaian urusan dunia-akhirat sebelum beribadah.[4]

Ketika jemaah haji kembali ke kampung halaman, mereka akan disambut dengan sangat meriah, bahkan lebih meriah dari acara lainnya. Mereka diperlakukan layaknya pengantin baru, rumah mereka dihias, dan saat tiba di tangga rumah akan disambut dengan taburan beras kunyit serta harum-haruman. Alunan musik tradisional dan tale juga akan diperdengarkan. Cara penyambutan seperti ini menjadi salah satu motivasi besar bagi masyarakat Kerinci untuk menunaikan ibadah haji.[8]

Catatan kaki

Daftar pustaka

Jurnal

  • Safrian, Tedy; Maarif, Sauvil; Auliahadi, Arki; Hibatul Wafi, Mahmud (2023-09-26). "Tradisi Tale Haji Masyarakat Desa Bunga Tanjung". Prosiding Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah. 1 (2).
  • Nurdin, Fatonah; Supian, Supian; Defrianti, Denny (2021-10-01). "Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, Makna Tradisi Butale Haji di Tigo Luhah Semurup Kabupaten Kerinci". JIUBJ. 21 (3).
  • Maiza, Suci (2023-01-08). "TALE HAJI KERINCI: STRUKTUR, LINGKUNGAN PENCERITAAN DAN FUNGSI SOSIAL TEKS". BAHTERA. 22 (1).
  • Nega Lezer, Apras (2024-12-30). "Eksistensi Tradisi Tale Naek Joi Di Desa Permanti Kecamatan Pondok Tinggi Kota Sungai Penuh". KRINOK. 3 (3).

Sumber daring

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.