Tangas
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Juni 2025) |
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |
Tangas merupakan tradisi mandi uap yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Betawi. Perawatan ini tidak hanya ditujukan bagi wanita pascamelahirkan, melainkan juga bisa dinikmati oleh siapa saja sesuai kebutuhan baik untuk mengurangi produksi keringat berlebih, menyegarkan tubuh, hingga persiapan menjelang pernikahan.[1]
Ritual Tangas Betawi menggunakan campuran rempah dan bunga khas, seperti melati, mawar, kantil, jahe, daun pandan, jeruk limau, biji pala, dan serai. Semua bahan ini direbus dalam satu wadah dan diberi tambahan minyak esensial. Air rebusan tersebut kemudian diletakkan di bawah kursi uap, sementara tubuh dibalut kain agar uap dari rebusan tersebut dapat meresap melalui pori-pori kulit. Proses ini berlangsung sekitar 30 menit.
Keunikan dari tradisi Tangas terletak pada rangkaian ritualnya. Sesi perawatan diawali dengan sembe ta’zim, yaitu gerakan peregangan khas Betawi, lalu tubuh diasapi dengan dupa atau setanggi untuk memberikan aroma relaksasi. Setelah itu, dilakukan penguapan tubuh dan diakhiri dengan mandi bunga. Dalam versi tradisional lengkapnya, ritual ini bahkan disertai dengan lantunan lagu "Nina Bobo" oleh terapis sebelum mandi kembang dilakukan.
Meski versi otentik dari Tangas ini semakin jarang ditemukan di kota-kota besar, beberapa tempat spa seperti Gaya Spa masih menawarkan perawatan yang serupa. Selain memanfaatkan rempah-rempah khas Betawi, teknik pijat yang digunakan pun mengadopsi gaya tradisional Betawi, seperti pijat peregangan di seluruh tubuh untuk mengendurkan otot, yang membedakannya dari pijatan khas Jawa atau Bali.
Prosedur Melakukan Tangas
Pemanasan Awal
Sesi pemijatan dalam Tangas Betawi diawali dari bagian tubuh belakang, dilanjutkan dengan pemanasan pada area kaki. Proses ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga bertujuan menciptakan ketenangan batin. Terapis biasanya mengajak klien untuk melakukan latihan pernapasan secara bersama-sama guna membangun koneksi emosional dan menciptakan suasana relaks. Teknik pijatan awal dilakukan dengan membuka kaki sedikit dan memberikan tekanan ringan yang disebut dengan gerakan “tutup tendet” atau “tekan cabut.” Teknik ini memberikan stimulasi awal pada tubuh sebagai persiapan untuk pijatan inti.
Pijatan Inti
Pijatan utama difokuskan pada area pinggul dan bokong dengan gerakan khas yang disebut “uyek inter,” “seser sodor,” dan “rapat tenet,” yang dilakukan di sisi kanan dan kiri tubuh. Selanjutnya, pada area sekitar organ vital dilakukan teknik “rapet seset” dan “teken seser” dengan pijatan yang lembut dan perlahan. Salah satu teknik lain yang cukup khas adalah “nyengkak,” di mana kedua kaki klien dibuka dan lutut ditekuk, sementara terapis menekan area perut bawah secara hati-hati dengan salah satu kaki. Teknik ini ditutup dengan merapatkan kembali kaki. Teknik “tendet tarik” dilakukan dengan cara menekuk kedua kaki dan menariknya secara perlahan, memberikan efek peregangan otot dan relaksasi pada bagian tubuh bawah.
Lulur Daun Beluntas
Setelah proses pijat selesai, sesi dilanjutkan dengan lulur menggunakan bahan alami berupa daun beluntas yang dikenal memiliki aroma khas dan manfaat untuk mengeluarkan keringat serta menghilangkan bau badan. Lulur ini dibuat dari campuran daun beluntas, beras rendaman yang ditumbuk halus, daun kemuning muda beserta sedikit bunganya, dan perasan jeruk nipis. Warna lulur cenderung kuning muda alami, berbeda dari warna kuning kunyit. Setelah dilulurkan ke seluruh tubuh, proses dilanjutkan dengan penguapan menggunakan rebusan rempah-rempah seperti kulit jeruk, bunga rampai, bunga melati, bunga mawar, daun pandan, serai, akar wangi, dan jeruk purut. Semua bahan direbus dalam baskom logam (digdok) hingga mendidih, lalu uapnya digunakan dalam sesi mandi uap.
Konsumsi Jamu
Rangkaian Tangas Betawi juga mencakup konsumsi jamu tradisional beras kencur. Jamu ini disajikan dalam botol dan tidak diseduh seperti jamu umumnya, melainkan langsung dikonsumsi dalam bentuk kental. Fungsinya bersifat umum, cocok untuk anak-anak, ibu hamil, hingga orang dewasa. Komposisinya terdiri dari sekitar 40 jenis rempah-rempah, seperti daun delima, akar wangi, daun darah kental, cengkeh, ketumbar, dan berbagai jenis kacang-kacangan. Jamu ini bisa dikonsumsi pada pagi, siang, sore, maupun malam hari sebagai bagian dari pemulihan dan pemeliharaan kesehatan tubuh setelah perawatan.[2]
Referensi
- ^ fdvs.io. "Kenali Tangas, Mandi Uap Ala Betawi". www.dewimagazine.com (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2025-06-19. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ "Tangas Betawi : Perawatan Kulit Dan Kesehatan Tubuh". kebudayaanbetawi.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-06-19.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.