Uyah Kusamba
Uyah Kusamba, atau garam Kusamba, adalah garam laut tradisional yang dibuat di Pantai Kusamba, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, di mana kata "uyah" dalam bahasa Bali berarti garam. Garam ini bukan hanya bumbu yang biasa digunakan, tetapi juga merupakan hasil budaya yang menggabungkan pengetahuan dari nenek moyang tentang cara menguapkan air laut dengan cara alami dari pasir pantai, yang menghasilkan kristal garam halus berkualitas tinggi yang sering digunakan dalam masakan tradisional Bali seperti lawar, sate lilit, dan sambal matah. Saat ini, uyah Kusamba juga telah ditambahkan iodin agar sesuai dengan standar kesehatan modern, sehingga aman untuk dikonsumsi setiap hari sambil tetap menjaga rasa asli yang kaya mineral alami dari laut Bali.[1]
Sejarah
Sejarah Uyah Kusamba dapat ditelusuri sejak zaman Kerajaan Klungkung pada abad ke-16, khususnya sekitar tahun 1578 M. Pada saat itu, pantai dari Tribuana hingga Karangdadi dipenuhi dengan batang kelapa untuk memproduksi garam dalam jumlah besar, yang menjadi salah satu hasil utama masyarakat pesisir.[2]
Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi oleh nelayan dan petani garam di Desa Kusamba, yang mengandalkan pengetahuan lokal tentang pasang surut air laut dan iklim tropis Bali untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Namun, produksi garam ini mengalami penurunan drastis pada tahun 1998 karena banjir besar dan masuknya garam industri beriodium yang lebih murah, sehingga hampir membuat kerajinan ini punah; tetapi, pada tahun 2020, Pemerintah Kabupaten Klungkung melakukan revitalisasi melalui program inovasi KIPP (Klungkung Innovation and Product Development), lengkap dengan sertifikasi SNI, BPOM, halal MUI, dan Indikasi Geografis pada tahun 2023, sehingga kini menjadi produk unggulan untuk ekspor dan wisata kuliner.[2]
Pembuatan
Proses pembuatan garam Kusamba adalah tradisi yang memakan waktu antara 3 hingga 5 hari untuk setiap siklus. Prosesnya dimulai dengan tahap menjemur pasir pantai yang basah dengan air laut menggunakan alat pemadat kayu pada pagi dan sore untuk meratakan lapisan pasir. Kemudian, dilakukan penyiraman dengan air laut segar dari tepi pantai menggunakan pelepah pinang atau daun kelapa muda hingga pasir tersebut basah. Setelah pasir jenuh, pasir kering dikumpulkan dengan garuk bambu dan sekop, lalu disaring menggunakan bak anyaman bambu untuk memisahkan bagian kasarnya. Air garam yang sudah terkonsentrasi dituangkan ke bilah batang kelapa yang dipasang di atas tungku tanah liat, kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga menguap dan membentuk kristal halus. Setelah itu, hasilnya dipanen menggunakan alat penyiku, ditiriskan dalam wadah bambu berlubang, dikeringkan sekali lagi, dan terakhir dikemas secara manual dalam kemasan yang ramah lingkungan. Seluruh proses ini dilakukan secara bersama-sama, melibatkan pria dan wanita dengan cara yang setara, tanpa menggunakan mesin modern agar rasa tetap terjaga.[2]
Ciri Khas
Ciri khas utama dari uyah Kusamba adalah butiran halusnya yang mirip dengan tepung, cepat larut di mulut, dan memiliki rasa asin yang kuat tanpa rasa pahit atau amis yang biasanya ada pada garam yang diproduksi secara massal. Ini disebabkan oleh kandungan mineral alami seperti magnesium dan kalsium yang berasal dari pasir pantai vulkanik Bali. Berbeda dari garam laut biasa, uyah ini memiliki aroma laut yang lembut dan dapat disimpan sampai 2 tahun jika diletakkan di tempat kering. Warnanya juga putih keabu-abuan secara alami tanpa menggunakan pemutih kimia. Selain manfaatnya dalam kuliner, produk ini juga membantu meningkatkan ekonomi masyarakat lokal yang melibatkan sekitar 200 petani garam aktif, mencegah penyakit gondok melalui iodisasi, dan mengurangi masalah stunting di Bali. Kini, uyah ini tersedia di supermarket modern, pasar turis, serta diekspor ke luar negeri sebagai oleh-oleh premium.[2]
Pengakuan dan Perlindungan Indikasi Geografis
Sebagai produk yang lahir dari kearifan lokal masyarakat Bali, garam tradisional Kusamba telah memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah pusat. Produk ini tercatat memiliki sertifikat Indikasi Geografis yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, dengan Nomor 003/F-IG/I/A/2020 tertanggal 3 Januari 2020.[1]
Penetapan sebagai Warisan Budaya
Pada tahun 2023 Pemerintah Indonesia telah menetapkan nama karya budaya "Uyah kusamba" sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia . Penetapan tersebut dilakukan melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia No SK: 315/M/2023, dengan kode referensi AA001936.[3]
Referensi
- ^ a b Setyaningrum, Puspasari (12 Oktober 2024). "Mengenal Garam Kusamba, Cita Rasa Uyah Khas Bali yang Diburu Wisatawan". Kompas.com. Diakses tanggal 08 Februari 2026.
- ^ a b c d "Kerajinan Garam Tradisional/Uyah Kusamba - Teknologi Tradisional | Ceraken Kebudayaan Bali". ceraken.baliprov.go.id. Diakses tanggal 2026-02-08.
- ^ "Uyah Kusamba". Budaya Kita. Diakses tanggal 22 Februari 2026.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.