Yaksa Agus

YAKSAPEDIA merupakan nama populer dari Yaksa Agus (lahir di Bantul, Yogyakarta, 23 Agustus 1975)[1] adalah seorang perupa kontemporer asal Indonesia yang dikenal melalui karya-karya lukisnya yang sarat makna, aktivitas kepenulisannya di platform media sosial Yaksapedia, serta perannya sebagai penyintas hemofilia. Ia merupakan alumni Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta (SMSR) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.[2]

Biografi dan Perjalanan Hidup

Yaksa Agus lahir di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak kecil, ia didiagnosis dengan hemofilia, sebuah kelainan genetik yang memengaruhi pembekuan darah. Kondisi ini membawa tantangan signifikan dalam hidupnya, termasuk pengalaman pendarahan hebat dan stigma sosial, bahkan perundungan dari teman sebaya dan guru yang menganggapnya difabel.[3] Meskipun demikian, ia berhasil mengatasi pengalaman traumatis tersebut dengan dukungan dari lingkungan seniman dan mengubah kondisinya menjadi sumber inspirasi kreatif. Ia memilih untuk melihat hemofilia sebagai kelainan genetik yang memberinya ketahanan, bukan sebagai penyakit yang membatasi.

Praktik Seni

Praktik seni Yaksa Agus ditandai oleh eksplorasi diri, refleksi sosial, dan inovasi dalam medium serta presentasi. Karyanya sering kali berfungsi sebagai respons terhadap kondisi personal dan isu-isu kemanusiaan yang lebih luas.

Seni sebagai Terapi dan Advokasi

Yaksa Agus secara aktif menggunakan seninya sebagai alat terapeutik dan advokasi. Pada 31 Desember 2024, ia memulai proyek "Art Therapy", sebuah jurnal harian berupa sketsa yang dibuat di atas bekas kemasan obat injeksi hemofilia. Proyek ini bertujuan sebagai proses afirmasi diri dan komunikasi introspektif, sekaligus untuk membangun rasa percaya diri dan membimbing bakat penyintas hemofilia muda, menegaskan bahwa seni adalah visualisasi ilmu pengetahuan dan ekspresi diri yang vital.[3]

Respons Sosial dan Pameran Konseptual

Yaksa Agus menunjukkan kepekaannya terhadap isu-isu sosial dengan merespons langsung peristiwa penting melalui pameran konseptual.

  • Pameran "Yaksapedia" (2022) Pameran tunggal "Yaksapedia" di RuangDalam Art House, Bantul (22 Januari – 5 Februari 2022), merupakan terobosan dalam presentasi seni. Yaksa Agus memulai pameran dengan memajang sederet kanvas kosong, sebuah tindakan yang menantang ekspektasi pengunjung (Sabandar, 2022). Selama pameran, ia melukis secara langsung (on the spot) di hadapan pengunjung, menjadikan proses kreatif itu sendiri sebagai inti pameran. Ia melukis "model" yang berinteraksi langsung dengannya, seperti Ibu Pon, seorang pengayuh becak yang pernah menjadi modelnya pada tahun 1999. Konsep "Yaksapedia" di sini mengacu pada "ensiklopedia" atau kumpulan kisah yang dihasilkan dari pengalaman langsung seniman. Ruang pameran diubah menjadi studio terbuka, memungkinkan pengunjung menyaksikan "dapur" kreatif seniman. Yaksa juga secara transparan menampilkan fenomena "artisan" dalam produksi karya, bahkan dengan sesi berjudul "Yaksa Sedang Belajar Menggunakan Artisan". Konsep pameran yang menggabungkan pameran tunggal dengan seni pertunjukan (performing art) dalam melukis ini disebut sebagai yang pertama di Indonesia.[4]
  • Pameran "Titir" (2020) Pada 1 April – 1 Juni 2020, Yaksa Agus menggelar pameran tunggal "Titir" di Studio Bodo miliknya di Pendowoharjo-Bantul, di tengah pandemi COVID-19. Pameran ini diselenggarakan secara unik, dengan pembukaan daring tanpa penonton fisik, dan seluruh pameran berlangsung virtual melalui media sosial. Judul "Titir" merujuk pada bunyi kentongan/kenthongan yang dipukul cepat sebagai sistem peringatan dini atau "alarm sosial" dalam budaya Jawa, yang mengindikasikan bahaya besar seperti "pageblug" (wabah penyakit menular). Melalui pameran ini, Yaksa menyampaikan pesan pencegahan pandemi yang dikaitkan dengan konsep "empat sehat lima sempurna": memakai masker, menjaga jarak fisik, mencuci tangan, istirahat cukup, tidak panik, dan asupan gizi. Pameran ini berfungsi sebagai dukungan moral dan seruan persatuan di masa krisis. Yaksa mendalami filosofi kentongan sebagai alat pemersatu, kebersamaan, dan penyebar informasi, serta menyinggung sejarah dan perdebatan teologisnya di Nusantara, mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam seni kontemporer.[2][5][6]
  • Pameran "Prima Donna" (2002) Pada pameran tunggal "Prima Donna" (2002) di Gelaran Budaya, Yogyakarta, Yaksa Agus mengangkat lingkungan panggung sebagai bingkai sentral lukisannya. Fokusnya adalah panggung-panggung pinggiran atau desa, seperti panggung musik dangdut, tayub, atau pertunjukan toeng monyet. Ia menampilkan karakter dari masyarakat menengah ke bawah dan menyoroti kesenian 'sempalan'—jenis kesenian yang kadang dianggap menyalahi pakem tradisional. Pameran ini menunjukkan ketertarikannya pada budaya populer akar rumput dan kehidupan masyarakat yang sering terabaikan.[7]

Proses Kreatif dan Yaksapedia (Platform Daring)

Yaksa Agus memiliki proses kreatif yang unik. Sumber ide utamanya adalah aktivitas membaca dan diskusi. Ia menghabiskan malam dengan membaca untuk merangsang imajinasi, dan aktif berdiskusi dengan teman atau istrinya untuk melahirkan gagasan-gagasan baru (Santosa, 2024). Lukisan seperti "Jalan Kenangan: Antara" dan "Jalan Kenangan: Aneta" (2024), yang mengangkat gedung lama Antara sebagai simbol peristiwa kebudayaan, lahir dari proses refleksi dan diskusi mendalam.[2] Selain praktik melukis, Yaksa Agus juga dikenal melalui akun Facebook YAKSAPEDIA. Platform ini berfungsi sebagai wadah baginya untuk berbagi pemikiran mendalam, analisis seni, diskursus budaya, hingga refleksi filosofis. Yaksapedia adalah "ensiklopedia" visual dan verbal pribadi Yaksa, memperluas jangkauan karyanya dan mendorong dialog tentang seni rupa di ranah daring.

Karier dan Penghargaan

Yaksa Agus menempuh pendidikan seni di SMSR (1991) dan ISI Yogyakarta (1996). Konsistensinya dalam berkarya tercermin dari banyaknya pameran tunggal dan kelompok yang telah ia selenggarakan di dalam maupun luar negeri. Selain sebagai pelukis, ia juga aktif sebagai kurator (misalnya pameran "Bias Borneo") dan penulis dalam berbagai proyek seni, serta moderator acara seni (misalnya pameran "ANOMALIEN" oleh Faisal Amir). Ia juga dikenal menggunakan permainan tradisional seperti "dam-daman" sebagai metafora kontestasi yang santun dalam karyanya.

Penghargaan

  • Winner AIAA Awards 2005 (Byron Bay, Australia)

Pameran Tunggal

  • 2000: "Seni untuk Kemanusiaan", Bentara Budaya Yogyakarta.
  • 2002: "Prima Donna", Gelaran Budaya, Yogyakarta.
  • 2020: "Titir", Studio Bodo, Pendowoharjo-Bantul (virtual).
  • 2022: "Yaksapedia", RuangDalam Art House, Bantul.

Pameran Kelompok Pilihan

  • 1991-2003: Beberapa pameran di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Malaysia, Jepang, dan Singapura.
  • 2004: "1+1=1" (Shah Alam Gallery, Selangor), "IMMERSIONS" (Maya Gallery, Kuala Lumpur), "Seni Rupa Halaman" (Plataran Joko Pekik, Yogyakarta), "Seni Rupa Ruangan" (Galeri Pitoe, Yogyakarta), "NOTTHATBALAI" (Lost Generations Space, Kuala Lumpur), "VOLLA DONGGA" (Taman Budaya Palu), "DI SINI AKAN DIBANGUN MALL" (Titik Nol Kilometer dan Bentara Budaya Yogyakarta).
  • 2005: "MELIHAT JAGAT" (Ullen Sentalu Museum, Yogyakarta), "TAKUNG" (National Art Gallery, Kuala Lumpur), "NOTTHATBALAI" (Lost Generation Space, Kuala Lumpur), "NIRRUPA" (Taman Budaya Yogyakarta), "INTER Fancy" (Sikka Art Gallery, Ubud Bali), "EXPRESSION OF LOVE" (Cyropractic Art Centre, Byron Bay, Australia), "THE HERE AND NOW, BIENNALE VIII-2005" (Yogyakarta).
  • 2006: "ART CARE INDONESIA" (Yogyakarta), "5,9 SR" (Bentara Budaya Yogyakarta), "THE FUTURE OPTIMISME" (Blora Institute, Jakarta), "TERROR!!!" (Intersection Gallery, California), "EKSPRESI JOGLO" (Taman Budaya Surakarta).
  • 2007: "KISAH-KISAH NUSANTARA" (Taman Budaya Yogyakarta), "ART TRIANGLE" (Galeri Sokka Gakai, Kuala Lumpur), 2nd anniversary MOSA (Museum of Small Art) (Shah Alam, Selangor).
  • 2008: "KOPIKRETEKKRATON" (Kebun Mimpi Gallery, Kuala Lumpur), "REUNI : detik’96" (Sangkring Art Space, Yogyakarta), "ARTTRIANGLE#2" (Galeri Sokka Gakai, Kuala Lumpur), "TENGGARA: Asian Representation" (Urban Art Moseum, Liverpool England), "A…HA!!!" (V-art Gallery, Yogyakarta), "G-8" (Balai Black Box / Studio Galam, Yogyakarta), "THE SHOW" (Katalis Arts Forum, Jogja Nasional Museum Yogyakarta).
  • Lain-lain: "End Note(s)" (dengan finalis UOB Painting of the Year lainnya).

Pengalaman Lainnya

  • 2004: Artist in Residency (Kuala Lumpur dan Yogyakarta, Proyek Mager 2005: Mager Nusantara inter aksi Matahati+Gelaran).
  • 2007: Artist in Residency di Rimbun Dahan, Kuang, Malaysia.

Referensi

  1. ^ "Kisah Yaksa Agus, Seniman Penyintas Hemofilia". Diakses tanggal 2025-06-28.
  2. ^ a b c antaranews.com (2024-05-24). "Ada ANTARA di Jalan Kenangan sang Yaksa". Antara News. Diakses tanggal 2025-06-28.
  3. ^ a b narasinetwork.com (2025-05-02). "Wawancara Tokoh : Yaksa Agus - Dari Stigma Hemofilia Menuju Ketahanan dan Kreativitas". narasinetwork.com. Diakses tanggal 2025-06-28.
  4. ^ "Pelukis Yaksa Agus Pamerkan Sederet Kanvas Kosong saat Pembukaan Pameran Tunggal di Yogyakarta". Kompas.tv. Diakses tanggal 2025-06-28.
  5. ^ "'Titir: Warning', Bunyikan Kenthongan Lewat Pameran Virtual". gudeg.net. Diakses tanggal 2025-06-28.
  6. ^ developer, mediaindonesia com. "Kreativitas di Tengah Pagebluk". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2025-06-28.
  7. ^ Gelaran Budaya (Publisher), ed. (2009). Gelaran almanak seni rupa Jogja, 1999-2009. Yogyakarta: Gelaran Budaya. hlm. 170. ISBN 978-979-1436-21-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

Facebook Yaksapedia

Instagram Yaksapedia

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.