Yuddhakanda

Pertempuran di Alengka, Ramayana, karya Sahib Din. Pertempuran antara pasukan Rama dan Raja Alengka. Udaipur, 1649–1653. Ilustrasi Sahib Din menampilkan pertempuran bersejarah yang sengit dengan detail yang mengerikan. Pertempuran ini terjadi antara pasukan kera Rama dan pasukan raksasa Raja Alengka, saat Rama (bersama satu-satunya manusia lain di sana, yaitu saudaranya, Laksmana) berjuang untuk membebaskan istrinya yang diculik, Dewi Sinta. Setelah serangkaian pertarungan jarak dekat yang brutal, keteguhan pasukan kera Rama berhasil membawa kemenangan. Ilustrasi ini bukanlah sebuah 'adegan tunggal', melainkan menampilkan beberapa tahapan pertempuran secara berdampingan. Sebagai contoh, dalam adegan pertempuran antara pasukan raksasa dan pasukan kera Rama ini, sosok jenderal raksasa berkepala tiga, Trisirah, muncul di beberapa tempat—mungkin yang paling dramatis ada di bagian kiri bawah, di mana ia digambarkan dipenggal oleh Hanoman. Rama yang pada akhirnya menang ditampilkan di kiri atas, digambarkan dengan warna biru yang memukau, tampak tenang merenungkan pertumpahan darah tersebut.

Ahir nya adalah kitab keenam epos Ramayana dan sekaligus klimaks epos ini. Dalam kitab ini diceritakan sang Rama dan

sang raja kera Sugriwa mengerahkan bala tentara kera menyiapkan penyerangan Alengkapura. Karena Alengka ini terletak pada sebuah pulau, sulitlah bagaimana mereka harus menyerang.

Maka mereka bersiasat dan akhirnya memutuskan membuat jembatan bendungan (situbanda) dari daratan ke pulau Alengka. Para bala tentara kera dikerahkan. Pada saat pembangunan jembatan ini mereka banyak diganggu tetapi akhirnya selesai dan Alengkapura dapat diserang.

Syahdan terjadilah perang besar. Para raksasa banyak yang mati dan prabu Rawana gugur di tangan sri Rama.

Lalu Dewi Sita menunjukkan kesucian dan kesetiaannya terhadap Rama dengan dibakar di api, ternyata ia tidak apa-apa.

Setelah itu sang Rama, Sita, Laksamana pulang ke Ayodhyapura, disertai para bala tentara kera yang dipimpin oleh Sugriwa dan Hanuman. Di Ayodhyapura mereka disambut oleh prabu Barata dan ia menyerahkan kerajaannya kepada sang Rama. Sri Rama lalu memerintah di Ayodhyapura dengan bijaksana.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.