Jasa Marga Berencana Menerbitkan Surat Berharga, Memangkas Pengeluaran Ditengah Penurunan Pendapatan

ArtikelDigital.com, Operator jalan tol milik negara Jasa Marga berencana menerbitkan surat berharga (SBK) senilai Rp 1 triliun (US $ 68 juta) dengan tanggal jatuh tempo satu tahun untuk memberikan tambahan modal, kata para eksekutif.

Corporate Finance Head Jasa Marga Eka Setia Adrianto, Rabu, mengatakan perseroan sedang mencari cara alternatif untuk mendanai proyek-proyek yang sedang berjalan dan pemeliharaan jalan tol, termasuk dengan penerbitan obligasi dan commercial paper.

“Kami tidak menargetkan ukuran, karena [surat berharga] adalah produk baru bagi kami. Kami berencana untuk mengumpulkan antara Rp 500 miliar hingga Rp 1 triliun dari penerbitan surat berharga, “katanya saat konferensi pers online.

Selain penerbitan commercial paper, kata Eka, perseroan tengah mempersiapkan penerbitan obligasi senilai Rp 1 triliun untuk menambah modal segar ke perseroan.

Dia mengatakan perseroan telah memperoleh hutang dan kewajiban dalam jumlah besar selama beberapa tahun terakhir karena telah melalui “tahap konstruksi masif” dengan 20 proyek pembangunan jalan tol.

Pinjaman dari perbankan dan dana pasar modal 70 persen untuk proyek tol Jasa Marga, sedangkan 30 persen berasal dari ekuitas kami.

Itu sebabnya utang kami meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, ”ujarnya. Per 30 Juni, Jasa Marga memiliki utang bank jangka panjang senilai Rp 42,2 triliun, meningkat 90 persen year-on-year (yoy), menurut laporan keuangan perseroan yang dipublikasikan di situs Bursa Efek Indonesia.

Laporan keuangan Jasa Marga juga menunjukkan rasio utang terhadap ekuitas perseroan meningkat menjadi 3,3 dari 3,1 pada periode yang sama tahun lalu.

Perusahaan menetapkan hutang maksimal 5 kali ekuitasnya. Di tengah utang yang membengkak, Direktur Keuangan Jasa Marga Donny Arsal meyakinkan investor bahwa perseroan akan menikmati kenaikan pendapatan, karena 18 dari 20 proyek jalan tolnya sudah beroperasi penuh.

“Kami akan memiliki arus kas yang stabil dalam jangka panjang, karena jalan tol kami sudah beroperasi penuh. Kami juga tidak akan mengambil proyek besar-besaran ke depan, mungkin hanya satu atau dua proyek per tahun, ”ujarnya.

Ia menambahkan, Jasa Marga tidak akan memulai proyek konstruksi baru setidaknya hingga 2023, karena perseroan mengalihkan fokusnya ke optimalisasi pendapatan dari jalan tol yang sudah ada.

Menurut data perseroan, jalan tol yang dioperasikan oleh Jasa Marga dan anak perusahaannya bertambah sekitar 500 kilometer antara tahun 2015 dan 2019 dan saat ini mencapai 1.165 km di seluruh Indonesia.

Selain optimalisasi pendapatan, kata Donny, perseroan juga telah mengurangi belanja modal sebesar Rp 2 triliun dan belanja operasional sebesar Rp 500 miliar untuk menjaga profitabilitas di tengah penurunan pendapatan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.

“Untuk menghadapi dampak pandemi COVID-19, kami antara lain mengurangi pengeluaran operasional dengan membatalkan perjalanan dinas dan mengurangi biaya pemeliharaan jalan tol yang tidak penting. Makanya kami masih bisa membukukan hasil yang positif tahun ini, ”ucapnya.

Jasa Marga membukukan laba Rp 105 miliar selama paruh pertama tahun 2020, turun 90 persen yoy dari Rp 1,05 triliun pada periode yang sama tahun lalu, menurut laporan keuangannya.

Pendapatan perusahaan turun 25,8 persen selama periode tersebut, terutama karena larangan eksodus Idul Fitri oleh pemerintah dan pembatasan sosial skala besar.

“Kita harus memahami bahwa dampak pandemi COVID-19 mempengaruhi semua sektor, termasuk transportasi.

Namun, kami melihat peningkatan pesat di sektor jalan tol dengan peningkatan lalu lintas baru-baru ini, ”katanya.

Menurut data perusahaan, lalu lintas kendaraan di jalan tol telah turun 50 persen dari tingkat sebelum pandemi di bulan Mei, tetapi selisihnya telah berkurang menjadi sekitar 10 persen di bulan Agustus.

RSS
Telegram