Kejaksaan Melihat Kemungkinan Kejahatan Dalam Dugaan Pertemuan Jaksa Dengan Djoko Tjandra Di Luar Negeri

ArtikelDigital.com, Kejaksaan Agung sedang menyelidiki dugaan pelanggaran hukum oleh seorang jaksa yang dilaporkan melakukan kontak langsung dengan terpidana korupsi Djoko Soegiarto Tjandra sementara yang terakhir masih dalam pelarian ke luar negeri.

Menurut sebuah laporan yang diterima oleh pengacara junior Kejaksaan Agung untuk kejahatan khusus (Jampidsus), jaksa penuntut, yang diidentifikasi sebagai Pinangki Sirna Malasari, diduga bertemu dengan Djoko beberapa kali di luar negeri sebelum buron akhirnya ditangkap dan dibawa kembali ke Jakarta akhir bulan lalu.

“Kami saat ini masih mencari hasil dari penyelidikan awal. Kami belum memulai penyelidikan karena berkas itu baru saja diserahkan pada hari Senin kepada jaksa penuntut di unit kejahatan khusus,” kata Febrie Adriansyah, direktur penyelidikan di pengacara junior Kejaksaan Agung untuk kantor kejahatan khusus, pada hari Selasa.

“Kami akan memutuskan nanti apakah kasus ini akan ditindaklanjuti dengan investigasi atau tidak,” tambahnya.

Skandal yang melibatkan Pinangki muncul setelah foto yang beredar di media sosial menunjukkan dia bersama Djoko dan pengacaranya Anita Kolopaking dalam sebuah pertemuan yang diduga terjadi di Malaysia.

Setelah menyelidiki beberapa saksi, unit pengawas Kejaksaan menyatakan bahwa Pinangki telah melakukan pelanggaran etika, karena ia diketahui telah melakukan sembilan perjalanan internasional ke Singapura dan Malaysia pada tahun 2019 tanpa izin. Dia diduga telah bertemu dengan Djoko selama beberapa perjalanan yang telah dia lakukan.

Sementara motif pasti pertemuan Pinangki dengan Djoko masih belum jelas, Wakil Jaksa Agung Setia Untung Arimuladi memutuskan untuk mengeluarkan Pinangki dari jabatannya sebagai pejabat di biro perencanaan di bawah jaksa agung junior Kejaksaan Agung untuk pengembangan pada 29 Juli.

Djoko, seorang terpidana kasus korupsi Bank Bali yang terkenal, ditangkap di Malaysia dan dibawa kembali ke Indonesia pada 30 Juli dalam rencana operasi oleh Kepolisian Nasional.

Dia sebelumnya bebas berkeliaran selama 11 tahun setelah melarikan diri dari Indonesia sehari sebelum Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman dua tahun penjara dan memerintahkan dia untuk membayar Rp 546 miliar (US $ 54 juta) sebagai ganti rugi atas kejahatannya.

Terpidana, yang sekarang ditahan di Penjara Salemba di Jakarta, sebelumnya menjadi berita utama pada bulan Juni setelah ia berhasil kembali ke Indonesia tanpa terdeteksi, meminta dokumen identitasnya dikeluarkan dan meminta peninjauan kembali kasus atas hukumannya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Sebelumnya, Polisi Nasional juga memindahkan tiga pejabat tinggi dari jabatannya karena membantu Djoko Tjandra saat dalam pelarian. Di antara ketiganya, polisi bernama Brigjen. Jenderal Prasetyo Utomo menjadi tersangka karena mengeluarkan surat perjalanan untuk Djoko dan mengajukan beberapa tuduhan terhadapnya.

RSS
Telegram