Komisi XI Ungkapkan Indonesia Akan Alami Resesi Kuartal III

Spread the love

ArtikelDigital.com, Anggota Komisi XI DPR RI Muhammad Misbakhun mengapresiasi sikap keberanian Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa ekonomi nasional akan mengalami resesi pada kuartal III.

“Itu sebuah kejujuran dan keberanian yang dimiliki Sri Mulyani menurut saya,” ujar Misbakhun dalam keterangan tertulisnya, Kamis (24/9/2020).

Ia berharap kejujuran yang telah diungkapkan bendahara negara itu jangan dipersepsikan membuat gaduh atau cemas masyarakat.

Pasalnya, kata Misbakhun, Indonesia tidak sendiri mengalami resesi ini, melainkan banyak negara di dunia juga mengalami hal serupa lantaran dampak Covid-19.

Meski demikian, lanjut Politisi Golkar itu, ada pesan tersirat dalam kondisi krisis ini.

“Seberat apapun kondisi perekonomian yang akan dialami, negara akan tetap berusaha memberikan kebijakan-kebijakan sebagai solusi untuk bisa keluar dari krisis ini,” ungkapnya.

Dengan kata lain, tambah anak buah Airlangga Hartarto ini, pemerintah akan tetap hadir dengan program-program bantuan sosialnya, memastikan ketersediaan semua bahan pokok.

“Tentunya pemerintah tetap mengalokasikan anggaran untuk mengatasi pandemi Covid-19 yang notabene menjadi salah satu penyebab krisis saat ini,” jelasnya.

Bantuan yang diberikan pemerintah itu, tambah Misbakhun, bisa digunakan untuk membeli kebutuhan masyrakat, sehingga menambah daya konsumsi tetap terjaga.

Menurutnya, keterangan yang disampaikan Menteri Keuangan itu akan menimbulkan sentimen positif ke pasar.

“Sebab pemerintah dan negara tetap optimis bisa keluar dari situasi dan kondisi perekonomian yang sulit ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020.

Bendahara Negara itu mengatakan, pada kuartal III, perekonomian Indonesia akan mengalami kontraksi hingga minus 2,9 persen.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III akan berada di kisaran minus 2,9 persen hingga minus 1,1 persen. Angka tersebut lebih dalam jika dibandingkan dengan proyeksi awalnya, yakni sebesar minus 2,1 persen hingga 0 persen.

Adapun keseluruhan, pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun akan berada di kisaran minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen. Sebelumnya, proyeksi Sri Mulyani berada di kisaran minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen.

“Kementerian Keuangan merevisi forecast untuk September, sebelumnya untuk tahun ini minus 1,1 persen hingga positif 0,2 persen. Forecast terbaru September untuk 2020 di minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa secara virtual, Selasa (22/9/2020).