Komunitas Lokal Menyediakan Internet Gratis untuk Siswa Di Tengah Hambatan E-Learning

Spread the love

ArtikelDigital.com, Di tengah banyaknya keterbatasan pembelajaran online, beberapa komunitas lokal di seluruh Jawa telah mengambil inisiatif sendiri untuk memberi siswa akses gratis ke gadget elektronik dan konektivitas internet selama pandemi COVID-19.

Karang Taruna Petamburan di Tanah Abang, menjalin kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat Indonesia Resilience (IRES) dan platform crowdfunding membuka pusat pembelajaran yang dilengkapi perangkat pintar dan jaringan nirkabel yang dapat diakses siswa lokal.

Pusat pembelajaran yang didirikan di musalah At-Tawadhu dan Studio Seni Berase ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar online yang lebih lancar bagi siswa SD, SMP, dan SMA setempat.

“Kami menyebutnya ‘Rumah Kembali Belajar’. “Inisiatif ini merupakan buah dari kepedulian kami terhadap situasi pembelajaran di tengah pandemi, terutama di kalangan siswa yang orang tuanya merupakan pekerja informal.”

Relawan hadir untuk memastikan kepatuhan ketat terhadap protokol kesehatan di antara siswa selama periode pembelajaran harian, yang berlangsung dari pukul 06.30 hingga 14.00, dari Senin hingga Jumat.

“Setiap bagian masyarakat memiliki hak atas pendidikan apapun kondisinya,” kata direktur eksekutif IRES Hari.

Begitu pula dengan warung internet dan warung-warung populer di Yogyakarta yang juga telah memberikan akses internet gratis kepada pelajar lokal selama masa belajar online, berkat kampanye penggalangan dana yang bisa diakses di kitabisa.com/bisasekolah.

Salah satu inisiatif lokal telah mengambil pendekatan inovatif dengan menyediakan akses internet seluler di atas van Volkswagen kuno yang secara teratur mengelilingi sejumlah desa di seluruh wilayah.

Dijuluki “VW Combi Internet Keliling”, van tersebut menyiarkan sinyal internet nirkabel saat melaju di sekitar Kabupaten Sleman dan Kabupaten Klaten dari pukul 9 pagi hingga 1 siang.

Survei yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada bulan April yang melibatkan 1.700 siswa dan 602 guru di 54 kota dan kabupaten menemukan bahwa 42 persen siswa tidak mampu membeli paket internet sehingga menyulitkan mereka untuk melakukan video call dengan guru mereka.