Serikat Guru Menyerukan Standar Keamanan yang Lebih Baik saat Sekolah Dibuka Kembali

Spread the love

ArtikelDigital.com, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) telah mendesak pemerintah untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi guru, administrator sekolah dan siswa selama pandemi COVID-19, dengan mencatat bahwa beberapa guru dan administrator sekolah telah meninggal karena penyakit tersebut.

Menurut FSGI, setidaknya 20 guru dan dua administrator sekolah telah meninggal karena COVID-19.

Wakil Sekretaris Jenderal SGI Fahriza Marta mengatakan para guru memiliki perlindungan minimal dari virus, meskipun ada seruan baru-baru ini untuk membuka kembali sekolah.

“Membuka kembali sekolah akan berisiko tanpa persiapan yang matang,” kata Fahriza dalam sebuah pernyataan, Sabtu.

Dia menambahkan bahwa banyak sekolah telah dibuka dan gagal menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Beberapa sekolah tidak memiliki fasilitas sanitasi yang layak dan mengizinkan guru untuk mengajar siswa secara langsung tanpa menggunakan masker. Beberapa guru tidak memberlakukan aturan jarak fisik selama kegiatan sekolah.

FSGI menemukan bahwa 51 sekolah menengah pertama di Toba, Sumatera Utara, mengharuskan siswanya menghadiri kelas tatap muka tiga hari dalam seminggu.

“Kami menemukan hanya 13 dari 51 sekolah yang melapor ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah dibuka kembali,” kata Fahriza.

Dari 13 sekolah, hanya satu yang memiliki fasilitas jamban layak. Salah satu sekolah gagal menyediakan fasilitas cuci tangan. Empat sekolah tidak didisinfeksi secara teratur, sementara delapan tidak memeriksa suhu orang yang memasuki fasilitas tersebut.

Fahriza mengatakan, guru dan staf sekolah berhak mendapatkan perlindungan yang layak berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen 2005 serta Keputusan Menteri 2017 tentang perlindungan guru.

“Kami tidak hanya berhak atas perlindungan hukum dan kesejahteraan tetapi juga perlindungan dari infeksi COVID-19,” katanya.

Sekretaris Jenderal SGI Heru Purnomo mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk melakukan tes swab COVID-19 di sekolah dan mengalokasikan dana tambahan agar semua sekolah bisa memiliki fasilitas sanitasi yang layak.

“Kalau pemerintah tidak punya anggaran untuk itu, kami dorong untuk sementara ini dihentikan sementara pembelajaran tatap muka,” kata Heru.