Tiga belas perusahaan, pejabat OJK menunjuk tersangka dalam kasus Jiwasraya

ArtikelDigital.com, Setelah sekitar enam bulan investigasi, Kejaksaan Agung (Kejaksaan Agung) telah menunjuk 13 perusahaan pengelola aset dan pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam kasus dugaan korupsi dan pencucian uang di sekitar perusahaan asuransi milik negara PT Asuransi Jiwasraya.

Jiwasraya dituduh salah kelola ketika menginvestasikan pendapatan premi dari JS Saving Plan, salah satu produk asuransi perusahaan, dalam berbagai aset. Akibatnya, gagal membayar Rp 16 triliun (US $ 1,1 miliar) dalam polis yang jatuh tempo pada bulan Februari kepada pemegang polisnya.

Juru bicara Kejaksaan Agung Hari Setiyono mengatakan bahwa wakil komisioner OJK untuk pemantauan pasar modal, yang diidentifikasi hanya sebagai FH, adalah tersangka baru dalam kasus ini. Kantor menuduhnya penyalahgunaan kekuasaan, yang diduga membuka jalan bagi salah urus investasi Jiwasraya selama masa jabatan FH sebagai kepala departemen pemantauan pasar modal OJK dari 2014 hingga 2017.

Kepala departemen pemantauan pasar modal di OJK dari 2014 hingga 2017 adalah Fakhri Hilmi.

“Meskipun menjadi tersangka dalam kasus ini, kami belum menangkap pejabat OJK sampai sekarang,” kata Hari saat konferensi pers pada hari Kamis.

Hari juga mengumumkan bahwa 13 perusahaan manajemen aset bernama tersangka dalam kasus ini. Kejaksaan menuduh perusahaan salah mengatur atau mencuci pendapatan premi yang dikumpulkan oleh Jiwasraya dari 2014 hingga 2018.

Perusahaan-perusahaan tersebut diduga menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 12,35 triliun, 73,46 persen dari total kerugian negara Rp 16,81 triliun yang disebabkan oleh kesalahan manajemen investasi Jiwasraya yang diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dari 2008 hingga 2018.

Undang-undang tahun 2001 tentang kejahatan korupsi memungkinkan otoritas hukum Indonesia untuk menyebutkan nama para tersangka perusahaan.

Namun, Kejaksaan belum menyebutkan nama eksekutif perusahaan yang dicurigai sebagai investigasi yang sedang berlangsung.

Kejaksaan juga mencari kemungkinan alasan mengapa Jiwasraya memutuskan untuk mempercayakan perusahaan dengan mengelola dana.

“Kami menuduh semua tersangka melanggar hukum untuk kepentingan pribadi mereka, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 UU Tindak Pidana Korupsi 1999,” kata Hari. “Kami juga menuduh bahwa perusahaan melakukan pencucian uang.”

Sebelum pengumuman, Kejaksaan telah menunjuk enam tersangka dalam kasus ini termasuk tiga mantan eksekutif Jiwasraya, yaitu mantan direktur utama Hendrisman Rahim, mantan direktur keuangan Hary Prasetyo dan mantan kepala divisi keuangan dan investasi Syahmirwan.

Kantor tersebut juga menyebutkan tiga tersangka lain: firma properti publik PT Hanson International presiden direktur Benny Tjokrosaputro, publik perusahaan pertambangan PT Trada Alam Minera Komisaris Utama Heru Hidayat dan Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto.

Para tersangka sekarang adalah terdakwa, setelah menjalani sidang pertama pada 4 Juni.

Berikut ini adalah daftar 13 perusahaan yang disebut tersangka:

1. PT Dhanawibawa Manajemen Investasi / Pan Arcadia Capital
2. PT OSO Manajemen Investasi
3. PT Pinacle Persada Investasi
4. PT Milenium Danatama
5. PT Prospera Aset Manajemen
6. PT MNC Aset Manajemen
7. PT. Maybank Aset Manajemen
8. PT GAP Capital
9. PT Jasa Capital Aset Manajemen
10. Manajemen Aset PT Pool Advista
11. PT Corfina Capital
12. PT Treasure Fund Investama Indonesia
13. PT Sinarmas Aset Manajemen

RSS
Telegram