Belik

Belik sumber air sehari-hari. Desa Waru, Jepon, Kabupaten Blora
Belik galian di Ponorogo
Berjajar di tebing sungai di Desa Sraten, Jenangan, Kabupaten Ponorogo

Belik adalah mata air kecil,[1] yang umumnya berupa mata air rembesan (Ingg. seep). Istilah ini berasal dari bahasa Jawa, belik, yang artinya sumber air.[2]

Belik pada umumnya muncul atau berada di tebing-tebing sungai, atau di lekukan lembah kecil; baik di tengah ladang maupun di celah bongkahan batu-batu cadas. Belik sering muncul di bawah pohon besar yang tumbuh di pangkal lembah. Namun sebaliknya, karena peran pentingnya sebagai sumber air, lingkungan di sekitar belik acap kali dilindungi dan dijaga warga setempat agar selalu hijau berpohon-pohon. Dalam pengertian aslinya, belik juga mencakup lubang-lubang atau cekungan dangkal yang dibuat manusia untuk menampung air di tebing atau di dasar sungai kering.

Hidrologi

Belik atau mata air rembesan adalah tempat, biasanya kecil saja, di mana air tanah merembes keluar secara perlahan ke permukaan tanah.[3] Secara hidrologis, belik merupakan bagian penting dari siklus hidrologi, sebagai tempat-tempat di mana air tanah pertama kali keluar untuk kemudian mengalir dan bergabung dengan aliran air permukaan, seperti saliran, sungai, sungai besar, hingga ke laut.[4]

Belik dalam budaya Jawa

Karena nilai pentingnya, beberapa belik ada yang dikeramatkan oleh warga setempat. Misalnya dijadikan objek ritual acara adat penduduk setempat seperti untuk memandikan pengantin, memandikan pusaka, dan lain-lain.[5][6][7]

Catatan kaki

  1. ^ KBBI Daring: belik. Diakses 02/02/2020
  2. ^ Kamus UGM: belik. Diakses 02/02/2020
  3. ^ USGS: seep. Diakses 02/02/2020
  4. ^ Shaxson, F. & R. Barber. (2003) Ch. 2. Hydrology, soil archithecture and water movement, in "Optimizing Soil Moisture for Plant Production, the significance of soil porosity." FAO Soils Bulletin 79. Rome: Food and Agriculture Organization. ISBN 92-5-104944-0
  5. ^ Puspitasari, M.D. (2012). Fungsi kesenian tradisional jaranan Manggolo Yudho dalam upacara adat Nyadran Belik di Desa Sumbergedong Kabupaten Trenggalek. Skripsi Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Malang (tidak diterbitkan).
  6. ^ Radar Banyumas OL: Festival Ramadan Grebeg Onje – Ritual Ambil Air dari Tujuh Belik Diarsipkan 2020-02-06 di Wayback Machine.. Berita Jumat, 19 Mei 2017; diakses 02/02/2020
  7. ^ Jawa Pos OL: Sudah Tujuh Generasi Kepala Desa yang Meneruskan Tradisi Monggang. Berita 21 Juli 2019, 16:23:15 WIB; diakses 02/02/2020

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.