Bias arus utama
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Bias arus utama adalah kecenderungan media massa besar untuk mengutamakan sudut pandang konvensional, dan sering kali mengesampingkan perspektif alternatif atau gagasan lain yang muncul. Media massa arus utama sering kali meliput berita dengan pembingkaian isu, pemilihan cerita dan sumber yang selektif.[1][2] Bias ini merupakan salah satu jenis bias media.
Munculnya media digital dan sosial telah mendorong kemunculan beragam sudut pandang alternatif sehingga dapat mengurangi bias arus utama. Di sisi lain, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran mengenai penyebaran misinformasi, disinformasi dan terbentuknya ruang gema.[3]
Jenis-jenis
Terdapat tiga jenis bias arus utama:
- Bias terhadap status quo: media punya kecenderungan untuk mendukung struktur sosial, ekonomi, dan politik yang sudah mapan dan cenderung menolak atau skeptis terhadap gagasan-gagasan radikal.[1]
- Bias obyektivitas: komitmen jurnalistik pada obyektivitas membuat media massa cenderung memberi penekanan yang sama pada perspektif arus utama dan perspektif radikal, sehingga secara tidak langsung melegitimasi misinformasi.
- Bias sumber: media massa sering kali bergantung pada sumber-sumber resmi dan para ahli, sehingga meniadakan atau mengabaikan pendapat alternatif dan perspektif akar rumput.[3]
Dampak
Bias arus utama telah menjadi topik yang kontroversial karena kemampuan media massa dalam membentuk masyarakat yang demokratis sebagai pilar keempat demokrasi. Groseclose dan Milyo mendorong pengukuran bias media dengan mengukur seberapa banyak media massa mengutip wadah pemikir.[butuh rujukan] Bias arus utama dapat menentukan ketersediaan dan akses informasi yang diterima publik dan memengaruhi opini publik serta pengambilan keputusan.[4] Bias arus utama juga dikaitkan dengan perbedaan pandangan di masyarakat yang kian partisan, meki mereka menginginkan media non-partisan.[butuh rujukan]
Para ahli berbeda pendapat mengenai kemunculan dan keberadaan bias arus utama. Secara umum, ada dua pendapat besar, yakni kemunculan dari faktor permintaan (demand) atau penawaran (supply) Menurut Groseclose dan Milyo (2005) dan Yano, Resnik, dan Smith (2015), bias ini muncul karena kepercayaan pembaca atau penonton. Di sisi lain, Mullainathan dan Shleifer (2005) dan Gentzkow (2010) berpendapat bahwa bias ini muncul dari sisi media itu sendiri yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, yakni menghasilkan keuntungan.[4]
Menurut Jonathan Kaufman, permasalahan pada liputan media massa disebabkan oleh kompetisi untuk mendapatkan perhatian pembaca. Hal ini membuat media massa perlu memutuskan apa yang diliput dan bagaimana meliputnya agar sejalan dengan keinginan pembaca. Hal ini menjelaskan bagaimana figur populer, meski kontroversial, seperti Donald Trump mendapat liputan yang lebih banyak di media massa dibanding figur lain yang kurang populer.[5]
Kritik
Bias arus utama memiliki pendukung dan pengkritiknya. Pengkritiknya berpendapat bahwa adanya bias ini menghambat kemunculan beragam wacana di masyarakat, sehingga hanya sebagian kecil wacana yang muncul ke publik, yang dikenal sebagai "Jendela Overton". Di sisi lain, pendukung bias ini menyatakan bahwa bias arus utama dapat mempromosikan reliabilitas dan menghambat penyebaran misinformasi dan disinformasi karena media massa terikat kode etik jurnalistik.[3]
Referensi
- ^ a b Goncalves, Jesse (2017). "Status Quo Bias in the Mainstream American Media Coverage of Senator Bernie Sanders". SUURJ: Seattle University Undergraduate Research Journal.
- ^ Morrissette, Elizabeth; McKeon, Grace; Louie, Alison; Luther, Amy; Fagen, Alexis. "Media Bias". Introduction to Media Studies (dalam bahasa Inggris). Press Books.
- ^ a b c Strydhorst, Natasha; Morales-Riech, Javier; Landrum, Asheley R. (2023-10-10). "Exploring partisans' biased and unreliable media consumption and their misinformed health-related beliefs". Harvard Kennedy School Misinformation Review (dalam bahasa American English). doi:10.37016/mr-2020-125.
- ^ a b Lin, Yu-Ru; Lazer, David; Bagrow, James (2011-01-01). "Bias in Social and Mainstream Media". Working Papers.
- ^ Stening, Tanner (2022-09-16). "Is the mainstream media biased, or are readers and listeners?". Northeastern Global News (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-12-20.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.