Kembang setaman
Kembang setaman adalah sebutan untuk komposisi atau racikan beberapa jenis bunga yang menjadi perlengkapan (ubarampe) wajib dalam berbagai ritual dan upacara adat Jawa.[1] Penggunaan kembang setaman sangat lazim ditemukan dalam siklus daur hidup masyarakat Jawa, mulai dari peringatan kelahiran (Weton), upacara pernikahan (seperti Siraman dan Midodareni), hingga tradisi ziarah makam (nyekar).
Secara harfiah, istilah setaman merujuk pada "bunga-bunga yang ditanam di taman". Ini melambangkan keanekaragaman, keindahan, dan keharuman alam semesta yang dirangkum menjadi satu kesatuan.
Jenis Bunga dan Makna Filosofis
Kembang setaman standar biasanya terdiri dari empat hingga lima jenis bunga utama. Pemilihan bunga-bunga ini sama sekali bukan kebetulan, melainkan karena setiap bunga memiliki nama dan sifat (warna/aroma) yang diasosiasikan dengan doa atau petuah (jarwa dhosok) dalam bahasa Jawa:[2][3]
- Mawar (Merah dan Putih): Kata "mawar" sering dikaitkan dengan kata mawi arsa (dengan kehendak/niat) atau tawar (menawarkan). Mawar merah melambangkan keberanian dan tempat keluarnya darah (ibu), sedangkan mawar putih melambangkan kesucian (bapak). Mawar mengajarkan agar segala tindakan dalam hidup harus didasari niat yang tulus dan hati yang tawar (ikhlas) dari segala pamrih.
- Melati (Mlathi): Bunga yang berwarna putih bersih dan berbau sangat harum. Melati diasosiasikan dengan pepatah rasa melad saka njero ati (ucapan yang berasal dari ketulusan hati). Bunga ini melambangkan kesucian, kebersihan jiwa, dan budi pekerti luhur yang harus selalu dijaga wewangiannya.
- Kenanga: Kata "kenanga" diasosiasikan dengan kata keneng-a (gapailah) atau kenang-en (kenanglah/ingatlah). Bunga ini merupakan pengingat agar manusia senantiasa mengenang jasa, petuah, dan warisan kebaikan para leluhur maupun orang tua. Kenanga juga bermakna anjuran agar seseorang selalu berusaha menggapai cita-cita yang luhur.
- Kantil (Cempaka Putih): Kata "kantil" berasal dari kata kumanthil-kanthil yang berarti selalu terbayang, melekat, atau menempel erat. Dalam konteks pernikahan (Salaki Rabi), bunga kantil melambangkan tali kasih, kesetiaan, dan cinta suami istri yang abadi dan tidak akan pernah terputus meskipun diadang berbagai rintangan.
Penggunaan dalam Upacara Adat
Dalam praktiknya, kembang setaman digunakan dalam beberapa cara yang berbeda tergantung jenis upacara yang sedang dilangsungkan:
- Dicampur dengan Air: Pada upacara Siraman pranikah atau tradisi memandikan pusaka (jamasan), kembang setaman ditaburkan ke dalam air di sebuah gentong atau tempayan. Air yang telah bercampur keharuman bunga ini digunakan untuk menyucikan raga dan membuang energi negatif.
- Sebagai Sesaji (Sajen): Dalam peringatan hari lahir (wetonan), kembang setaman sering diletakkan di dalam wadah berisi air (bokor) dan ditempatkan di sudut ruangan atau tempat yang disakralkan sebagai wujud penghormatan kepada energi alam kosmis dan doa kepada Sang Pencipta.
- Ditebarkan (Nyekar): Ditaburkan di atas pusara (makam) leluhur atau kerabat yang telah meninggal dunia sebagai bentuk penghormatan, ziarah, dan pengingat akan kematian.
Lihat pula
Referensi
Pranala luar
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.