Meriam Puntung

Senjata Meriam Puntung merupakan senjata tradisional Indonesia peninggalan dari Batak, Sumatera Utara. Meriam ini menjadi peninggalan sejarah yang berada di Istana Maimun. Dulu, senjata ini diletakkan di halaman istana yang ada di dalam sebuah bangunan rumah adat Batak Karo. Dinamakan Meriam Puntung karena senjata tersebut sudah tidak utuh lagi atau buntung.[1]

Meriam Puntung ini mempunyai kisah yang berhubungan dengan Kerajaan Haru dan juga kisah dari Putri Hijau. Senjata yang satu ini dianggap mempunyai kekuatan gaib yaitu bisa meledak meski sulit apinya tidak dinyalakan. Namun pada versi lainnya mengatakan bahwa meriam ini adalah sebuah bukti penaklukan Kesultanan Deli terhadap Kerajaan Haru.[2]

Sejarah Meriam Puntung

Dimulai dari peperangan antara Kerajaan Haru dan Kerajaan Aceh yang terjadi pada tahun 1612. Dulunya Kerajaan Haru terletak di Deli Tua. Ada tiga orang anak raja saat itu, yakni Mambang Yazid, Puteri Hijau dan Mambang Khayali atau mambang Sakti. Peperangan itu terjadi karena pinangan Raja Aceh Sultan Iskandar Muda ditolak oleh Puteri Hijau. Sultan Aceh pun mengirimkan pasukan untuk menggempur Kerajaan Haru.[3]

Untuk melindungi kakaknya, Mambang Khayali menjelma menjadi meriam dan menyerang pasukan Aceh. Namun, karena terus menerus mengeluarkan tembakan, meriam menjadi panas hingga terbelah dua. Konon katanya pecahan meriam itu terbang jauh ke Desa Suka Nalu, Kabupaten Karo. Dalam peperangan tersebut Kerajaan Haru mengalami kekalahan. Jumlah prajurit Aceh yang cukup banyak, membuat kerajaan itu tidak sanggup menandinginya.[3]

Akibat kekalahan itu, Puteri Hijau dibawa oleh Sultan Aceh. Namun, sebelum dibawa, Puteri Hijau meminta Sultan Aceh untuk menyiapkan keranda kaca, bertih dan telur. Setelah Permintaan itu dituruti Sultan Aceh pun membawa Puteri Hijau. Konon katanya, rombongan Sultan Aceh itu berlayar melalui aliran Sungai Deli. Sepanjang perjalanan, Puteri Hijau berada di dalam keranda kaca itu.[3]

Setibanya di pinggiran pantai sekitaran Aceh Utara, Puteri Hijau mengajukan permohonan keduanya. Puteri meminta Sultan Aceh memerintahkan rakyat Aceh untuk melemparkan sebutir telur dan segenggam bertih ke laut. Permintaan itu pun lagi-lagi dituruti oleh sultan. Dia lalu memerintahkan menterinya untuk menyampaikan itu kepada rakyat. Tak lama, hujan disertai angin kencang turun. Ombak pun membesar. Lalu, dari dalam laut muncullah seekor naga raksasa yang disebut merupakan jelmaan Mambang Yazid, abang Puteri Hijau. Kemunculan naga itu membuat kapal-kapal rombongan Sultan Aceh terombang-ambing hingga berpatahan. Lalu Puteri Hijau dilarikan ke dalam laut dan mereka bersemayam di perairan Pulau Berhala.[3][4]

Usai Kerajaan Haru takluk, kerjaan itu lalu diambil alih Panglima Gocah Pahlawan. Gocah merupakan salah satu panglima perang dari pusat pemerintahan Kerajaan Aceh yang dikirim oleh Sultan Iskandar Mudauntuk menjadi Aceh di wilayah Kerajaan Haru yang telah ditaklukkan. Lalu, Kerajaan Haru berubah menjadi Kesultanan Deli. Namun, selang beberapa waktu, kerajaan itu berpisah dari Kerajaan Aceh.[3]

Referensi

  1. ^ "Senjata Meriam Puntung » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-11-05.
  2. ^ "Nama Senjata Tradisional Batak Beserta Fungsinya - Gramedia". Best Seller Gramedia. 2022-04-21. Diakses tanggal 2025-11-05.
  3. ^ a b c d e Rahyuni, Finta. "Cerita Meriam Puntung, Saksi Ditolaknya Cinta Raja Aceh Oleh Putri Hijau". detiksumut. Diakses tanggal 2025-11-05.
  4. ^ "Kisah Meriam Puntung, Puteri Hijau dan Kerajaan Aceh". SINDOnews Daerah. Diakses tanggal 2025-11-05.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.