Sembagi
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Desember 2022) |
Salah satu contoh batik Sembagen | |
| Tempat asal | Jawa (Indonesia) |
|---|---|
| Pemanufaktur | Cirebon dan Jawa |
| Batik | |
|---|---|
| Negara | Indonesia |
| Domain | Keahlian tradisional, tradisi dan ekspresi lisan, praktik sosial, ritual dan acara perayaan |
| Referensi | 170 |
| Kawasan | Asia dan Pasifik |
| Sejarah Inskripsi | |
| Inskripsi | 2009 (sesi ke-4th) |
| Daftar | Daftar Representatif |
Sembagi (ꦱꦼꦩ꧀ꦧꦒꦶ) atau Sembagen (ꦱꦼꦩ꧀ꦧꦒꦺꦤ꧀) adalah sebuah tradisi batik dan pertenunan khas etnis Cirebon dan Jawa yang berasal dari pulau Jawa, lebih tepatnya dari ketiga provinsi Jawa Barat (Cirebon), Jawa Tengah (Rembang dan Surakarta), maupun Yogyakarta di Indonesia.
Dalam sejarah perkembangannya, tradisi batik dan tenun Sembagi di Jawa Barat yang dipopulerkan oleh etnis Cirebon turut disebarkan oleh etnis Lampung Cikoneng hingga ke wilayah Sumatra bagian selatan (Lampung), yang mana kemudian berasimilasi dalam kebudayaan wastra khas Lampung.
Terminologi
Etimologi
Secara etimologinya, kedua kata Sembagi (ꦱꦼꦩ꧀ꦧꦒꦶ) maupun Sembagen (ꦱꦼꦩ꧀ꦧꦒꦺꦤ꧀) berasal dari bahasa Jawa.[1] Istilah ini paling awal dapat ditelusuri dalam manuskrip Jawa abad ke-18 Babad Tanah Jawi (secara spesifik dalam Serat Sri Nata bagian Pupuh Mijil), yang menjelaskan bahwa pada zaman tersebut masyarakat Jawa gemar berbusana berbahan batik maupun tenunan Sembagi bersamaan dengan tenunan Cindhe.
Sosiolinguistik
Dalam pertuturannya, istilah Sembagi lebih dominan digunakan oleh masyarakat etnis Jawa di Jawa Tengah dan Yogyakarta, sedangkan istilah Sembagen lebih kerap digunakan oleh masyarakat beretnis Cirebon.
Fungsi dan kedudukan
Sembagi umumnya digunakan dalam tradisi Jawa sebagai kain basahan yang dipakai waktu upacara mandi pengantin putri. Selain itu, Sembagi juga kerap digunakan sebagai bahan Surjan (busana laki-laki khas Jawa) yang biasanya dikenakan oleh kaum bangsawan di areal keraton Ngayogyakarta.[2]
Referensi
- ^ "Sembagi". kbbi.kemendikdasmen.go.id. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses tanggal 25 April 2021.
- ^ Menjaga dan Melestarikan Budaya Jawa [Preserving and Perpetuating Javanese Culture] (dalam bahasa Bahasa Indonesia and Jawa), Kulon Progo: Dinas Koperasi UKM Kabupaten Kulon Progo, 2020
Catatan
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.