Al-Ashoghir


Al-Ashoghir (bahasa Arab: الأصاغر, translit. al-Aṣāghir) adalah istilah dalam literatur Islam yang secara harfiah berarti "orang-orang kecil" atau "yang muda". Dalam konteks tertentu di kalangan ulama salaf, istilah ini digunakan untuk merujuk kepada para penuntut ilmu atau tokoh-tokoh yang belum matang keilmuannya, tetapi berani berbicara dan berfatwa dalam perkara agama tanpa landasan yang kokoh.[1][2]

Istilah ini tidak merujuk semata pada usia muda, melainkan menggambarkan kurangnya kematangan dalam ilmu, ketidaksungguhan dalam ittibā‘ (mengikuti) pemahaman salafiyah, serta potensi penyimpangan dalam agama. Al-Ashoghir sering kali menggambarkan ahlul bidʻah ( bahasa Arab: أهل البدعة),[3] dan para ulama memperingatkan agar tidak menjadikan mereka sebagai rujukan dalam perkara agama, karena hal itu dapat menjadi sumber kesesatan.[1][2]

Dalil dan pendapat Ulama

Dari Abu Hurairah Nabi Islam Muhammad bersabda,

"Akan ada di akhir zaman dari umatku, orang-orang yang membawakan hadits yang tidak pernah kalian dengar sebelumnya, juga belum pernah didengar oleh ayah-ayah dan kakek moyang kalian. Maka waspadailah, waspadailah!”

— (HR Muslim No.7 dalam Muqaddimah-nya)

Dari Abu Umayyah al-Jumahi, Nabi Islam Muhammad bersabda:

"Di antara tanda-tanda kiamat adalah orang-orang menuntut ilmu dari al-Ashoghir."

— (HR. Ibnul Mubārak dalam Az-Zuhd \[2/316], dihasankan oleh Al-Albānī dalam Silsilah Ash-Shahīhah, hlm. 695)

Ibnul Mubārak رحمه الله, ketika meriwayatkan hadits ini, menambahkan penjelasan:

"Al-Ashoghir adalah ahlul bidʻah."

Penegasan ini menunjukkan bahwa bahayanya bukan pada usia, tapi pada penyimpangan akidah dan manhaj. Mengambil ilmu dari mereka merupakan salah satu tanda penyimpangan di akhir zaman.

Syaikh ‘Abdullāh al-Bukhārī hafizhahullāh menjelaskan:

“Al-Aṣāghir adalah ahlul bid‘ah dan ahli hawa nafsu. Bukan yang dimaksud orang yang kecil usianya, tapi yang tidak berada di atas jalan lurus.”

(Syarh al-Ibānah ash-Shughrā)

Ibnu Sirīn رحمه الله juga berkata:

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

— (Muqaddimah Ṣaḥīḥ Muslim)

Lihat Pula

Rujukan

  1. ^ a b S.Kom, Yulian Purnama (2019-06-17). "Selektif Dalam Menuntut Ilmu Agama". Muslim.or.id. Diakses tanggal 2025-05-29.
  2. ^ a b Jabali, Fuad (1970-01-01). "Irsā al-Usus al-'Ilmīyah li al-Dirāsat al-Islāmīyah: al-Taṭawwur al-Akādīmī li al-Jāmi'at al-Islāmīyah al-Ḥukūmīyah wa al-Ma'āhid al-Islāmīyah al-Ḥukūmīyah al-'Ulyā bi Indūnīsīyā". Studia Islamika. 9 (2). doi:10.15408/sdi.v9i2.668. ISSN 2355-6145.
  3. ^ Nurhadi, Nurhadi (2018-09-07). "BID'AH-BID'AH DALAM EKONOMI ISLAM (Paradigma Bid'ah Ulama)". Jurnal Khazanah Ulum Ekonomi Syariah (JKUES). 2 (2): 56–79. doi:10.56184/jkues.v2i2.56. ISSN 2579-3551.

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.