Angina Ludwig
Angina ludwig merupakan infeksi bakteri langka yang umumnya bermula dari rongga mulut, khususnya akibat infeksi pada gigi atau jaringan di sekitarnya. Kondisi ini termasuk dalam kategori selulitis yang dapat menyebar secara cepat ke jaringan leher bagian bawah, sehingga berpotensi mengganggu saluran pernapasan. Infeksi selulitis dapat berkembang cepat dan menyerang dasar mulut sehingga menimbulkan pembengkakan akibat yang dapat menyebar ke lidah dan tenggorokan, sehingga dapat menyebabkan gangguan pernapasan. Infeksi bakteri ini bisa muncul setelah cedera di mulut, tetapi umumnya disebabkan oleh gigi yang mengalami abses (infeksi). Angina ludwig merupakan kondisi darurat medis yang memerlukan penanganan segera.[1]
Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat ke jaringan sekitar sehingga menyebabkan komplikasi berbahaya, seperti sumbatan saluran napas, infeksi paru-paru akibat aspirasi, serta kerusakan pada pembuluh darah besar di leher. Karena itu, deteksi dini dan penanganan segera sangat penting. Penanganan biasanya meliputi perlindungan saluran napas, pemberian antibiotik, dan prosedur pembedahan untuk mengeluarkan nanah jika infeksi sudah menyebar luas.Tanpa perawatan yang tepat, infeksi ini dapat berakibat fatal. Namun, deteksi dini dan penanganan medis yang cepat dapat menyembuhkan infeksi ini secara efektif.[2]
Gejala
Gejala dapat muncul secara tiba-tiba yang pemunculannya meliputi kesulitan bernapas, kesulitan menelan, air liur berlebihan, demam atau menggigil, nyeri atau pembengkakan pada rahang, dan pembengkakan atau perubahan warna pada leher. Selain itu, lidah yang tampak menonjol atau membengkak serta nyeri saat disentuh, bicara cadel, dan sakit gigi juga dapat menjadi tanda dari kondisi ini. Angina ludwig bukan penyakit menular sehingga kondisi ini tidak dapat menular dari satu orang ke orang lain.[1]
Penyebab
Penyebab utama angina ludwig adalah infeksi pada gigi geraham bawah yang bernanah. Lebih dari 90% kasus berawal dari kondisi ini. Penyebab lainnya bisa berupa luka di dalam mulut, terutama di bagian belakang rahang bawah, komplikasi setelah operasi mulut, atau peradangan gusi di sekitar gigi bungsu (perikoronitis). Infeksi ini biasanya disebabkan oleh bakteri seperti Streptococcus, Staphylococcus, dan Bacteroides. Bakteri-bakteri tersebut dapat menyebar dengan cepat ke jaringan lunak di dasar mulut dan menyebabkan pembengkakan serius. Selain itu, beberapa faktor risiko berikut meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami angina ludwig. Kondisi seperti sistem kekebalan tubuh yang lemah, sering mengonsumsi alkohol, gigi berlubang, diabetes, kekurangan gizi, kanker mulut, serta kebersihan mulut yang buruk, semuanya dapat mempermudah bakteri penyebab infeksi untuk berkembang dan menyebar di area dasar mulut. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mulut dan menjaga kesehatan tubuh tetap prima sangat penting untuk mencegah terjadinya penyakit ini.[1]
Diagnosis dan Pemeriksaan
Angina ludwig biasanya didiagnosis oleh tenaga medis melalui pemeriksaan fisik. Umumnya pasien memiliki riwayat penyakit pencabutan gigi, kebersihan mulut yang buruk, dan sakit gigi. [3] Selain pemeriksaan fisik, beberapa tes tambahan dapat dilakukan, antara lain:
- Tes kultur bakteri: Tes ini bertujuan untuk mengetahui apakah infeksi sudah menyebar ke dalam aliran darah dengan mengambil sampel darah pasien.
- CT scan: Pemeriksaan pencitraan ini membantu dokter menilai tingkat keparahan infeksi dan mendeteksi adanya abses. Tes ini biasanya dilakukan setelah masalah pernapasan sudah ditangani.[1]CT scan adalah metode pencitraan yang paling umum digunakan dalam menilai pasien dengan angina Ludwig atau phlegmon dasar mulut. Computed tomography (CT) leher dengan kontras intravena (IV) adalah modalitas pencitraan yang dipilih, karena dapat membantu dalam menentukan lokasi dan luasnya infeksi.[3]
- Ultrasonografi (USG): Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi adanya pembekuan darah atau kantung infeksi serta menentukan apakah infeksi telah menyebar ke tulang.[1]
Pengobatan dan Perawatan
Tujuan utama pengobatan angina ludwig untuk menjaga agar saluran pernapasan tetap terbuka, karena penyumbatan saluran napas bisa menyebabkan kematian. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan selama proses pengobatan sesuai dengan tingkah keparahan, yaitu:
- Penanganan Saluran Pernapasan, pasien yang kekurangan oksigen harus diberi oksigen tambahan. Karena pembengkakan di leher membuat penggunaan masker oksigen sulit, penting untuk memberi oksigen terlebih dahulu dengan cara lain. Pembengkakan lidah dan rahang yang kaku bisa menyulitkan pemasangan alat bantu napas lewat mulut. Cara terbaik untuk memasang selang pernapasan adalah lewat hidung dengan alat khusus, tetapi jika tidak memungkinkan, dokter harus siap melakukan tindakan bedah darurat seperti krikotirotom atau trakeostomi. Intubasi sebaiknya dilakukan saat pasien masih sadar dan duduk. Jika tindakan ini tidak berhasil, operasi jalan napas bisa menjadi pilihan terakhir. Penanganan saluran napas harus dilakukan sebelum muncul tanda-tanda serius seperti napas berbunyi keras atau kulit kebiruan.
- Antibiotik, setelah saluran napas aman, pemberian antibiotik melalui infus menjadi pengobatan utama. Antibiotik harus efektif melawan berbagai jenis bakteri, baik yang membutuhkan oksigen maupun yang tidak, termasuk bakteri normal di mulut. Antibiotik yang sering dipakai adalah ampisilin-sulbaktam atau klindamisin. Untuk pasien dengan sistem kekebalan lemah, antibiotik yang lebih kuat dan luas cakupannya diperlukan, seperti sefepim, meropenem, atau piperasilin-tazobaktam.
- Steroid, diberikan lewat infus dan semprotan adrenalin dapat membantu mengurangi pembengkakan dan peradangan, sehingga intubasi jadi lebih mudah dan antibiotik lebih efektif. Deksametason adalah steroid yang paling sering digunakan. Namun, penggunaan steroid masih perlu penelitian lebih lanjut dan disesuaikan dengan kondisi pasien.
- Operasi Drainase, jika infeksi sudah membentuk abses, operasi untuk membuka dan mengeluarkan nanah di sekitar leher bisa membantu memperbaiki saluran napas. Operasi ini dilakukan dengan membuat sayatan di bawah rahang dan menggeser beberapa otot serta kelenjar agar nanah bisa keluar. Tindakan ini dapat mempercepat pemulihan dan mengurangi waktu perawatan di rumah sakit. Operasi biasanya dilakukan jika antibiotik tidak cukup efektif atau abses terlihat jelas pada pemeriksaan.[2]
Referensi
- ^ a b c d e "Ludwig Angina: A Life-Threatening Emergency". Cleveland Clinic (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-17.
- ^ a b An, Jason; AL Ghabra, Yasser; Singhal, Mayank (2025). Ludwig Angina. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. PMID 29493976.
- ^ a b unairnews (2023-01-29). "Abses Dasar Mulut". Universitas Airlangga Official Website. Diakses tanggal 2025-05-17.
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.