Bank INA
Jenis perusahaan | Perseroan terbatas publik, anak usaha |
|---|---|
| Kode emiten | BEI: BINA |
| Industri | Jasa keuangan |
| Didirikan | 9 Februari 1990 |
| Kantor pusat | Ariobimo Sentral Mezzanine Floor, Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-2 Kav. 5 Jakarta, Indonesia |
Wilayah operasi | Indonesia |
Tokoh kunci | Henry Koenaifi (Direktur Utama) Inawaty Handojo (Komisaris Utama)[1] |
| Produk | |
| Merek | Binadigital |
| Pendapatan | |
| Total aset | |
| Total ekuitas | |
| Pemilik | Salim Group |
Karyawan | 1.235 (2025)[1] |
| Induk | PT Indolife Pensiontama (22,83%) PT Samudra Biru (18,16%) PT Gaya Hidup Masa Kini (11,84%) |
| Situs web | www.bankina.co.id |
PT Bank Ina Perdana Tbk (berbisnis dengan nama Bank INA) adalah perusahaan perbankan swasta devisa yang berdiri sejak 1990 dan berkantor pusat di Jakarta. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga akhir tahun 2025, bank menengah beraset Rp 31 triliun ini memiliki 21 kantor cabang, 31 kantor cabang pembantu dan 75 mesin ATM/CRM yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.[1]
Sejarah
Awal beroperasi
Bank yang didirikan pada 9 Februari 1990 ini awalnya bernama PT Bank Ina yang kemudian di tanggal 22 Mei 1990 diganti menjadi PT Bank Ina Perdana. Walaupun demikian, namanya tetap disebut Bank INA (sebelumnya Ina Bank).[2] Bank INA resmi beroperasi sebagai bank umum non-devisa sejak 3 Juni 1991.[1] Kepemilikan bank ini sempat berganti-ganti, dengan tercatat pernah dimiliki oleh penerbit harian Suara Pembaruan (PT Media Interaksi Utama), Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya, ditambah beberapa individu.[3] Belakangan kepemilikan Bank INA dikuasai oleh Hadi Surya (pebisnis pelayaran PT Berlian Laju Tanker Tbk)[4] dan keluarga Uripto Widjaja (Oki Widjaja, pemilik perusahaan elektronik Galva).[5] Keduanya merupakan pemegang saham yang sudah ada sejak awal bank ini beroperasi.[3]
Dalam perjalanannya, Bank INA mulanya lebih dikenal sebagai bank berskala kecil. Pada tahun 2000, bank ini memiliki 7 kantor cabang dan kas yang mempekerjakan 94 orang,[6] yang belakangan naik menjadi 20 kantor per Februari 2010. Beberapa kantor tersebut berlokasi di luar Jabodetabek, seperti Semarang dan Surakarta[1] yang diantaranya ada yang sudah dilengkapi mesin ATM.[7] Sempat harus dihadapkan kebutuhan permodalan akibat penerapan Arsitektur Perbankan Indonesia,[8] di bulan September 2010 modal intinya sudah mencapai Rp 128 miliar dan aset yang dihimpun sebesar Rp 921,98 miliar.[9] Target bisnis Bank INA ada di bidang pendidikan, pertanian, pelayaran, elektronik, dll, dan secara umum usaha kecil menengah.[10]
Pergantian kepemilikan
Cakupan bisnis yang kecil tersebut tidak menyurutkan minat investor strategis pada Bank INA. Peminat pertama adalah Affin Bank, sebuah bank milik institusi pertahanan Malaysia lewat rencana akuisisi senilai Rp 390 miliar. Dalam proposal yang muncul pada Agustus 2010 ini,[11] Affin akan membeli secara bertahap saham milik Hadi Surya (PT Kharisma Prima Karya)[9] sebelum akhirnya menggenggam 80% saham Bank INA. Rencananya bisnis bank akan diubah dari bank konvensional menjadi bank syariah.[12] Sayang, pada akhir 2011, Affin membatalkan rencana akuisisi ini karena kebijakan pembatasan pembelian bank oleh investor asing yang diterbitkan Bank Indonesia di tahun tersebut.[13]
Pada tanggal 16 Januari 2014, Bank INA melakukan pencatatan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan melepas 25% saham[14] seharga Rp 240/lembar.[3] Lewat proses yang diharapkan bisa membantu bank ini "naik kelas" tersebut, modal inti bank pun bertambah menjadi Rp 285 miliar.[5] Tidak lama setelah IPO, pada 26 September 2014, Hadi Surya (lewat PT Kharisma Prima Karya dan PT Aji Lebur Seketi) melepaskan sejumlah kepemilikannya kepada PT Philadel Terra Lestari milik investor Pieter Tanuri. Lewat pembelian 20% saham tersebut, sejak 16 September 2015 Pieter Tanuri ditetapkan sebagai pemegang saham pengendali baru Bank INA bersama Oki Widjaja.[15] Bank INA selanjutnya disinergikan bersama bisnis Pieter lainnya, seperti kerjasama dengan klub sepak bola Bali United.[16]
Akuisisi oleh Anthony Salim
Masuknya Pieter Tanuri ke BINA kemudian diwarnai desas-desus yang menyatakan dirinya disponsori oleh Grup Salim. PT Philadel Terra Lestari pun disebutkan merupakan kongsi Anthony Salim dan Pieter, dimana selanjutnya Bank INA direncanakan akan mengembangkan model branchless banking bersama Indomaret.[17] Namun, masuknya konglomerat bekas pemilik Bank Central Asia tersebut secara langsung baru terjadi di bulan Januari 2017, ketika muncul nama NS Financials Fund dan NS Asean Financial Fund yang masing-masing memegang 10,58% dan 18,44% saham Bank INA.[18] Kedua entitas itu sebenarnya adalah instrumen investasi yang dimiliki oleh Nikko Sekuritas Indonesia, perusahaan efek yang saat itu kepemilikannya 50% dikuasai Salim.[19] Kepemilikan Salim meningkat dalam rights issue yang diadakan pada awal 2017, lewat masuknya pemegang saham baru dari PT Samudra Biru, PT Gaya Hidup Masa Kini dan perusahaan asuransi jiwa milik Salim Group, PT Indolife Pensiontama. Indolife menjadi pemegang saham terbesar, sebanyak 22,47% pasca rights issue tersebut.[20]
Selanjutnya, Bank INA pada 2019-2020 mengalami pergantian pemegang saham pengendali. Mulanya, di tahun 2019, nama Oki Widjaja menghilang, digantikan Anthony Salim dan pemegang saham eksisting Pieter Tanuri sejak 14 Januari 2020.[21] Tidak lama kemudian, pada 18 Maret 2020, OJK mengesahkan permohonan pengunduran diri Pieter Tanuri sebagai ultimate shareholder dari Bank INA. Perubahan tersebut mengukuhkan posisi Anthony Salim sebagai pengendali perusahaan sampai saat ini.Kesalahan pengutipan: </ref> yang menutup hilang untuk tanda <ref> Tidak lagi menjadi pengendali, Pieter Tanuri (Philadel) selanjutnya melepas sahamnya di Bank INA secara bertahap,[22] dan kini tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham utama.
Di bawah pengendalian baru, Bank INA telah menjadi bank devisa pada Juli 2020.[23] Tidak hanya meningkatkan status, Bank INA juga memulai proses digitalisasi bisnisnya sejak 2018. Mereka memperkenalkan e-statement, SMS blast, mesin EDC, dan pemutakhiran aplikasi mobile banking INA Mobile dan peluncuran "bank digital" Binadigital. Pemanfaatan ekosistem grup dilakukan lewat pembukaan beberapa kantor cabang di gerai perkulakan Indogrosir dan kemudahan setor tarik tunai Binadigital lewat Indomaret. Sejak 2023, Bank INA memperluas layanannya ke wealth management, seperti kerjasama dengan Sucorinvest Asset Management dan Sequis Aset Manajemen, layanan jual-beli emas di Binadigital hingga status bank kustodian dan bank persepsi.[1]
Manajemen
- Dewan Komisaris
- Komisaris Utama Independen: Inawaty Handojo
- Komisaris Independen: Yohanes Santoso Wibowo
- Komisaris: Josavia Rachman Ichwan
- Dewan Direksi
- Direktur Utama: Henry Koenaifi
- Wakil Direktur Utama: Yulius Purnama Junaedi
- Direktur Manajemen Risiko dan Kepatuhan: Adhiputra Tanoyo
- Direktur Keuangan: Kiung Hui Ngo
- Direktur Bisnis Retail dan Jaringan: Yandy Ramadhani
- Direktur Komersial Banking: Dewi K. Prodjohartono
Produk dan layanan

- Tabina Perdana
- Tabina Bisnis
- Tabina Simpel
- Tabungan Pinter
- TabunganKu
- Deposito Berjangka
- Giro
- Kredit Modal Kerja
- Kredit Modal Kerja INDOGROSIR
- Kredit Tanpa Agunan
- Kredit Multi Guna
- Kredit Pemilikan Rumah
- Kredit Kendaraan Bermotor
- INA Mobile Banking
- INA Internet Banking
- INA Internet Banking Business
- Pembayaran Rekening Listrik
- Pembayaran Rekening Telepon
- Layanan Payroll
- ATM (tergabung di jaringan ATM Bersama & PRIMA)
- Binadigital (layanan perbankan digital)
Referensi
- ^ a b c d e f g h i j "Laporan Tahunan 2025" (PDF). PT Bank INA Perdana Tbk. Diakses tanggal 21 Januari 2022.
- ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 3,Masalah 1-12
- ^ a b c Prospektus IPO BINA 2014
- ^ Laporan keuangan telat, pemilik Bank Ina
- ^ a b Bank Ina Go Public, Lepas 25% Saham
- ^ Perbankan Indonesia pasca krisis: analisis, prospek, dan profil
- ^ SEKILAS BANK INA
- ^ Tempo
- ^ a b Akuisisi Affin Bank bukan terkait masalah permodalan
- ^ Indonesia Bank Directory
- ^ Affin Bank Malaysia Beli Bank Ina Perdana Rp 390 Miliar
- ^ Affin Holding Lanjutkan Konversi Bank Ina Perdana Indonesia
- ^ Affin batal akuisisi Bank Ina Perdana
- ^ Modal inti Bank Ina naik jadi Rp 285 miliar
- ^ Philadel bisa pegang kendali Bank Ina
- ^ CEO Bali United Buka Tabungan Rp 1,8 Juta di Bank Ina Perdana
- ^ Grup Salim akan menguasai 30% saham Bank Ina
- ^ Resmi Dicaplok Grup Salim, Begini Rencana Bisnis Bank Ina
- ^ Grup Salim kuasai 29,02% saham Bank Ina Perdana
- ^ Grup Salim perkuat kepemilikan di Bank Ina Perdana
- ^ Salim Group Resmi Menjadi Pemegang Saham Pengendali Bank Ina
- ^ Perusahaan Pieter Tanuri Kembali Lepas 1,28 Juta Saham Bank Ina (BINA)
- ^ Lapkeu Bank Ina 2020, telah menjadi bank devisa sejak juli 2020
Pranala luar
- (Indonesia) Situs web resmi
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.