Candi Wayang
Candi Wayang adalah salah satu situs arkeologi di kawasan lereng Gunung Penanggungan (Gunung Pawitra). Reruntuhan candi peninggalan dari masa Majapahit ini secara administratif berada di wilayah bukit Gadjah Mungkur, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, Propinsi Jawa Timur. Situs candi ini terkenal karena reliefnya yang bergaya seperti tokoh wayang, sehingga oleh masyarakat diberi nama candi “Wayang". Bentuk bangunannya sederhana, terbuat dari batu andesit, dan berada pada teras kecil yang menghadap lembah. Letaknya yang cukup terpencil membuat pengunjung hanya dapat mencapainya melalui jalur pendakian, sehingga suasananya tenang dan sakral, 7°36′20″S 112°37′18″E / 7.605485°S 112.621598°E. [1]
Deskripsi
Candi Wayang ini terletak pada ketinggian 1.007 mdpl (meter dari permukaan laut) dengan ukuran 6,20 meter x 5,50 meter[2], berlokasi pada lereng utara Gadjah Mungkur, salah satu bukit yang mengelilingi Gunung Penanggungan. Relief pada Candi Wayang menampilkan figur mirip manusia dan dewa dalam pose khas pewayangan, namun tidak sepenuhnya mengikuti gaya wayang kulit, karena ukirannya sudah mulai memudar. Para ahli menduga relief ini menggambarkan adegan dari kisah-kisah epos Hindu, seperti cerita Panji, Ramayana atau Mahabharata, yang pada masa Majapahit banyak diadaptasi dalam bentuk seni lokal. Pada salah satu ambang pintu gapura di kompleks candi yang lebih besar terdapat pahatan angka tahun 1308 Saka atau 1386 Masehi[1]. Fungsi candi ini diduga berkaitan dengan tempat pertapaan, mengingat Gunung Penanggungan dikenal sebagai pusat mandala dan tempat para resi memperdalam tapa-brata.
Dari delapan trail pendakian di wilayah Gunung Penanggungan, trail nomer 5 dengan jarak 3,4 kilometer dan waktu tempuh sekitar tiga sampai empat jam menghubungan wilayah Telogo - Candi Kerajaan - Candi Dharmawangsa - Candi Gajah - Candi Wayang, dan kembali lagi ke daerah Telogo. Candi Wayang yang menghadap ke timur ini merupakan bagian dari puluhan situs lain di lereng Penanggungan, menunjukkan kompleksitas keagamaan pada masa akhir kerajaan Majapahit. Hingga kini, keberadaan candi tersebut menjadi bukti penting hubungan antara tradisi Hindu-Jawa, seni relief, dan spiritualitas gunung dalam kebudayaan Jawa Timur.[3]
Referensi
- ^ a b "RP Penanggungan" (PDF). repositori.kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 20 Nov 2025.
- ^ "Candi Wayang di Gunung Gajah Mungkur, Pesona Seni dan Sejarah Mojokerto". mojokerto.disway.id. Diakses tanggal 20 Nov 2025.
- ^ "Menyusuri 8 Jalur Eksotis Gunung Penanggungan". tempo.co. Diakses tanggal 20 Nov 2025.
Lihat pula
Pranala luar
- Candi wayang di lereng gunung Penanggungan
- Candi Kerajaan atau Wayang, radarmajapahit.jawapos.com
- Trekking to Candi Wayang at Penanggungan
Content Disclaimer
Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.
- The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
- There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
- It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
- Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
- Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.