Bahasa Osing

Bahasa Osing
BPS: 0090 2
basa Using
ꦧꦱꦲꦸꦱꦶꦁ
باسا اوسيڠ
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
EtnisOsing
Penutur
(300.000 per 2000)[3]
Perincian data penutur

Jumlah penutur beserta (jika ada) metode pengambilan, jenis, tanggal, dan tempat.[4]

  • 300.000 (2000)
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Kode bahasa
ISO 639-3osi
Glottologosin1237[5]
IETFosi
BPS (2010)0090 2
Informasi penggunaan templat
Status pemertahanan
C10
Kategori 10
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa telah punah (Extinct)
C9
Kategori 9
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa sudah ditinggalkan dan hanya segelintir yang menuturkannya (Dormant)
C8b
Kategori 8b
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa hampir punah (Nearly extinct)
C8a
Kategori 8a
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa sangat sedikit dituturkan dan terancam berat untuk punah (Moribund)
C7
Kategori 7
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mulai mengalami penurunan ataupun penutur mulai berpindah menggunakan bahasa lain (Shifting)
C6b
Kategori 6b
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mulai terancam (Threatened)
C6a
Kategori 6a
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa masih cukup banyak dituturkan (Vigorous)
C5
Kategori 5
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa mengalami pertumbuhan populasi penutur (Developing)
C4
Kategori 4
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa digunakan dalam institusi pendidikan (Educational)
C3
Kategori 3
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa digunakan cukup luas (Wider Communication)
C2
Kategori 2
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan di berbagai wilayah (Provincial)
C1
Kategori 1
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa nasional maupun bahasa resmi dari suatu negara (National)
C0
Kategori 0
Kategori ini menunjukkan bahwa bahasa merupakan bahasa pengantar internasional ataupun bahasa yang digunakan pada kancah antar bangsa (International)
10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
EGIDS SIL EthnologueC6a Vigorous
Bahasa Osing dikategorikan sebagai C6a Vigorous menurut SIL Ethnologue, artinya bahasa ini masih dituturkan dan digunakan oleh sebagian wilayah
Referensi: [6]

Lokasi penuturan
Lokasi penuturan Bahasa Osing
Peta
Peta yang menunjukkan perkiraan penuturan bahasa Osing yang dituturkan di Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi, serta kabupaten yang berdekatan.
Unduh garis tepi peta ini
Koordinat: 8°15′S 114°18′E / 8.250°S 114.300°E / -8.250; 114.300 Sunting di Wikidata
Catatan
 Portal Bahasa
L • B • PW   
Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat

Bahasa Osing (basa using; Hanacaraka: ꦨꦴꦰꦴꦈꦱꦶꦁ; Pegon: باسه اوسيڠ) adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan oleh suku Osing di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Glottolog mengkategorikan Osing sebagai varian dari Bahasa Jawa Modern walaupun bukan termasuk dari sub-varian Global. Perbedaan yang paling terlihat antara bahasa Osing dengan dialek Jawa lainnya, dapat dilihat dari kosakata lokal dan adanya serapan dari bahasa Bali, seperti kata osing yang berasal dari bahasa Bali tusing yang artinya 'tidak' , berbeda halnya dengan masyarakat Jawa (Tengger, Mataram, Banyumasan) yang menggunakan kata Ora/Orak. Bahasa Osing juga menggunakan diftongisasi (perubahan vokal [i] menjadi [ai] dan vokal [u] menjadi [au]) yang tidak dapat ditemui di Bahasa Jawa lainya. Penutur bahasa Osing terutama dapat ditemukan di Kabupaten Banyuwangi, tetapi terdapat juga di sebagian kecil Kabupaten Jember, seperti di Kecamatan Wuluhan dan Kecamatan Panti.[2]

Di Desa Serut, salah satu desa di Kecamatan Panti, sekitar 50 tahun yang lalu (pada tahun 1970-an) bahasa ini masih merupakan bahasa mayoritas di sana, hingga kemudian tergerus penggunaannya oleh bahasa Madura dan dialek bahasa Jawa lainnya.[1] Bahasa Osing juga pernah dituturkan hingga ke Situbondo dan Bondowoso, misalnya pada tahun 1930-an. Pada paruh awal abad ke-20, keberadaan dan persebaran penutur bahasa Osing lebih luas dari saat ini, meliputi Situbondo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi, dengan Banyuwangi menjadi daerah asal suku Osing dengan persentase terbesar.[butuh rujukan]


Ciri khas

Bahasa Osing merupakan dialek konservatif bahasa Jawa yang masih menggunakan kata-kata kuno bersama dengan dialek Tegal, dialek Indramayu, dialek Banyumasan, dan dialek Tengger. Untuk pengucapan konsonan akhir K dalam dialek Osing diucapkan secara Tegas contohnya kata apiK, manuK, enteK mirip seperti Banyumasan / Tegal, yang mana hal ini tidak berlaku di Bahasa Jawa Tengger & Arekan yang cenderung mengucapkan konsonan akhir K secara melunak menjadi api’, manu’, ente’.

Walaupun demikian Bahasa Osing menggunakan Vokal [o] bukan [a], tidak seperti pada dialek konservatif lainnya, misalnya kata ana (ada) dibaca ono bukan ana. Hal ini diduga karena pengaruh serangan dari Mataram Islam terhadap Kerajaan Blambangan.[7] Selain itu Bahasa Osing juga mempunyai perbedaan kosakata yang cukup banyak dengan dialek dialek tersebut, Bahasa Osing juga mempunyai Diftong yang tidak ditemukan di dialek Bahasa Jawa manapun contohnya seperti kata Banyuwangi menjadi Byanyuwangai, Untu menjadi Untau.


Fonologi

Bahasa Osing mempunyai keunikan dalam sistem pelafalannya, antara lain:

  • Adanya diftong [ai] untuk vokal [i]: semua leksikon berakhiran i pada Bahasa Osing selalu terlafal sebagai/ai/. Seperti misalnya geni /gəni/ 'api' dilafalkan genai, bengi bəŋːi 'malam' dilafalkan bengai, gedigi /gədigi/ 'begini' dilafalkan gedigai.
  • Adanya diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran u hampir selalu dilafalkan sebagai /a/. Seperti gedigu /gədigu/ 'begitu' dilafalkan gedigau, asu 'anjing' dilafalkan asau, dan awu 'itu' dilafalkan awau.
  • Pelafalan konsonan [k] akhiran untuk konsonan [ʔ] selalu dilafalkan sebagai // (k nirlepas), antara lain apik /apiʔ/ 'bagus' dilafalkan /apik̚/, manuk /manuʔ/~manoʔ/ 'burung' dilafalkan /manuk̚/~/manok̚/, dan seterusnya.
  • Konsonan hentian glotis [ʔ] seperti secara ortografi dilambangkan dengan tanda petik tunggal seperti piro' 'berapa', kiwo' 'kiri', dan seterusnya.
  • Palatalisasi konsonan yang dilambangkan dengan imbuhan -y-. Dalam bahasa Osing, kerap muncul pada leksikon yang mengandung [ba], [ga], [da], dan [wa]. Contoh pada bahasa Osing Seperti kata barong /baroŋ/ 'barong' dilafalkan byarong /bʲaroŋ/, uwak (tante/om) dilafalkan uwyak'"/uwʲak̚/, embah /əmbah/ 'kakek'/'nenek' dilafalkan embyah /əmbʲah/, dan dhawuk /ɖawuʔ/~/ɖawoʔ/ dauk dilafalkan dhyawuk /ɖʲawuk̚/~/ɖʲawok̚/. Adapun kata "Banyuwangi" /baɳːuwaŋːi/ pengucapannya gabungan antara diftong [ai] dan juga palatalisasi [j], sehingga pelafalannya ialah "Byanyuwangai" /bʲaɳːuwaŋːi/~/biaɳːuwaŋːi/.

Tata bahasa

Di kalangan masyarakat Osing, dikenal dua gaya bahasa yang digunakan di situasi yang berbeda. Yakni Cara Osing dan Cara Besiki. Cara Osing adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Yang menjadi pembeda hanyalah intonasi serta pronomina yang disesuaikan dengan kedudukan lawan bicara, misalnya:

  • Siro wis madhyang? = kau sudah makan?
  • Riko wis madhyang? = kamu sudah makan?
  • Ndiko wis madhyang? = anda sudah makan?

Tingkatan pronomina

  • Hiro/Iro = digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
  • Siro = digunakan/lawan bicara untuk yang selevel (umur)
  • Riko = digunakan/lawan bicara untuk yang di atas kita (umur)
  • Ndiko = digunakan/lawan bicara untuk orang tua dan tokoh yang dihormati

Sedangkan Cara Besiki adalah bentuk yang dianggap sebagai bentuk wicara ideal awalnya hanya dipergunakan untuk kondisi-kondisi khusus/sakral seperti ritual / upacara adat, akan tetapi saat ini juga mulai digunakan kepada orang yang lebih tua yang lebih mirip Krama Inggil, selain itu juga digunakan untuk acara pertemuan menjelang perkawinan.

Imbuhan -y-

Beberapa dari kata dalam bahasa Osing masih memiliki imbuhan -y- (Templat:Ipa blink yang terletak di tengah-tengah kata, misalnya seperti "ngumbyah", "kidyang" yang berbeda dengan pelafalan dalam bahasa Jawa baku, yakni /ŋum.bah/ dan /ki.daŋ/.[8]

Selain itu, inventoris kata dalam bahasa Osing yang berbeda dari bahasa Jawa baku yang lain adalah sebagai berikut:[8]

  • osing/sing (Terjemahan: "Tidak"; Bahasa Jawa Baku: ora)
  • paran (Terjemahan: "apa"; Bahasa Jawa Baku: : åpå)
  • kadhung (Terjemahan: "Jikalau"; Bahasa Jawa Baku: :yèn,lèk,nèk)

Kosakata

Beberapa kosakata Bahasa Using merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Pertengahan awal yang memiliki kekunoan, menurut penelitian oleh Prof. Dr. Suparman Heru Santosa[butuh rujukan]: Bahasa Using diduga memisahkan diri dari Bahasa Jawa lainnya sejak abad ke-15 hingga 18, dengan demikian disaat Kerajaan Blambangan berdiri pun Dialek Using sudah mulai berkembang dan digunakan di Banyuwangi. [butuh rujukan] Sehingga ada beberapa kata pada Bahasa Using yang berasal dari Bahasa Jawa Pertengahan maupun Modern, serta adanya pengaruh Bahasa Bali yang agak signifikan terlihat dalam bahasa ini, seperti kosakata sing (tidak) dan bojog (monyet).

Osing Jawa standar
(Solo–Yogya)
Glosa
isun aku, kulå, ingsun saya
sun, hun tak-, dak-, sun (jarang, untuk sastra, contohnya sun gegurit) kata ganti orang (aku/saya)
hirå/irå, sirå, rikå, ndikå kowé, sampéyan, panjenengan, ndikå kamu
-isun, -nisun -ku, kulå (krama), -ingsun, -ningsun (jarang, untuk sastra, contohnya pepujaningsun) akhiran aku
-irå, -nirå, -rikå, -nrikå -mu, panjenengan (krama), -irå, -nirå (jarang, untuk sastra) akhiran kamu
-é, -né -é, -né (ngoko), -ipun, -nipun (krama) -nya
-akên -aké (ngoko), -akên (krama) -kan
di- di- (ngoko), dipun- (krama) di-
iyané, yané dheweke dia
dhewek dhewe sendiri
bain
(byaén)
baé, waé saja
soren wingi, sore kemarin, sore
soren bengi wingi bengi kemarin malam
sorene maning, wingenane (wingyenane') wingenane kemarin dulu
kesuwun matur nuwun terima kasih
aran jeneng (lebih umum), aran, nåmå/nami, asmå nama
aranisun jenengku (lebih umum), aranku nama saya
aranirå, aranrikå jenengmu (lebih umum), aranmu nama kamu
lare bocah, lare anak
wong wong orang
iki
(ikai)
iki, punikå, puniki ini
iku
(ikau)
iku, kuwi, punikå, puniku itu
ikå ikå, aku kae, punikå itu (jauh)
gedigi, digi
(gedigai, kadi iki)
ngene, mangkene begini
gedigu, digu
(gedigau, kadi iku)
ngono, mangkono begitu
dulur sêdulur saudara
arêp, nak arêp akan
maning manèh lagi
emong emoh tidak mau, enggan
acak jajal coba
ulih olèh dapat
ilu, milu, nutut mélu, tumut, ngetut ikut
uwah, robah (robyah) owah berubah
umah (umyah) omah rumah
lebih luwih lebih
paran, paen åpå apa
ånå paran ånå åpå ada apa
paran maning åpå manèh apalagi
endi (êndai) endi mana
kêlêndi (kêlêndai) kêpriyé, piyé bagaimana
wayakêndi, kapan kapan kapan
apuwå kenå ngåpå kenapa, mengapa
såpå, håpå såpå siapa
pirå, sekendi(an) pirå berapa
påcå sidå jadi
sakat wiwit, kawit sejak, semenjak
bêngen biyen dahulu
sampek, taker nganti, ngasi sampai
åjå åjå jangan
sing, hing ora, mboten tidak
taping, naming nanging, ananging namun, tetapi
nånå, sing ånå, hing ånå ora ånå tidak ada, tiada
sing paran-paran, hing paran-paran, madak paran-paran ora åpå-åpå tidak apa-apa, tidak mengapa
sing biså, hing biså ora biså, mboten saged tidak bisa
sing gunå, hing gunå ora gunå, ora migunani tidak berguna
sing kuat, hing kuat ora kuwat tidak kuat
durung durung belum
dudu dudu, sanes bukan
parêk cêdhak, cêrak dekat
golek, golet golek mencari
sulung, hulung, lung dhisik, sik dulu
mau, maukå, mukå mau, wau tadi
engko mengko nanti
mung, cumong mung, amung, namung hanya, cuma
kanggo kanggo untuk
munggah munggah naik
mudhun mudhun turun
jero, jeru jero, jeru dalam
njåbå njåbå, njawi luar
cethèk cêthèk dangkal
weruh, wuningå weruh, uningå tahu
sedhelå, sedhilut sadhélå, sakêdhap sebentar
njuwut, ngampèt njupuk mengambil
kakang, kang kakang, kangmas, kang, mas kakak laki-laki, abang
mbok mbakyu, mbak, yu kakak perempuan
tuwek tuwå tua
apak bapak, båpå, råmå ayah
emak ibu, mak, biyung, simbok ibu
anang embah lanang, éyang kakung, kaki kakek
adon embah wadon, éyang putri, nini nenek
bacot
(byacot)
irung hidung
bau
(byau)
pundhak bahu
sikil sikil kaki
kéné, meréné kéné, mréné sini, ke sini
kånå, merånå kånå, mrånå sana, ke sana
melebu mlebu masuk
wetu, metu wetu, metu keluar
melaku
(melakau)
mlaku berjalan
melayu
(melayau)
mlayu berlari
perèi prèi libur
seperéné sepréné hingga saat ini
seperånå seprånå hingga saat itu
gerabah (geryabyah) grabah gerabah
cemepak cumepak tersedia
elom ngelih, luwé lapar
cupar sujånå, butarepan cemburu
lumur gelas gelas
aju banjur, lajêng lalu, kemudian
menyang lungå pergi
njelasakên, nerangakên nerangaké (ngoko), nerangakên (krama) menjelaskan, menerangkan
ngomongakên ngomongaké (ngoko), ngginemakên (krama) membicarakan
nyebarakên nyebaraké (ngoko), nyebarakên (krama) menyebarkan
nggeningakên ngêjaraké, ngumbaraké, ngêbènaké membiarkan
nggunakakên nggunakaké (ngoko), ngginakakên (krama) menggunakan
nganakakên nganakaké (ngoko), ng(a)wontênakên (krama) mengadakan
ngêrungokakên ngrungokaké (ngoko), mirêngakên (krama) mendengarkan
mêlêcirakên ngluncuraké meluncurkan
picis dhuwit uang
kêmêthak umuk, kumaki, kuminter sombong, sok tahu
deleng, dileng deleng, delo(k), dulu lihat
hang, kang sing, kang yang
magih isih masih
makene
(myakenè)
kareben, ben, supåyå, amrih, murih agar, supaya
muni muni berbunyi
mulih mulih, bali pulang
kecaruk kêpêthuk, ketemu bertemu
katon katon terlihat, tampak
lanang lanang laki-laki
wadon wadon perempuan
jêbeng, beng
(jêbyeng, byeng)
gêndhuk (ndhuk), dhènok (nok) sebutan untuk anak perempuan
thulik, lik tholé (lé), ênggèr (ngger), kenang (nang) sebutan untuk anak laki-laki
takon takon bertanya
talar, nalar bantah, mbantah bantah, membantah
ring, nong ing di
ring endi, nong endi ing endi, ning endi di mana
nyang mênyang, nyang, mring ke
tekå' såkå dari
kadhung, adhung, dhung yèn, nèk kalau
gok ånådéné, yèn, bilìh bahwa, kalau
kathik nganggo memakai, menggunakan
kåncå kåncå teman
ånå ånå ada
madhang
(madhyang)
mangan, madhang makan
mêmêngan, mêngan dolan, amêng-amêng bermain
késuk sésuk besok
wérå jêmbar, åmbå, bawérå luas
saiki saiki sekarang
sabrang (sabryang) télå rambat ubi jalar
sawi (sawai) télå pohung ubi kayu
sawen, sayur sawi sawi
entèk entèk, telas habis
wis wis, sampun sudah
èdhèng (èdhyeng), alon alon, rindhik pelan, perlahan
mari bar, rampung selesai
nawi
(nawai)
mênåwå, mênawi barangkali
jumbul jumbul, mecungul muncul
ambi karo, kambi dengan
masiyå, ambekenå sênajan, sanadyan walaupun
kêneng kênå mengenai
kari nemen/temen, tenan, banget, kliwat sangat, benar-benar, terlalu
kari alon kliwat alon, alon banget terlalu pelan, sangat pelan
kari sing kuat, sing kari kuat ora kuwat banget, ora kuwat tenan, kliwat ora kuwat sangat tidak kuat, benar-benar tidak kuat, terlalu tidak kuat
buru lagi (men)tas, lagiyan, lagi waé baru saja
bangur (byangur) angur, luwung, mendhing lebih baik
wêlas tresnå cinta
gubab (gubyab) ngapusi bohong
gêsah kåndhå, ngomong, nggunêm, jagongan berbicara, mengobrol
janggêt kêlet menempel
kêpus têlês, kêbês basah
laki/rabi bojo, garwå suami/istri
lakinisun/rabinisun bojoku, garwaku suamiku/istriku
ijèn (ijyen) ijèn sendiri, seorang diri
wurung wurung batal, tidak jadi
abang (abyang) abang merah
kelawu, belawu klawu abu-abu, kelabu
cêmêng irêng, cêmêng hitam
biru terong wungu ungu
kapuråntå jambon merah muda
sabrang êndhog jinggå, oranye jingga
getuh buthêk keruh
semångkå, belungking semångkå semangka
unyik, munyik, ngguyu ngguyu tertawa
uyab, muyab, guyon guyon bergurau
lor, elor lor utara
kulon kulon barat
wetan, etan wetan timur
kidul kidul selatan
anter banter keras, cepat
gancang (gyancang) ndang, age, gelis cepat
ndhuwur ndhuwur, nginggil atas
ngisor isor, ngisor bawah
dhuwur dhuwur, inggil, luhur tinggi
cendhèp cendhèk, endhèk rendah
dåwå dåwå panjang
enthek, menthek, cingkrek/cingkek, cendhek cendhèk, cekak pendek
jajang pring bambu
enggek, bengkek akèh banyak
ipet saithik, sithik, saipêt, saimêt sedikit
iwak iwak ikan
bajul båyå, bajul buaya
ulå ulå ular
banyak (byanyak) banyak angsa, soang
banyu (byanyu) banyu air
segårå segårå, laut laut
agep ambegan napas, bernapas
nguwèni, wèni ngwèhi, mènèhi memberi
såyå såyå, sangsåyå, tansåyå semakin, makin
eluh, iluh êluh air mata
endhas (endhyas), pathak endhas (dianggap kasar), sirah, muståkå kepala
cangkem cangkem (kadang dianggap kasar), tutuk mulut
lambé lambé bibir
gulu gulu leher
pakèl, kèlèk kèlèk ketiak
weteng weteng perut
geger geger punggung
kèmpol kèmpol betis
bangkik
(byangkik)
bangkèkan pinggang
dhengkul dhengkul lutut
untu untu gigi
abet solah tingkah lagak, tingkah
råndhå randhå janda
pudhot dhudhå duda
lancing jåkå bujang, lajang
rengit lemud nyamuk
urip urip hidup
murub murub hidup, menyala
angkat, ngangkat
(mulai, angkat)
wiwit mulai
marahi, nggarai maraki, njalari, nyababaké, nggarani menyebabkan
untab, mempeng
(marah, rajin)
nesu, muring, muntab marah
nggåwå nggåwå membawa
galapan
(gyalapan)
balapan lomba, balap
cengkal, wangkot wangkod, wangkal bandel, keras kepala
ngeloyong nglangi berenang
keloyong-loyong kédanan, kesengsem tergila-gila
sigunen ceguken, segunen cegukan
ambung, aras ambung cium
jumbleng peteng dhedhet gelap gulita
gosong, gempung gosong hangus
dalan, lurung (dyalan) dalan jalan
udan udan hujan
temebluk, gemeblug, cicir tibå jatuh
kaju, kajon kagum, gumun kagum, heran
getap jirih penakut
uman (umyan) uman, kumanan kebagian
reki sindap ketombe
selawasé salawasé selama-lamanya
beléthok endhut/lendhut, waled, blethok lumpur
lucu
(lucau)
lucu lucu
lunyu
(lunyau)
lunyu licin
liwat
(liwyat)
liwat lewat
endane, using tah
(endyané)
ah gèk mångså masa, masa iya?
parot simpen simpan
ladak
(ladyak)
umuk, ladak sombong, angkuh
serngéngé srengéngé matahari
serwiwi
(serwiwai)
suwiwi, lar sayap
ngawang mabur, miber terbang
jago
(jyago)
jago ayam jantan
babon
(byabon)
babon induk ayam, ayam betina
busek busek hapus, penghapus
åndhå åndhå tangga
woh woh buah
pelem, poh pelem, poh mangga
oyod, odod oyod akar
godhong godhong daun
abot abot berat
wanèn wani berani
wedèn wedi takut
dhoyong dhoyong condong

Pengaruh bahasa Bali

Osing Bahasa Bali Jawa standar
(Solo–Yogya)
Bahasa Indonesia
using, sing, uhing, hing tusing ora, mboten tidak
sawi (ke)sela sawi telå singkong
bojog bojog kethek, munyùk monyet

Pengaruh bahasa Inggris

Osing Bahasa Inggris Jawa standar
(Solo–Yogya)
Bahasa Indonesia
nagut not good ora apik, ora bêcik tidak baik
kari very temen, banget sangat
ngempos pause mandheg berhenti

Referensi

  1. ^ a b Darojatin, Elok (2020). "Pemertahanan Bahasa Using di Desa Serut Kecamatan Panti Kabupaten Jember (Kajian Sosiolinguistik)". Lingua: Jurnal Sastra, Bahasa, dan Pengajarannya. 16 (1). Semarang: Universitas Negeri Semarang. ISSN 2549-3183.
  2. ^ a b Hasbullah, Izur (2018). "Variasi Dialektal di Kabupaten Jember dan Banyuwangi Bagian Selatan". Jurnal Sapala. 5 (1). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya. Diakses tanggal 26 Juli 2025.
  3. ^ Bahasa Osing di Ethnologue (ed. ke-18, 2015)
  4. ^ https://www.ethnologue.com/language/osi. Diakses tanggal 4 Januari 2019.
  5. ^ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Bahasa Osing". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
  6. ^ "Bahasa Osing". www.ethnologue.com (dalam bahasa Inggris). SIL Ethnologue.
  7. ^ "Mataram vs Blambangan: Kisah Perang Yang Mengubah Peta Politik Jawa Timur". intisari.grid.id. Intisari. Diakses tanggal 26 Juli 2025.
  8. ^ a b "Projects > Javanese Dialectology > Osing Dialect". Jakarta Field Station. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-05-14. Diakses tanggal 2011-05-14.

Bacaan lanjutan

Pranala luar

Content Disclaimer

Informasi ini disarikan dari Wikipedia dan disajikan kembali untuk tujuan edukasi. Konten tersedia di bawah lisensi CC BY-SA 3.0. Kami tidak bertanggung jawab atas ketidakakuratan data yang bersumber dari kontribusi publik tersebut.

  1. The information displayed on this website is sourced in part or in whole from Wikipedia and has been adapted for the purpose of restating it. We strive to provide accurate and relevant information, however:
  2. There is no guarantee of absolute accuracy. Wikipedia is an open, collaborative project that can be edited by anyone, so information is subject to change.
  3. It is not intended to constitute professional advice. The content displayed is for informational and educational purposes only. For important decisions (e.g., medical, legal, or financial), please consult a professional.
  4. Content copyright. Wikipedia is licensed under the Creative Commons Attribution-ShareAlike License (CC BY-SA). This means that content may be reused with appropriate attribution and shared under a similar license.
  5. Responsible use. Any risk arising from the use of information from this website is entirely the responsibility of the user.